
"Sudahlah, Sean. Berhentilah, sebelum kamu mabuk berat," ucap Ken, mencoba mengingatkan Sean yang lagi-lagi lupa diri dan terus menenggak minumannya.
"Biarkan saja, Ken. Temani aku malam ini dan kita akan bersenang-senang!" sahut Sean sembari berdiri dari posisinya dengan tergopoh-gopoh. Sementara Ken hanya diam sambil menatap sahabatnya itu.
Sean berjalan ke lantai dansa sambil membawa botol minuman di tangannya. Ia mulai menari di sana, mengikuti alunan musik yang cepat sambil berteriak-teriak. Salah satu wanita malam datang menghampiri Sean kemudian ikut menari bersama lelaki itu.
Ken yang sejak tadi terus memperhatikan kelakuan sahabatnya itu, segera datang menghampiri. "Sebaiknya kamu pulang saja, Sean. Sebelum kamu benar-benar ambruk di tempat ini."
"Ayolah, Ken. Biarkan aku di sini. Aku masih ingin bersenang-senang," jawab Sean antara sadar dan tidak.
"Kamu hanya akan menyusahkan aku saja," celetuk Ken lalu menuntun Sean kembali ke meja mereka. Ken memastikan bahwa tak ada barang milik Sean yang tertinggal di sana dan setelah itu, ia pun mengajak Sean untuk kembali ke kediamannya.
"Aku masih ingin di sini, Ken. Please!" Sean memohon. Ia ingin menghabiskan malamnya di club tersebut. Namun, Ken tidak peduli. Ia terus menuntun sahabatnya itu keluar dari club menuju tempat parkir.
"Di mana kamu meletakkan mobilmu?" tanya Ken, ketika mereka tiba di tempat parkir.
"Di sana!" Sean menunjuk salah satu sudut parkiran dengan sembarang. Lelaki itu bahkan tidak ingat dengan jelas di mana ia meletakkan mobil kesayangannya itu.
Ck! Ken berdecak sebal.
"Di mana kuncimu?" tanya Ken sembari merogoh saku celana Sean.
"Di sini!" Sean menunjuk area pribadinya lalu terkekeh pelan. Sementara Ken semakin kesal saja melihat tingkah laku sahabatnya itu.
"Sepertinya bicara denganmu itu sia-sia saja, Sean. Saraf di otakmu sudah putus semua, makanya jawabanmu tidak ada yang nyambung," celetuk Ken dengan wajah menekuk.
Ken merogoh saku celana Sean lalu mengambil kunci mobil milik lelaki itu. Ia kemudian menekan tombol alarm dan akhirnya berhasil menemukan benda beroda empat tersebut.
"Ayo, Sean. Sekarang kita pulang," ucap Ken lagi.
"Ayolah, Ken ... aku masih ingin berada di sini," racau Sean.
Ken tetap menuntun Sean ke mobilnya dan dengan susah payah, akhirnya Ken berhasil memasukkan tubuh besar Sean ke dalam mobil mewah tersebut.
"Jangan bawa aku pulang, Ken. Aku masih ingin di sini. Please, temani aku!" Sean sempat berontak, tetapi kekuatannya saat itu tidak sebanding dengan kekuatan Ken yang masih dalam kondisi normal.
__ADS_1
"Tidak, Sean. Kamu harus segera pulang dan beristirahat," jawab Ken.
Ken segera melajukan benda beroda empat tersebut menuju kediaman baru Sean. Selang beberapa menit kemudian, ia pun tiba di sana. Sekali lagi, Ken menuntun Sean menghampiri pintu lalu mengetuknya dengan cukup keras.
Tok ... tok ... tok!
"Ish! Siapa sih malam-malam begini?" gerutu Sri yang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan dari pintu utama.
Sri melirik jam di dinding kamarnya dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dengan ragu-ragu Sri keluar dari kamar lalu memperhatikan pintu utama dari kejauhan.
