
Setelah mengantarkan Anya pulang, bukannya kembali ke rumah, Sean malah melajukan mobilnya menuju sebuah club malam. Padahal malam sudah semakin larut dan lelaki itu terus memacu kecepatan mobilnya hingga dalam beberapa menit saja, ia sudah tiba di depan sebuah club malam yang terletak di tengah keramaian kota.
Setelah memarkirkan mobilnya, Sean pun bergegas masuk. Terdengar suara hentakan musik yang menggema hingga ke seluruh ruangan. Lampu dansa berkelap-kelip, menambah keseruan bagi para peminatnya. Di antara keramaian pengunjung, tampak para ladies dengan pakaian seksi tengah asik melayani para lelaki hidung belang yang butuh kehangatan.
Dua orang ladies berpakaian minim berjalan menghampiri Sean. Kedua ladies itu memasang senyum semanis mungkin agar Sean tertarik kepada mereka.
"Sayang, sepertinya kamu butuh teman untuk bercerita. Bercerita lah kepada kami, kami siap mendengarkan seluruh keluh kesahmu," ucap salah satu dari mereka kepada Sean.
Kedua wanita itu mendekat dan tangan mereka pun mulai nakal. Bergerak liar di tubuh kekar Sean. Sean tersenyum miring lalu menepis tangan kedua ladies itu dari tubuhnya. Walaupun terkenal sebagai seorang playboy, tetapi Sean pilih-pilih soal wanita.
"Tidak, terima kasih atas tawarannya. Aku ke sini hanya untuk minum saja, tidak lebih," jawab Sean yang kemudian mencoba meninggalkan kedua wanita itu. Namun, lagi-lagi mereka menghalau langkah Sean.
"Kalau begitu, biarkan kami menemanimu minum," balas wanita itu.
"Heh! Pergi-pergi, jangan ganggu dia!"
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, datang menghampiri. Ia menghalau kedua ladies itu lalu mengusirnya.
"Ish, Tuan Ken. Kami 'kan belum dapat satu pelanggan pun malam ini," rengeknya dengan manja.
"Cari yang lain saja!" balas pria yang bernama Kenzo Raymond tersebut sembari menghampiri Sean. Kedua wanita seksi itu pun segera pergi dengan membawa rasa kecewa di hati mereka.
Sepeninggal kedua ladies itu.
"Apa kabarmu, Sean? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," tanya Ken sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Sean.
Sean pun segera menyambut uluran tangan pria itu sembari menyunggingkan sebuah senyuman hangat.
"Baik. Bagaimana denganmu. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan tidak bisa menikmati waktuku sama seperti dulu," jawab Sean.
Tanpa Sean sadari, kesibukannya dengan dua orang wanita sekaligus, membuat ia melupakan kehidupan malam yang dahulu hampir tidak pernah absen ia kunjungi. Ken adalah pemilik club malam tersebut. Karena terlalu sering berkunjung ke tempat itu, mereka pun akhirnya saling mengenal dan berteman dengan sangat baik.
"Hmm, saking sibuknya, kamu bahkan sampai melupakan sahabatmu ini," celetuk Ken sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ah, tidak mungkin lah," balas Sean sambil tertawa pelan.
"Sebaiknya kita duduk di sana, Sean."
"Baiklah."
Ken mengajak Sean untuk duduk di sebuah meja kosong yang terletak di salah satu sudut ruangan. Sean segera menjatuhkan diri di kursi, begitu pula Ken. Pemilik club itu lalu memanggil salah satu waitress dan meminta wanita itu untuk mengambilkan minuman untuk mereka berdua.
"Apakah kamu masih bekerja di perusahaan milik sepupumu, Sean?" tanya Ken, kembali membuka percakapan mereka.
Sean menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak. Gail sudah kembali ke perusahaannya dan sekarang perusahaan itu sudah berada di bawah kendalinya lagi," jawab Sean.
"Oh," sahut Ken singkat.
Ken memperhatikan ekspresi wajah Sean yang terlihat kusut dan ia tahu ada yang tidak beres, yang sedang terjadi pada sahabatnya itu.
"Kamu kenapa, Sean? Ada masalah?" tanya Ken.
