Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 15


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya pasangan itu tiba di rumah baru milik Sean. Di mana, tak seorang pun yang tahu bahwa dirinya akan tinggal di sana bersama Sri.


"Ini rumah yang baru saja aku beli untuk kita." Sean membuka pintu rumah itu dengan lebar dan membiarkan Sri masuk bersamanya.


Sri memperhatikan sekeliling rumah itu. "Jadi, kita akan tinggal di sini?"


"Ya. Tapi bukan berarti kita tidur di satu kamar yang sama," jawab Sean. Sean lalu menunjuk ke kamar utama yang terletak di lantai atas.


"Itu kamarku dan yang ini kamarmu," lanjutnya sembari menunjuk sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan kamar utama. Selain itu, kamar yang ditujukan oleh Sean untuk Sri terletak di dekat ruang dapur.


"Sudah jelas?" Sean melirik Sri yang masih terpaku menatap bangunan yang menurut gadis itu sangatlah mewah. Ya, walaupun ukuran dan kemegahannya sangat jauh jika dibandingkan dengan kediaman milik Gail.


"Ya," sahut Sri sembari menganggukkan kepalanya.


"Bagus. Kalau begitu aku ingin istirahat, tolong jangan diganggu!" Sean berlalu pergi. Lelaki itu berjalan dengan cepat menuju kamar utama yang terletak di lantai atas.


Sepeninggal Sean, Sri pun bergegas masuk ke dalam kamar yang tadi ditunjukkan oleh lelaki itu kepadanya. Sebuah ruangan yang jauh lebih kecil dan lebih sederhana jika dibandingkan dengan kamar utama. Kamar yang ditempati oleh Sean.


Sri tersenyum lega. Walaupun Sean tidak bersikap adil, setidaknya ia tidak perlu berbagi ranjang dengan lelaki itu.


"Ehm, akhirnya aku memiliki ranjang sendiri dan tidak perlu berdesak-desakan tidur bersama lelaki itu," gumam Sri sembari melemparkan tubuhnya ke kasur empuk berukuran single itu.


Tak terasa sore pun menjelang.


Seorang pelayan menghampiri kamar utama, di mana Sean masih berbaring di atas kasur empuknya sambil ber-chat ria bersama sang kekasih.


Tok ... tok ... tok!


"Tuan Sean, makan malam sudah siap," ucap pelayan itu sambil mengetuk pintu kamar tersebut.


"Ya, sebentar."

__ADS_1


Sean menghentikan aksinya. Kebetulan saat itu ia memang sudah merasa lapar. Sean bangkit dari posisinya lalu berjalan menghampiri pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih berdiri di depan pintu. Wanita itu mengangguk hormat lalu mempersilakan Sean untuk berjalan di depannya.


"Apakah saya harus memanggil istri Anda, Tuan?" tanya pelayan itu.


"Tidak, tidak usah. Setelah aku selesai makan malam, baru kamu panggil dia. Aku tidak ingin makan bersama wanita itu," sahut Sean yang berhasil membuat wanita paruh baya itu menjadi kebingungan. Walaupun begitu, ia tetap menurut dan tak ingin bertanya lebih jauh.


"Baik, Tuan."


Sean menyantap makan malamnya sendirian, tanpa siapa pun menemani. Hingga setelah beberapa menit kemudian, Sean pun menyelesaikan makan malamnya.


"Panggil wanita itu sekarang dan suruh dia makan," ucap Sean sembari bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan ke luar dari ruangan itu.


"Baik, Tuan."


"Nona Sri, makan malam sudah siap."


"Ehm, iya sebentar," sahut Sri dari dalam kamar. Sri yang baru saja selesai merapikan tempat itu, bergegas membuka pintu lalu tersenyum menatap wanita paruh baya tersebut.


"Mari, Nona."


Sri pun tanpa canggung mengikuti langkah pelayan itu menuju ruang makan. Setibanya di sana, Sri menatap heran karena tak tampak lelaki berdarah campuran itu di meja makan.


"Ehm, Bi. Di mana Tuan Sean?" tanya Sri kepada pelayan itu.


"Ehm, itu ...." Pelayan itu tampak ragu-ragu ingin menceritakan yang sebenarnya kepada Sri. "Tuan Sean sudah makan, Non. Jadi, sekarang tinggal Non aja yang belum makan," jelas wanita paruh baya itu.


"Oh, sekarang aku mengerti maksud Bibi," ucap Sri sembari mengangguk pelan. Sekarang ia tahu bahwa ternyata Sean tidak ingin makan malam bersama dirinya.

__ADS_1


"Maaf, Non." Wanita paruh baya itu tampak sedih.


"Tidak apa-apa. Oh ya, Bibi sudah makan? Temenin aku makan yuk, Bi," ajak Sri.


Wanita paruh baya itu menggeleng pelan. "Jangan, Non. Bibi tidak enak," jawabnya.


"Ish, tidak apa, Bi. Lagi pula, posisiku di rumah ini mungkin sama saja seperti Bibi. Jadi, Bibi tidak perlu merasa sungkan sama aku," tutur Sri.


Setelah membujuk dengan susah payah, akhirnya wanita paruh baya itu pun bersedia menemani Sri makan malam di ruangan tersebut.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, Sean sudah terlihat berpakaian rapi. Lelaki itu tercium sangat wangi. Bahkan, Sri yang berdiri di lantai bawah saja, sudah bisa mencium aroma wangi dari parfum yang dikenakan oleh lelaki bermata biru tersebut.


Tampak Sean berjalan dengan langkah cepat menuruni anak tangga dan akhirnya lelaki itu berhasil mencapai lantai dasar. Sean sempat melirik Sri yang baru saja keluar dari dalam kamar.


Namun, hanya sebentar saja. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman depan rumah tersebut. Begitu pula dengan Sri. Ia tidak terlalu mempedulikan apa pun yang akan dilakukan oleh lelaki itu.


Setibanya di halaman depan.


Sean meraih gagang pintu mobil dan berniat memasuki benda itu. Namun, tiba-tiba Sean menghentikan aksinya. Ia mengurungkan niatnya kemudian berbalik menatap Sri yang baru saja menginjakkan kakinya di halaman tersebut.


"Oh ya, mungkin hari ini aku akan pulang terlambat. Aku harap kamu tidak perlu mencemaskan aku. Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan di rumah ini. Tidak usah menunggu persetujuan dariku," tutur Sean.


Sri mengangguk pelan dengan wajah datar. "Ya, terserah padamu. Lagi pula, hari ini aku harus kembali bekerja dan tidak akan kembali sebelum jam 5 sore," jawab Sri.


"Oh, baguslah kalau begitu." Sean menarik gagang pintu kemudian segera masuk ke dalam mobil. Tanpa mempedulikan Sri, Sean melajukan benda itu menuju ke suatu tempat.


Sepeninggal Sean, Sri pun bergegas menuju butik milik Lea dengan menggunakan sebuah taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2