"Siapa, ya?" Sri melirik ke lantai atas, di mana kamar utama berada. Namun, tak tampak siapa-siapa pun di sana.
"Apa mungkin itu Tuan Sean? Ah, menyusahkan saja," celetuknya lalu berjalan menghampiri pintu utama.
Terdengar lagi suara ketukan dari luar dan sekarang bunyinya jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Ya, sebentar!" jawab Sri dari dalam rumah dengan setengah berteriak.
"Siapa, Non?" Bi Narsih datang menghampiri. Wanita paruh baya itu pun terbangun karena mendengar suara ketukan tersebut.
"Entahlah, Bi. Apa mungkin itu tuan Sean?"
"Ehm, sebaiknya Non di sini saja. Biar Bibi yang bukain," lanjutnya sembari menahan langkah Sri yang ingin menghampiri pintu utama.
"Baik, Bi." Sri pun menghentikan langkahnya. Ia berdiri tak jauh dari posisi pintu utama dan memperhatikan bi Narsih yang sedang mengintip dari balik kaca.
"Siapa, Bi?" tanya Sri penasaran.
"Ternyata bener, Non. Itu tuan Sean dan temannya," jawab Bi Narsih.
Setelah memastikan siapa yang berdiri di balik pintu tersebut, bi Narsih pun bergegas membukanya dan mempersilakan kedua orang itu agar segera masuk ke dalam rumah.
"Mari, Tuan. Silakan masuk," ucap Bi Narsih.
Ken pun segera masuk sembari menuntun Sean yang sudah dalam kondisi setengah sadar.
__ADS_1
"Ke mana aku harus membawanya?" tanya Ken kepada Bi Narsih yang berjalan di belakangnya.
"Bawa saja dia ke atas. Biar dia bisa beristirahat dengan tenang di dalam kamarnya," sela Sri yang masih berdiri di posisinya dengan wajah ketakutan.
Entah kenapa, melihat Sean dalam kondisi mabuk seperti itu, mengingatkan Sri akan kejadian pada malam naas itu. Sri mulai menjaga jarak, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Baiklah," jawab Ken yang kemudian melirik ke arah Sri.
Tiba-tiba lelaki itu terdiam. Ia menatap Sri lekat tanpa berkedip sedikit pun. Lelaki itu begitu terpesona kepada Sri dan membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
"Tuan?" panggil Sri yang merasa heran karena Ken terus menatapnya dengan tatapan yang berhasil membuat Sri semakin ketakutan.
"Ah iya, maaf. Jadi, aku harus membawanya ke atas?" Lamunan Ken buyar dan ia pun segera menjawab panggilan Sri dengan terbata-bata.
Sri mengangguk pelan. "Ya."
Ken pun kembali menuntun Sean menuju kamarnya. Ketika melewati Sri, Ken sempat melemparkan senyum, akan tetapi Sri tidak membalasnya. Ia hanya diam sambil membalas tatapan lelaki itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup menguras tenaga, akhirnya Ken berhasil menuntun Sean kembali ke kamar utama yang ada di lantai atas. Setelah menidurkan sahabatnya itu, Ken pun bersiap untuk kembali ke club miliknya.
"Ehm ...." Ken menghampiri Sri yang masih berada di lantai bawah.
"Sean sudah tidur dan aku harus kembali," lanjutnya.
"Terima kasih, Tuan."
"Panggil aku Ken. Aku sahabatnya Sean. Kamu?"
Sri terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena selama ini Sean selalu mewanti-wanti dirinya agar tidak membocorkan rahasia pernikahan mereka kepada siapa pun.
"Aku ...."
"Ah, iya. Aku tahu, kamu istrinya Sean, 'kan?" sela Ken sambil tersenyum.
Sri mengerutkan alisnya heran karena ternyata Ken sudah mengetahui tentang hubungannya bersama Sean. "Loh? Kok, Anda bisa tahu?"
__ADS_1
"Sean sudah menceritakan semuanya kepadaku," jawab Ken.
...***...