Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 26


__ADS_3

Sean yang masih kesal, melajukan mobilnya menuju bandara. Di mana sang mommy sudah menunggu untuk dijemput.



"Ken sialan! Bisa-bisanya dia bikin aku panas," gerutu Sean di dalam mobilnya. Sesekali ia memukul stir untuk meluapkan rasa kesalnya terhadap sahabatnya itu.



"Tapi, jika dipikir-pikir, kenapa aku harus marah? Aku 'kan tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Sri. Malah sebaliknya, seharusnya aku senang jika Ken benar-benar serius ingin mendekati Sri. Itu artinya nasib Sri akan menjadi lebih baik dan masa depannya akan terjamin bersama Ken," gumamnya lagi, dengan tatapan fokus menatap jalan.



"Namun, entah kenapa hatiku seperti tidak rela jika Ken menikah dengan Sri. Mungkin karena aku takut Ken akan mengkhianati Sri dan bukan karena aku cemburu," elak Sean, masih percaya diri bahwa dia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.



Tak terasa, mobil yang dikemudikan oleh Sean tiba di bandara internasional. Di mana Nyonya Helena sudah menunggu anak lelakinya itu dengan wajah menekuk.



"Mommy!" panggil Sean sembari tersenyum, menghampiri Nyonya Helena.



"Ish, kamu ini, Sean. Kenapa lama sekali? Kamu ingin Mommy jadi ikan asin, ya? Sudah cuacanya panas begini, ditambah polusi udara yang membuat dada Mommy terasa sesak," gerutu Nyonya Helena.



"Maafkan aku, Mom." Sean terkekeh. Ia lalu meraih barang-barang milik sang Mommy kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil.



Setelah selesai, Sean lalu menghampiri sang Mommy dan menuntunnya memasuki mobil miliknya. "Hati-hati, Mom. Awas, kepala!"



Nyonya Helena menghela napas lega. Ia menyandarkan punggungnya lalu mencoba memejamkan mata.



"Kita ke mana, Mom? Apartemen atau kediaman Gail?" tanya Sean yang sudah bersiap melajukan mobilnya ke mana pun Nyonya Helena memerintahkan.



"Sepertinya apartemen saja. Sekarang Mommy merasa tidak enak kalo kelamaan nginap di rumah Gail. Beda sama dulu, ketika dia masih sendiri," ucap Nyonya Helena.



Sean tersenyum tipis. Ia lega karena setidaknya sang mommy tidak akan bertemu dengan Lea dalam waktu dekat. Ia takut Lea keceplosan dan buka suara soal pernikahannya bersama Sri.



"Baguslah kalau begitu," sahut Sean.



Nyonya Helena melirik anak lelakinya itu. "Kenapa kamu tampak begitu senang, Sean? Apakah karena Mommy tidak menginap di rumahnya Gail?"



"Tidak, Mom. Bukan begitu."



Sean pun kembali fokus pada kemudinya dan melaju menuju apartemen milik sang Mommy. Di perjalanan, Sean secara tidak sengaja berpapasan dengan Anya yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan rutin untuk penyakit asmanya.



Anya tersentak kaget dan berniat membuntuti mobil lelaki itu untuk yang kesekian kalinya. Sementara Sean, karena terlalu fokus pada kemudinya hingga ia tak menyadari bahwa Anya tengah mengikuti dari belakang.


__ADS_1


"Ikuti terus dia, Pak. Aku ingin tahu siapa yang berada di mobilnya. Apakah itu istrinya?"



"Sepertinya bukan, Non Anya. Tapi, entahlah. Saya tidak bisa melihatnya dengan jelas dari sini," jawab pak sopir tersebut.



Sean membelokkan mobilnya ke arah sebuah apartemen mewah yang berdiri di tengah kota. Anya meminta pak sopir untuk berhenti di depan apartemen mewah tersebut lalu memperhatikan Sean dari kejauhan.



"Siapa yang tinggal di sini? Apa mungkin Sean kembali membelinya untuk gadis kampung itu?" gumamnya sambil menatap lekat ke arah apartemen tersebut.



