Istri Terabai Tuan Sean

Istri Terabai Tuan Sean
Bab 29


__ADS_3

"Ada apa, Sayang? Tumben, tidak memberitahuku terlebih dahulu. Aku yakin, kedatanganmu kali ini pasti untuk memberikan aku kejutan, 'kan?" ucap Anya dengan penuh percaya diri.


Sean mengelus tengkuknya. Lelaki itu tersenyum kecut dan ia tak tau harus menjawab apa.


"Ayo, Sayang! Katakan padaku, apa kejutan itu?" lanjut Anya sembari memeluk lengan kekar Sean lalu meletakkan wajahnya di pundak lelaki itu.


"Ehm, Anya ... aku ke sini untuk membicarakan soal hubunganku dengan Sri," ucap Sean, mulai membuka percakapan mereka dengan begitu serius.


"Sri?" Anya mengerutkan alisnya heran. Namun, setelah beberapa detik kemudian, ia pun tersenyum lebar.


"Ah, ya! Sri, si gadis kampung itu, 'kan?" lanjutnya dengan begitu antusias.


"Ya, Anya. Sri, gadis kampung itu."


Anya senang bukan main. Ia sangat yakin bahwa kali ini Sean benar-benar akan menceraikan Sri, si gadis kampung itu.


"Maafkan aku, Anya. Aku terpaksa harus mengurungkan niatku untuk menceraikan Sri," ucap Sean kemudian, yang berhasil membuat mata Anya terbelalak sempurna.


Deg!


"A-apa?!" pekik Anya. "A-apa aku tidak salah dengar, Sean? Kamu mengurungkan niatmu menceraikan gadis kampung itu?!"


Sean mengangguk perlahan. Sementara tatapan sendunya masih tetap tertuju pada Anya. "Ya, Anya."


"Ta-tapi kenapa?!" pekik Anya lagi, yang tidak mampu menerima kenyataan pahit tersebut.


"Karena saat ini dia tengah mengandung anakku dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja," jawab Sean sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak-tidak! Ini tidak boleh terjadi! Kamu harus tetap menceraikannya, Sean. Aku tidak mau berbagi suami dengan gadis kampung itu," ucap Anya dengan tegas.


Sean mengangkat kepalanya lalu kembali menatap wanita itu dengan lekat.


"Maafkan aku, Anya. Seandainya aku bisa memilih, aku pasti akan memilih dirimu. Namun, apalah dayaku. Tuhan sudah menitipkan seorang malaikat kecil ke dalam rahimnya dan aku tidak mungkin mengabaikan mereka begitu saja," tutur Sean.


"Dari mana kamu tahu kalau anak yang ada di kandungannya itu milikmu? Bisa jadi 'kan, dia pernah berhubungan dengan orang lain selain kamu," celetuk Anya dengan kesal.


"Itu tidak mungkin, Anya. Secara Sri itu—" Belum selesai Sean mengucapkannya, tiba-tiba Anya sudah menyambar ucapannya tersebut.

__ADS_1


"Apa? Polos? Halah, palingan juga hanya wajahnya yang tampak polos. Hatinya, siapa yang tahu!" celetuk Anya.


Sean terdiam sejenak. Sekuat apa pun Anya meyakinkan dirinya soal Sri, Sean tetap yakin bahwa bayi itu adalah miliknya.


Melihat Sean yang hanya diam, tak bereaksi dengan kata-kata yang barusan ia ucapkan, Anya pun merasa semakin geram.


"Oh, ayolah, Sean! Jangan menjadi bodoh hanya gara-gara gadis kampung itu bilang kalau dia hamil. Apa kamu ingin menghancurkan hidupmu begitu saja? Terjebak dalam sebuah ikatan yang sama sekali tidak pernah kamu inginkan? Menjalani rumah tangga tanpa dasar rasa cinta, hanya sekedar untuk bertanggung jawab semata? Pernikahan itu untuk selamanya, Sean! Bukan hanya untuk sebulan atau dua bulan," geram Anya yang kembali mencoba meyakinkan Sean.


Sean membuang napas dengan kasar. "Maafkan aku, Anya. Aku tidak punya pilihan," jawabnya singkat.


"Ada, Sean! Hanya saja kamu yang membuatnya menjadi seperti itu! Pilihanmu ada di depan mata, Sean! Aku! Aku lah pilihanmu," ucap Anya lagi dengan emosi yang tidak tertahankan.


Lagi-lagi Sean membuang napas berat. Ia bangkit dari posisi duduknya lalu berdiri di hadapan Anya.