Sean menghembuskan napas berat. "Aku bingung, Ken."
"Kekasihku, Anya, memintaku agar segera menikahinya," sahut Sean sambil mengusap wajahnya.
Ken terkekeh pelan. "Lah, 'kan bagus itu. Lagi pula, sudah cukup bersenang-senangnya. Kini saatnya buat kamu menjalin hubungan yang lebih serius. Menikah dan punya anak," goda Ken sambil menepuk pelan pundak Sean.
Sean mendengus. Lagi-lagi ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Iya, tapi masalahnya aku sudah menikah, Ken. Aku sudah punya istri," jawab Sean.
"What? Apa aku tidak salah dengar, Sean? Kamu sudah menikah?" Ken tersenyum miring. "Sejak kapan kamu menikah? Kenapa aku tidak tahu?"
"Ceritanya panjang, Ken." Sean lalu menghembuskan napas berat.
"Sebentar-sebentar! Jadi, serius kamu sudah menikah?" pekik Ken dengan mata membola. Ia tidak percaya bahwa sahabatnya itu sudah menikah dan tidak memberitahu dirinya soal itu.
Sean menatap Ken dengan wajah malas. Seolah mengatakan bahwa apa yang ia katakan barusan adalah kebenaran dan bukan mengada-ada. Lagi-lagi Ken tersentak kaget. Ia tidak menyangka bahwa Sean benar-benar serius mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sean. Kapan kamu menikah? Kenapa aku tidak diundang?" tanya Ken yang mulai protes karena dirinya sama sekali tidak tahu soal pernikahan itu.
"Kamu mau aku cerita atau tidak, Ken? Jika tidak, ya sudah, lupakan saja." Sean menekuk wajahnya.
"Oh, oke, baiklah. Sekarang ceritakan lah," sahut Ken.
"Malam itu ...."
Sean menceritakan semua yang terjadi pada malam naas itu. Di mana ia bertemu Sri dan melakukan hal tidak senonoh itu kepadanya. Ken terkejut bukan main. Ia tidak menyangka bahwa Sean akan mengalami nasib sesial itu.
"Ya, Tuhan!" Ken menggelengkan kepala.
"Sekarang tutuplah mulutmu, Ken. Aku tidak ingin siapa pun tahu soal ceritaku ini. Benar-benar memalukan," ucap Sean mengingatkan.
Ken menyentuh bibirnya. "Ya, aku akan menutup mulutnya. Percayalah," jawabnya.
"Jadi, di mana istrimu itu sekarang?" lanjut lelaki itu.
"Dia di rumah dan kami tetap melakukan kegiatan kami seperti biasa, tidak ada kontak fisik dan tanpa saling peduli satu sama lain," tutur Sean.
"Apakah kamu mencintai gadis itu?" tanya Ken dengan begitu serius.
Sean tersenyum miring. "Tentu saja tidak! Dia itu hanya gadis kampung dan sama sekali bukan tipeku," jawabnya dengan yakin.
"Kalau begitu, ceraikan saja dia lalu nikahi Anya. Apa susahnya?" celetuk Ken.
"Memang mudah mengatakannya, Ken. Aku sudah berjanji pada pamannya di kampung bahwa aku akan menjaga gadis itu. Ya, setidaknya dia hidup dengan nyaman bersamaku tanpa kekurangan apa pun," jawab Sean lagi.
"Ya ampun, Sean. Itu bukanlah solusi yang tepat. Jika kamu mempertahankan pendapatmu yang seperti itu, maka banyak hati yang akan terluka. Anya, gadis itu dan kamu juga pastinya." Ken mencoba mengingatkan.
"Entahlah, Ken. Aku sudah pusing dan tidak ingin semakin pusing dengan hal itu. Sebaiknya temani aku minum malam ini dan biarkan aku melupakan masalahku itu untuk sejenak," tutur Sean.
Ken hanya bisa menghembuskan napas berat sambil menatap wajah kusut Sean. Tepat di saat itu, seorang waitress datang menghampiri dengan membawa minuman yang dipesan oleh Ken sebelumnya lalu meletakkan benda itu ke atas meja. Setelah itu mereka pun segera menikmatinya sambil sesekali tertawa renyah.
__ADS_1
...***...