
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dia melakukan itu lagi padaku? Eh, tapi kami kan sudah menikah. Jadi, tidak ada salahnya jika dia melakukan itu padaku. Tapi ... tapi aku masih trauma!" Pertemuan sengit terjadi di kepala Sri.
"Sri, kamu kenapa?" tanya Sean sembari memperhatikan Sri yang sejak beberapa detik yang lalu hanya terdiam seperti sebuah manekin hidup.
"Ah, tidak apa-apa!" Sri tersentak kaget. "Ehm, di mana kamu menyimpan barang-barangku? Aku harus segera berpakaian sekarang!" lanjutnya, masih memegang erat handuk yang melekat di dadanya.
Sean terkekeh. "Seperti itu saja kamu sudah cantik kok, Sri sayang."
Raut wajah Sri langsung berubah. "Tolong jangan macam-macam padaku, Mas. A-aku belum siap melakukannya sekarang," jawab Sri dengan terbata-bata.
Sean tertawa mendengar ucapan Sri barusan. "Kamu tenang saja, Sayang. Aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak mengizinkannya," jawab Sean.
"Sekarang katakan, di mana pakaianku?" tanya Sri yang masih belum percaya dengan ucapan lelaki itu.
"Di sana!" Sean menunjuk sebuah lemari pakaian berukuran besar yang berada di salah satu sudut ruangan.
Dengan ragu-ragu, Sri melangkahkan kakinya mendekati lemari tersebut. Kebetulan lemari itu memang tidak dikunci dan ia pun dengan mudah membukanya.
Sri melirik isi lemari tersebut sambil sesekali melirik Sean yang ternyata masih mengikuti langkahnya seperti bayangan. Tampak pakaian miliknya berjejer di sana, bersebelahan dengan pakaian milik Sean.
Sri memilih satu setel piyama tidur dari satin kemudian meraihnya. Namun, Sean merebut piyama tersebut kemudian mengembalikan setelan piyama tidur tersebut ke tempat asalnya.
"Ke-kenapa dikembalikan?" tanya Sri kebingungan.
Sean hanya diam sambil tersenyum menyeringai. Sementara tangannya meraih sebuah lingerie yang ternyata sudah dipersiapkan oleh lelaki itu sebelumnya.
"Kenakan ini saja. Pasti akan terlihat semakin cantik!"
"Apa?!" Sri tampak protes lalu meraih lingerie tersebut dari tangan Sean.
__ADS_1
"Lingerie?"
"Kenakan atau tidak sama sekali!" tegas Sean sambil menyeringai.
"Hei, yang ingin tidur di sini bukan aku! Tetapi kamu, Tuan Sean. Jadi, kamu tidak bisa membuat aturan sesuka hatimu," protes Sri.
Sean masih tersenyum dengan sebelah alis terangkat. "Aku tidak terima protes dalam bentuk apa pun," jawabnya singkat.
Sri menekuk wajahnya lalu meraih lingerie tersebut untuk ia kenakan. Ia membawa 'pakaian dinas' itu ke samping lemari lalu meminta Sean untuk tidak mengintipnya.
"Jangan mengintip! Aku sumpahin biar matamu bengkak tujuh hari, tujuh malam!" celetuk Sri dengan wajah yang masih cemberut.
Sean terkekeh mendengar sumpah Sri. "Oke, baiklah! Aku berjanji tidak akan mengintip. Aku tidak berani dengan sumpah serapahmu," sahut Sean.
Setelah beberapa menit kemudian, Sri pun selesai mengenakan lingerie tersebut. Wajahnya semakin menekuk setelah menyadari bagaimana penampilannya saat itu.
"Pakaian ini tidak lebih baik dari pada handuk yang aku kenakan tadi," ucap Sri, menatap tajam ke arah Sean.
"Hhh, gombal! Siapa yang dulu bilang bahwa aku jelek, kampungan dan bukan tipenya?!"
"Aku! Eh, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi, hehe," Sean tertawa getir mengingat kesalahannya beberapa waktu lalu kepada Sri.
Sean menghampiri Sri lalu mengajaknya ke tempat tidur. "Bukankah kita sudah sepakat untuk memulai hubungan yang baru? Jadi, tidak ada salahnya kita mulai dengan seperti ini. Saling mengenal lebih dekat satu sama lain dan belajar membuka hati. Bagaimana menurutmu?" ucap Sean dengan begitu serius.
Sri terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, baiklah. Aku pun setuju. Setidaknya untuk bayi kita," jawab Sri.
"Ya, demi bayi kita."
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
"Akh, kenapa perasaanku jadi seperti ini? Entah kenapa aku selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh wanita itu! Ehm, siapa namanya?" gumam Nyonya Helena sambil mondar-mandir di depan sofa. Ia lalu membuka laci kemudian meraih sebuah kartu nama yang diberikan oleh Anya tadi siang.
"Anya Vanessa," gumamnya lagi sambil menatap lekat kartu nama yang ada di dalam genggamannya tersebut.
"Baiklah, besok aku akan segera menemui wanita itu! Aku ingin memastikan ucapannya sekali lagi" lanjutnya dengan mantap.
***
Keesokan harinya.
"Ya Tuhan!"
Sri memekik kaget ketika menyadari ada sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya yang masih rata. Tangan berbulu berwarna hitam pekat itu terasa berat dan membuatnya agak kesulitan menarik napas. Perlahan Sri memindahkan tangan itu dan akhirnya berhasil membangunkan sang empunya tangan.
"Ada apa, Sayang? Aku dengar kamu menjerit. Atau hanya perasaanku saja?" tanya Sean sambil mengucek matanya.
"Bukan apa-apa, Mas. Aku hanya kaget melihat tanganmu berada di atas perutku. Maklum, aku belum terbiasa dengan ini semua. Semua ini begitu tiba-tiba dan terasa seperti mimpi saja," jawab Sri sambil tersenyum kecut.
"Nanti kamu pasti akan terbiasa dan mungkin kamu tidak akan bisa tidur tanpa aku di sampingmu," tutur Sean dengan penuh keyakinan.
Sean melirik jam dinding yang melekat di dinding kamar kemudian menyingkap selimut yang menutupi separuh tubuhnya dan Sri.
"Hari ini aku ada janji sama Gail. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan kepadaku," lanjut Sean sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Oh ya? Apakah itu lama?" tanya Sri sambil menatap lekat Sean yang kini berdiri di depan ranjang mereka.
Sean tersenyum menggoda. "Kenapa? Kamu kangen aku, ya? Tenang saja, Sayang. Tidak akan lama, kok. Paling siang aku juga sudah balik," jawabnya.
Sri hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkeinginan untuk menimpali ucapan lelaki itu.
__ADS_1
...***...