"Maafkan aku, Anya. Semoga kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik dari aku," ucap Sean lalu melabuhkan sebuah kecupan di kening Anya yang masih memendam emosi.


"Tidak, Sean!" Anya menggelengkan kepala berkali-kali. Menolak keras keputusan Sean yang menurutnya terlalu bodoh.


Sean beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju halaman depan dengan langkah gontai. Anya benar-benar tidak terima. Ia berteriak di dalam ruangan itu sejadi-jadinya.


Namun, Sean tetap melangkah ke depan dan tak ingin kembali menengok ke belakang. Setibanya lelaki itu di halaman depan, ia pun segera memasuki mobilnya dan melajukan benda beroda empat tersebut kembali ke kediamannya.


Kembali ke Anya.


Anya menyeka air matanya dengan kasar. Wajahnya tampak memerah dan ia benar-benar kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Sean.


"Ini semua gara-gara gadis kampung yang jelek itu. Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan denganmu!" ucapnya dengan geram.


Selang beberapa saat kemudian.


Sean tiba di kediamannya. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki itu pun bergegas masuk dan berjalan menuju kamarnya. Namun, di ruang utama, Sean berpapasan dengan Sri yang sedang berjalan dengan membawa dua buah tas besar berisi barang-barang pribadi miliknya. Sean tersentak kaget lalu bergegas menghampiri wanita itu.


"Sri, kamu mau ke mana?" tanya Sean dengan wajah bingung menatap Sri.


"Aku harus pergi, Tuan Sean. Sudah tidak ada gunanya aku berlama-lama di sini," sahut Sri.


"Lagi pula aku yakin, Anda pasti lebih memilih mempertahankan nona Anya dari pada kami, 'kan?" lanjut Sri sambil tersenyum kecut menatap Sean.

__ADS_1


Sean menggelengkan kepalanya pelan. "Kemarilah," ajak Sean.


Sean meraih tangan Sri lalu menuntunnya ke sofa. Setelah mendudukkan Sri di sofa tersebut, ia pun bergegas duduk di samping wanita itu.


"Kamu salah, Sri. Aku sudah mengambil keputusan dan keputusanku adalah mempertahankanmu demi bayi itu," jawabnya.


Sri tersenyum sinis. "Lalu, setelah bayi ini lahir, Anda pasti berencana untuk menceraikan aku 'kan?"


Lagi-lagi Sean menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sri. Aku tidak akan menceraikanmu. Kita akan tetap bersama walaupun tanpa adanya rasa cinta. Terkecuali kamu memang menginginkan pilihan lain," tutur Sean dengan lekat menatap kedua bola mata Sri yang berwarna kecoklatan.


Sri terdiam dengan raut wajah bingung. Ia bingung kenapa tiba-tiba Sean bisa berubah pikiran dengan secepat itu.


"Anda tidak sedang membohongiku 'kan, Tuan Sean?"


"Tentu saja tidak, Sri. Aku sudah memikirkannya semalaman dan keputusanku sudah bulat. Aku memilih mempertahankanmu dan juga bayi itu," jawabnya dengan mantap.


"Lalu bagaimana dengan kekasih Anda?"


"Aku sudah memutuskannya," sahut Sean. Terlihat jelas di mata Sri, raut wajah sedih lelaki itu.


"Apakah Anda sudah yakin dengan keputusan Anda ini, Tuan Sean? Aku tidak ingin, tiba-tiba Anda berubah pikiran di kemudian hari," tanya Sri lagi, mencoba meyakinkan.


"Aku memang seorang badboy, Sri. Aku memang tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seorang wanita, terkecuali Anya. Namun, untuk hal yang satu ini, aku tidak akan pernah main-main. Sebab ini soal masa depanku, generasi penerusku. Aku tidak mungkin mengabaikannya hanya demi kepuasaan batinku semata," tutur Sean yang akhirnya berhasil meluluhkan hati Sri.


Sri tersenyum kecil mendengar penuturan Sean.


"Jadi, kamu tidak akan pergi meninggalkan aku 'kan?" tanya Sean dengan wajah serius menatap Sri.


Sri mengangguk pelan. "Ya, jika itu keinginan Anda."


Sean tersenyum lebar. "Kalau begitu, kembalilah ke kamarmu dan aku akan membantumu merapikan kembali barang-barangmu. Bagaimana?"


"Baiklah."


Sri bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju kamarnya bersama Sean yang kini mengikutinya dari belakang sambil menenteng kedua tas besar milik Sri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2