
Satu jam berlalu, tetapi Sean masih belum tampak batang hidungnya. Semua orang mulai gelisah, terlebih keluarga besar Sri yang benar-benar mengharapkan kehadiran lelaki itu.
"Fix sudah, dia tidak akan datang!" Tanpa terasa buliran bening itu meluncur dari kedua sudut mata Sri. Sri menangis tanpa suara dan ia cukup kuat menahan rasa sesak di dalam dadanya.
Sementara itu.
"Ini sudah satu jam dan seperti yang saya katakan tadi, saya harus pergi sekarang." Pak Penghulu bangkit dari posisi duduknya lalu bersiap untuk pergi.
"Tunggu sebentar lagi, Pak. Mungkin sebentar lagi calon mempelainya akan tiba," bujuk Gail dengan wajah memelas. Sementara Mang Udin dan keluarga sepertinya sudah pasrah dan hanya menunggu sebuah keajaiban.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya sudah berjanji kepada warga desa sebelah untuk menikahkan anaknya," jawab Pak Penghulu.
Pak Penghulu berjalan keluar lalu menghampiri sepeda motor miliknya yang terparkir di salah satu sudut halaman. Namun, baru saja pria paruh baya itu menaiki benda tersebut, tiba-tiba mobil milik Sean tiba di sana dan membuat semua orang menghembuskan napas lega.
"Lihatlah, Sri! Sean sudah datang." Lea memeluk tubuh Sri sambil tersenyum penuh haru.
"Oh Tuhan, terima kasih." Tidak lupa Sri bersyukur. Ia begitu senang karena Sean sudah menepati janjinya. Ya, walaupun lelaki itu datang terlambat.
Sementara itu di halaman pesta.
"Itu dia calon pengantin prianya!" pekik Gail sambil tersenyum lebar menatap Mang Udin.
Mang Udin menarik napas dalam lalu menghembuskannya. "Oh, syukurlah. Aku pikir dia ...."
Mang Udin menghentikan ucapannya. Ia bergegas menghampiri Pak Penghulu yang tadinya bersiap untuk meninggalkan pesta pernikahan tersebut.
"Pak Penghulu, itu calon mempelai prianya sudah datang. Mohon acaranya dilanjutkan, Pak." Mang Udin memohon sambil memasang wajah memelas. Berharap pria paruh baya itu menyetujui keinginan kali ini.
Pak Penghulu pun dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Sebaiknya acaranya kita lanjutkan sekarang juga," ucap Pak Penghulu.
Pak Penghulu kembali ke posisinya bersama Mang Udin. Sementara Gail menghampiri Sean yang kini baru saja keluar dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu, Sean? Kenapa teleponku tidak diangkat?" tanya Gail dengan wajah serius menatap Sean.
"Ban mobilku tiba-tiba bocor, Gail. Aku terpaksa mendorongnya hingga beberapa kilometer jauhnya. Bayangkan, tidak ada satu pun bengkel mobil di sana," sahutnya sembari merapikan setelan jas yang ia kenakan.
"Aku harap kamu tidak berbohong."
"Loh, kenapa aku harus berbohong?" tanya Sean balik.
"Karena wajahmu tidak terlihat seperti orang yang baru saja mendorong mobil hingga berkilo-kilo meter jauhnya," celetuk Gail lalu berjalan mendahului Sean menuju tempat, di mana Mang Udin, Pak penghulu serta lainnya sudah menunggu kedatangan mereka.
Sean terdiam sejenak sambil mengelus tengkuknya. Ternyata tidak semudah itu membohongi Gail.
Setibanya di tempat acara.
"Duduklah, Nak Sean." Pak Penghulu mempersilakan Sean untuk duduk di hadapannya. Sementara yang lainnya duduk di sisi kiri dan kanan tubuh Sean untuk menyaksikan jalannya ijab kabul tersebut.
"Terima kasih, Pak. Maaf, saya telat karena tadi di jalan, tiba-tiba ban mobil saya bocor dan saya terpaksa mendorongnya hingga menemukan bengkel terdekat," jawab Sean.
