Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 20


__ADS_3

Dreett ... dreett ... dreeettt!


Dengan cepat Sean meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas. Ia berharap panggilan itu dari Anya karena sudah hampir satu minggu wanita itu mengacuhkan dirinya.


Sean membelalakkan netranya tatkala melihat nama Anya tertera di layar benda pipih itu. Keinginannya menjadi kenyataan dan ia begitu bahagia dibuatnya.


"Anya? Yess!"


Bergegas Sean menerima panggilan dari kekasih hatinya itu. Ia meletakkan benda pipih tersebut ke samping telinganya lalu memulai pembicaraan mereka.


"Hallo, Anya?" sapanya dengan begitu antusias.


"Hallo, Sean. Sean, aku ingin membicarakan soal kejelasan tentang hubungan kita. Temui aku di kafe XX sekarang juga," sahut Anya dengan nada suara yang terdengar sangat dingin.


"Baik-baik, aku akan segera ke sana! Tunggulah sebentar, aku janji tidak akan lama."


Belum selesai Sean melepaskan rindu bersama Anya, tiba-tiba panggilan itu diputuskan oleh Anya sendiri.


"A-Anya? Hallo, Anya? Ck!" Sean berdecak sebal lalu bangkit dari posisinya.


"Baiklah, Sean! Sekarang ini kesempatanmu. Jangan pernah biarkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja," lanjut Sean sembari meraih jaket denim miliknya yang menggantung di dalam lemari pakaian.

__ADS_1


Setelah berhasil mengenakan jaket tersebut, Sean pun bergegas keluar dari kamar utama dan berjalan dengan langkah cepat menuju halaman depan.


Sri yang saat itu tengah asik dengan ponselnya di ruang utama, hanya bisa menggelengkan kepalanya sebab suaminya itu pergi lagi tanpa mempedulikan dirinya.


"Ya, Tuhan! Beruntung aku memiliki stok kesabaran yang tiada batas untuk menghadapi laki-laki seperti dia," gumam Sri sambil mengelus dada.


Sean tiba di halaman depan dan tanpa pikir panjang, lelaki itu segera masuk ke dalam mobil. Ia kemudian melajukan benda itu menuju kafe XX, di mana Anya sudah menunggu kedatangannya.


Setelah beberapa menit kemudian.


Sean tiba di depan kafe XX lalu segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak kafe tersebut. Setelah selesai memarkirkan benda itu, Sean pun bergegas masuk dan mencari keberadaan Anya.


"Di mana dia?" Sean mengedarkan pandangannya hingga kedua netranya terhenti pada sosok cantik yang kini tengah melambaikan tangan ke arahnya.


Sean melebarkan senyum lalu bergegas menghampiri meja Anya yang terletak di salah satu sudut ruangan.


"Silakan duduk, Sean," ucap Anya, setibanya lelaki itu di sana. Ia mempersilakan Sean untuk duduk di salah satu kursi kosong yang terletak tepat berhadapan dengannya.


"Terima kasih, Anya." Sean senang bukan main karena akhirnya wanita cantik itu bersedia menemuinya lagi. Ya, walaupun Sean sadar bahwa Anya masih tampak kesal kepadanya.


"Ada apa, Anya? Apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" tanya Sean tanpa ingin berbasa-basi.

__ADS_1


Anya menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. "Aku ingin kejelasan soal hubungan kita, Sean. Sekarang putuskan, apakah kamu ingin kita melanjutkan hubungan ini atau kita sudahi saja sampai di sini?" sahut Anya sembari menatap lekat kedua netra indah milik Sean.


"Tentu saja aku ingin melanjutkan hubungan kita, Anya. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Jujur, aku sangat takut kehilanganmu," tutur Sean dengan begitu serius.


"Jika kamu ingin melanjutkan hubungan kita, maka ceraikan wanita jelek itu! Lamar aku dan kita menikah secepatnya. Bagaimana? Jika kamu tidak setuju, maka sebaiknya kita sudahi saja hubungan kita ini," lanjut Anya dengan wajah datar.


Sean terdiam sejenak sambil berpikir keras. Sean bimbang, ia ragu ingin menceraikan Sri. Namun, ia juga tidak ingin melepaskan Anya.


Anya tersenyum miring. "Kenapa, Sean? Sulit menentukan pilihan? Bingung memilih aku atau wanita jelek itu?"


Sean menghembuskan napas berat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia pun memutuskan.


"Baiklah, Anya. Aku akan segera melamarmu. Tapi sebelumnya, biarkan aku menyelesaikan hubunganku dengan wanita itu," ucap Sean dengan wajah sendu.


Anya tersenyum lebar. Ia begitu bahagia karena akhirnya Sean memutuskan untuk melepaskan Sri dan memilih dirinya.


"Nah, begitu donk, Sean! Tegaslah jadi laki-laki. Bereskan hubunganmu dengan wanita jelek itu, baru kita urus pernikahan kita."


"Ya," jawab Sean singkat.


Tampak jelas di raut wajah lelaki itu bahwa ia masih bimbang dengan keputusannya. Menceraikan Sri, lalu menikahi Anya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2