
"Terima kasih atas hari ini, Mas Sean," ucap Sri sambil tersenyum sebelum memasuki kamarnya.
"Sama-sama. Jangan kapok-kapok, ya. Kamu bisa ajak aku kapan saja kamu mau," jawab Sean sembari membalas senyuman Sri.
Sri membungkukkan sedikit badannya di hadapan Sean kemudian segera memasuki kamar. Sebelum menutup pintu ruangan itu, Sri sempat melemparkan senyumannya untuk Sean.
Sean berbalik lalu bersiap menuju kamarnya. "Tinggal menunggu beberapa menit lagi," gumamnya sambil tersenyum miring.
Sri yang sudah merasa sangat lelah, segera memasuki kamar mandi. Ia melepaskan pakaiannya yang dikenakan kemudian meletakkannya di atas lantai, secara sembarang.
Sri mengucurkan air yang berasal dari shower ke seluruh tubuhnya, tanpa terlewat se-inci pun. Kepala, rambut, dada, perut, kaki dan area pribadinya pun tak luput dari kucuran air di shower tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian.
Sri baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan ia pun bergegas menuju sebuah lemari kecil, di mana bathrobe dan handuknya tersimpan. Ia membuka lemari tersebut dan tiba-tiba matanya terbelalak. Deretan bathrobe yang tadinya tersusun rapi di dalam lemari, kini menghilang tanpa jejak. Tak satu pun terlihat di sana.
"Bathrobe?! Di mana bathrobe-bathrobe ku? Perasaan, tadi pagi mereka masih berjejer di sini," gumam Sri sambil mengecek isi lemarinya.
Beruntung Sri masih menemukan sebuah handuk yang menggantung di belakang pintu kamar mandinya. Sri bergegas meraih handuk tersebut lalu menutupi bagian dada hingga ke paha.
"Ke mana bathrobe-bathrobe ku? Apa mungkin Bi Narsih yang memindahkannya. Tapi, ke mana? Tidak mungkin 'kan bathrobe-bathrobe itu berpindah sendiri?" gumam Sri dengan tergesa-gesa keluar dari kamar mandi dan kini berjalan menuju lemari penyimpanan pakaiannya.
Sri membuka pintu lemari dan untuk ke-dua kalinya ia kembali dikejutkan. Isi lemarinya lenyap tanpa jejak. Seluruh pakaian, surat-surat berharga serta uang simpanannya menghilang begitu saja.
"Ya, Tuhan! Di mana seluruh pakaianku?" pekiknya. "Ini pasti ada yang tidak beres," lanjutnya.
Sri bergegas menuju pintu utama dan setibanya di sana, Sri melongokkan kepalanya keluar dari pintu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan tak ada siapa pun di sana, Sri pun segera keluar dari ruangan kamarnya dengan hanya menggunakan handuk.
"Bi! Bi Narsih!" panggil Sri dengan langkah cepat menuju dapur.
Bi Narsih yang sedang sibuk membersihkan peralatan makan dan peralatan masak yang kotor, tersentak kaget lalu menghentikan pekerjaannya untuk sejenak.
"Hmm, akhirnya gadis itu menyadarinya," gumam Bi Narsih sambil tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sri sudah tiba di ruang dapur dan memasukinya dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Bi Narsih! Apa Bibi melihat pakaianku? Tiba-tiba saja semua pakaian, surat berharga serta uang tabunganku raib tiada sisa," tutur Sri dengan begitu antusias.
Bi Narsih menggelengkan kepalanya perlahan. "Maaf, Non. Bibi tidak tahu," jawabnya.
"Lah, masa sih, Bi? Masa iya seluruh pakaian serta surat berhargaku digondol maling? Gak mungkin juga 'kan?" celetuk Sri dengan bibir mengerucut menatap Bi Narsih.
Bi Narsih yang sejak tadi mencoba menahan tawa, akhirnya pun pecah dan membuat suasana hening di ruangan itu, mendadak jadi ramai dengan suara tawa Bi Narsih.
"Kenapa Bibi tertawa?" tanya Sri kebingungan melihat wanita paruh baya itu mendadak tertawa sendiri.