Tidak berselang lama, mobil Sean pun terbuka dan tampaklah seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil tersebut. Anya tersentak kaget setelah menyadari bahwa wanita paruh baya yang ikut bersama Sean adalah nyonya Helena. Mommy dari kekasihnya tersebut.



"Ah, aku pikir dia gadis kampung itu. Ternyata Nyonya Helena." Anya menarik napas lega kemudian menghembuskannya kembali.



Anya terdiam sejenak kemudian menyeringai. Sebuah ide gila tiba-tiba terlintas di kepalanya.



"Hmm, baguslah kalau Nyonya Helena sudah berada di sini. Jika Sean mulai macam-macam kepada gadis kampung yang jelek itu, maka aku akan menceritakan semuanya kepada Nyonya Helena. Biar dia yang bertindak, sementara aku akan duduk manis menyaksikan semuanya," ucapnya.



Setelah merasa tenang, Anya pun memutuskan untuk pulang.



"Kamu tidak mau nginep di sini, nemenin Mommy, Sean?"




"Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan!" ucap Nyonya Helena, mengingatkan.



Setelah berpamitan, Sean pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kediamannya.



Sementara itu, di kediaman Gail.



"Sayang, malam ini kamu harus temenin aku!" ucap Lea yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.



"Temenin kamu? Memangnya kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Gail lalu berjalan menghampiri Lea.



"Aku ingin menemui Sean. Aku harus bicara empat mata dengan bocah tengil itu!" sahut Lea sambil mendengus kesal.



Gail terkekeh. "Bocah tengil? Ya, ampun. Kamu ini ada-ada saja."



"Aku kesal, Mas! Aku sangat-sangat kesal. Kamu tahu kenapa?" Lea memalingkan wajahnya dan kini pasangan itu saling lempar pandang.

__ADS_1



"Kenapa?" tanya Gail sembari merapikan rambut Lea dan meletakkannya ke samping telinganya.



"Apa kamu tahu? Sepupumu itu berniat menceraikan Sri! Sementara Sri tengah mengandung anaknya, Mas. Nyebelin, 'kan?"



"Apa? Kamu serius, Sri hamil?" pekik Gail dengan alis berkerut.



"Ya iyalah, Mas! Coba lihat mataku, apa aku sedang berbohong padamu?"



Gail mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Sean akan setega itu kepada Sri, sementara Sri sendiri tengah mengandung benih dari sepupunya tersebut.



"Sean benar-benar keterlaluan! Sepertinya aku harus turun tangan," ucap Gail.



"Ya, tentu saja harus, Mas! Apa kamu tega membiarkan Sri menanggung semuanya sendiri? Sementara Sean bersenang-senang dengan wanita lain," geram Lea dengan begitu serius.



"Baiklah, kalau begitu kita temui Sean malam ini. Memang benar-benar harus dikasih pelajaran itu anak!" balas Gail sambil menggelengkan kepalanya.



Selang beberapa menit kemudian.



Setelah berpamitan kepada baby Al dan babysitter-nya, Lea dan Gail pun segera berangkat menuju kediaman Sean dan Sri.



Di kediaman Sean.



Sean tengah asik menikmati makan malamnya tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Sri. Sementara Sri hanya bisa menatapi punggung Sean dari kejauhan tanpa berani mendekat ke arah lelaki itu.



"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya soal kehamilanku ini kepada tuan Sean? Tapi ... bagaimana jika dia marah dan malah menyalahkan aku?" gumam Sri sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.



Setelah selesai menikmati makan malamnya, Sean pun bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan keluar dari ruang makan. Ia sempat berpapasan dengan Sri yang masih terdiam di depan pintu kamarnya. Sean juga menyadari ada yang beda dari raut wajah Sri kali ini. Namun, ia sama sekali tidak peduli dan terus melangkahkan kakinya melewati gadis itu.



"Tu-Tuan Sean!" panggil Sri dengan ragu dan terbata-bata.



"Ya?" Sean menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Sri. "Ada apa?"



Sri menggulung-gulung ujung piyamanya dengan tatapan yang masih tertuju pada lelaki itu. Sri merasa bibirnya terasa begitu berat untuk digerakkan. Padahal sebelumnya ia sudah sangat yakin untuk menceritakan semuanya kepada lelaki itu.



"Sri?" panggil Sean lagi.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2