"Loh, kenapa tidak meminta bantuan Nak Gail? Bukankah tadi dia sempat menghubungimu?" tanya Mang Udin heran.
"Ah, iya. Sebaiknya kita mulai saja acaranya, Nak." Mang Udin pun kembali bersemangat.
Beberapa menit kemudian.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Pak Penghulu menoleh kiri dan kanan, memastikan kepada para sakti bahwa ijab kabul yang diucapkan oleh sang mempelai pria sudah benar dan sah secara agama maupun hukum negara.
"Sah!" jawab para saksi secara serempak.
Semua orang tampak lega. Terlebih Sri yang kini sudah merasa tenang dengan perubahan statusnya. Tidak lupa ia mengucap syukur kepada Tuhan bahkan hingga berkali-kali.
Setelah acara ijab kabul selesai, kini pesta pernikahan itu pun kembali dilanjutkan. Sean duduk bersanding bersama Sri di atas pelaminan nan megah itu sambil menyambut kedatangan para tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka.
__ADS_1
Bukan hanya mengucapkan selamat, para tamu undangan yang sebagian besar adalah warga kampung tersebut, meminta berfoto bersama mereka. Mereka merasa bangga karena bisa berfoto selfie bersama Sean, lelaki berdarah campuran yang memiliki iris mata berwarna biru tersebut.
"Terima kasih, Tuan Sean," ucap Sri dengan pelan, setelah selesai menyalami para tamu undangan.
Sean mendelik. "Terima kasih untuk apa?" tanyanya dengan dingin, sama seperti biasanya.
"Terima kasih sudah menepati janjimu," jawab Sri, yang masih tidak ingin menatap wajah tampan lelaki itu.
Sean tersenyum miring. "Memangnya kamu pikir aku akan pergi dan mengingkari janjiku, begitu?"
Sri pun tersenyum tipis. "Hanya kamu dan Tuhan yang mengetahuinya," jawab Sri.
Sean terdiam dengan tatapan yang masih tertuju kepada Sri.
Tak terasa, sore pun menjelang. Hampir lima puluh persen tamu undangan sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, termasuk Gail dan Lea yang sudah kembali ke kota. Sementara lima puluh persen lainnya masih bertahan menikmati sisa acara pesta.
Bukan hanya para tamu undangan, pasangan pengantin baru itu pun sudah kembali ke kamar untuk beristirahat. Sean melepaskan jas yang sejak tadi ia kenakan kemudian meletakkannya ke sandaran kursi kayu yang ada di depan cermin rias.
"Aku lelah. Aku ingin istirahat," ucap Sean lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur baru yang sengaja dibeli oleh Mang Udin untuk mereka.
Sri yang masih sibuk melepaskan aksesoris, segera menoleh ke arah Sean yang sudah berselonjor di atas kasur empuk itu. Kedua tangan kekarnya diletakkan di bawah kepala dan digunakan sebagai bantal.
"Besok kita kembali ke kota. Aku sudah mempersiapkan rumah untuk kita tinggali bersama. Tapi ingat, pernikahan ini hanya kita yang tahu dan orang lain tidak perlu tahu soal itu," lanjutnya dengan pandangan yang tertuju pada langit-langit kamar.
"Ya. Baiklah." Sri kembali berbalik lalu fokus pada bayangannya di cermin.
"Dan satu lagi," lanjut Sean. Namun, kali ini Sri tidak ingin menoleh, sama seperti sebelumnya.
"Di rumah itu ada dua kamar, satu untukku dan satu lagi untukmu. Jadi, jangan berharap kita tidur di satu kamar yang sama sebab aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadapmu."
Sri tersenyum tipis. "Terserah apa maumu, Tuan Sean. Lakukan apa pun yang menurutmu benar," sahut Sri.
__ADS_1
Sean terdiam dan tak ingin menimpali. Ia melirik Sri untuk beberapa detik, kemudian kembali membuang pandangannya ke arah lain.
***