"Maaf, Non!" Bi Narsih mencoba menghentikan tawanya, tetapi tak juga berhasil. "Barang-barang milik Non Sri sudah digondol oleh Bibi lalu dipindahkan ke kamar Tuan Sean," lanjutnya yang berhasil membuat Sri tersentak kaget.
"Dipindahkan ke kamar tuan Sean? Tapi kenapa, Bi?" tanyanya dengan nada cukup tinggi. Tak percaya bahwa wanita paruh baya itu dengan iseng meletakkan semua barang-barang miliknya ke kamar Sean.
"Tuan Sean sendiri yang memintanya, Non—"
Di dalam kamar. Sean duduk di tepian tempat tidur sambil menatap pintu kamarnya. Ia tersenyum tersenyum lalu mulai menghitung.
"Satu ... dua ... ti—"
"Mas! Buka pintu!" Terdengar suara Sri sambil menggedor-gedor pintu kamar utama.
Sean terkekeh. "Benar 'kan?"
Lelaki itu lalu bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri pintu utama. Perlahan ia membuka pintu dan tampaklah wajah cantik Sri di depan kamarnya.
"Suitt! Suiiittt ...." Sean bersiul sambil menatap Sri dari ujung kaki hingga menjalar ke ujung kepala.
"Cantik!" gumamnya setelah menyadari kecantikan natural Sri saat itu. Rambutnya yang terurai panjang, wajahnya yang polos tanpa make up, kulit eksotisnya yang terlihat semakin glow, berhasil membuat Sean berdecak kagum.
"Ternyata Ken benar, cantik itu tidak harus selalu putih," gumamnya pelan, tetapi masih terdengar jelas di telinga Sri.
__ADS_1
Sri mendengus kesal sembari memegangi handuknya. Ia takut kalau tiba-tiba benda itu melorot dan membuat lelaki itu khilaf untuk yang ke-dua kalinya.
"Kenapa Mas memerintahkan bi Narsih untuk memindahkan semua barang-barangku ke sini?" tanya Sri sembari menerobos masuk lalu memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan seksama. Berharap menemukan salah satu benda miliknya.
Sean hanya tersenyum. Ia menyusul masuk lalu menutup pintu kamarnya. Bukan hanya sampai di situ, Sean juga mengunci pintu tersebut.
Klik!
Sontak Sri menoleh. Ia menatap Sean dengan mata membulat sempurna. "Kenapa pintunya dikunci?"
Sri berlari menuju pintu dan berusaha membuka pintunya dengan begitu panik. "Apa yang ingin kamu lakukan, Mas! Lepaskan aku! Biarkan aku keluar!"
Melihat kepanikan Sri, Sean pun segera mendekat lalu memeluk wanita itu dari belakang dengan begitu erat. "Husssh, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu!"
"Lepaskan aku! Dulu kamu pun mengatakan hal yang sama, tetapi apa buktinya?!" Sri masih panik karena rasa traumanya terhadap lelaki itu.
Sean semakin mempererat pelukannya. "Tenanglah, Sri. Jika kamu tenang, maka aku berjanji akan melepaskanmu."
Sri yang tadinya terus berontak di pelukan Sean, kini mencoba untuk tenang. Perlahan Sean melepaskan pelukannya lalu membalikkan badan Sri hingga mereka berdiri dengan posisi saling berhadap-hadapan.
"Sri, maafkan aku karena dulu pernah menyakitimu. Tapi, mulai sekarang aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Percayalah padaku! Dan lagi, aku ingin mulai malam ini kita tidur berdua di sini, di kamar ini, di tempat tidur yang sama."
"Apa?! Tapi—" tolak Sri.
"Tidak ada kata tapi! Kamu istriku atau bukan?" tanya Sean dengan begitu serius.
"I-iya!"
"Nah, jadi memang seharusnya kamu tidur di sini, bersamaku," tegas Sean lagi.
Sri tersenyum kecut sambil terus memegangi handuknya yang hampir saja melorot.
...***...
__ADS_1