
Setelah mantan suaminya sudah keluar dari kamar, Elma teringat akan segala kenangannya bersama Virzo meski tidak ada kenangan indah diantara keduanya, namun tetap saja meninggalkan kenangan.
"Sepahit inikah jalan cerita hidupku? aku harus melihat kebahagiaan mantan suamiku sendiri dengan wanita pilihannya. Sedangkan aku, aku harus dikecewakan dengan lelaki yang aku kira akan mendatangkan kebahagiaan untukku, tapi kenyataannya aku salah menilainya." Gumam Elma dengan segala kesedihannya.
Begitu fokus saat melamun, sampai-sampai dirinya tidak mendengarkan suara ketukan pintu dari luar. Namun, akhirnya terdengar juga suara ketukan pintunya.
Kemudian, Elma segera membukakan pintunya.
"Permisi, Nona, bolehkah saya masuk?"
"Silakan masuk." Ucap Elma tidak bersemangat, dan langsung menutup kembali pintunya.
"Terima kasih, Nona." Jawabnya dan ikut masuk kedalam kamar.
"Mbak diminta untuk menemani saya ya, benarkah?" tanya Elma basa basi.
"Benar, Nona. Perkenalkan, saya Meilin, asisten baru di rumahnya Tuan Virzo." Jawabnya yang langsung memperkenalkan diri.
"Saya Elma, panggil sesukamu. Oh ya, Tuan kamu bicara apa saja sama kamu, apakah ada sesuatu yang disampaikan untuk saya?"
"Tidak ada, Nona. Tuan hanya meminta saya untuk menemani Nona istirahat." Jawabnya berterus terang.
"Oh, hanya itu kah?"
__ADS_1
"Benar, Nona." Jawabnya setengah menunduk.
"Kamu boleh istirahat, silakan kalau mau tidur. Tidak usah sungkan dengan saya, kita tidur bareng di atas tempat tidur. Juga, tidak ada yang saya bedakan, kamu maupun saya." Ucap Elma.
"Nanti saja, Nona. Kalau Nona sudah tidur."
"Mbak Meilin tidak usah kaku begitu, saya disini hanyalan tamu, bukan siapa-siapanya majikannya Mbak Meilin. Jadi, Mbak Meilin tidak perlu sungkan terhadap saya." Ucap Meilin yang memulai obrolan.
"Tidak, Nona, nanti saya akan mendapat marah jika saya tidak menghormati Nona."
"Mbak Meilin ngomong apaan sih? Sudah saya bilang, jangan sungkan dengan saya, bila perlu kita menjadi teman, saya raya kita satu umuran, panggil saja Elma. Mbak Meilin tidak perlu memanggil saya Nona, panggil namanya saja juga tidak apa-apa kok, Mbak."
"Nona ini ada-ada saja, saya tetap menghormati Nona. Saya juga sudah diberi tahu oleh Tuan, jika Nona itu mantan istrinya Tuan. Lantas, apa yang salah dengan Nona jika saya menghormati Nona. Rumah ini juga pernah menjadi bagian tempat tinggal Nona, jadi saya harus menghormati Nona, meski sudah menjadi mantan istri." Ucap Mbak Meilin.
"Maaf, Nona, bukankah sup nya belum dihabiskan?"
"Ah iya, saya sampai lupa. Bibi mau supnya?"
"Tidak, Nona. Saya sudah makan, buat Nona saja. Soalnya itu sup biar menghangatkan badan Nona."
Elma tersenyum pada Mbak Meilin.
"Saya abisin dulu supnya ya, Mbak. Kalau Mbak Meilin mau istirahat, silakan. Nanti saya menyusul, kalau sekarang saya belum mengantuk, juga belum ingin tidur." Ucap Elma yang merasa merepotkan asisten rumah mantan suaminya.
__ADS_1
"Ya, Nona. Nanti saya akan istirahat kalau Nona sudah tidur, saya sudah ditugaskan untuk menjaga Nona sampai tidur oleh Tuan Virzo." Jawab Mbak Meilin.
Setelah menghabiskan supnya, dilanjut minum obatnya. Kemudian, Elma ikutan duduk di dekatnya Mbak Meilin.
"Kok Mbak Meilin belum tidur, belum mengantuk kah? dah malem ini loh Mbak, nanti Mbak Meilin bangun tidurnya kesiangan loh." Ucap Elma yang tidak ingin merepotkan.
"Tidak apa-apa, Nona. Ini sudah menjadi tugas saya, dan saya tidak boleh membantah."
"Memangnya majikannya Mbak Meilin sudah gak galak kah?"
"Siapa yang galak, ha?"
Seketika, Elma dan Mbak Meilin langsung menoleh ke sumber suara.
"Tuan, Msaf."
"Kamu kembali ke ruangan istirahat saja, biar saya yang akan menemaninya tidur. Sama saja, mau kamu yang jaga, atau Bi Nani, sama saja bakalan bergadang. Jadi, sekarang pergi ke tempat tidurmu." Perintah Virzo kepada asisten rumahnya.
"Bab-baik, Tuan, permisi." Jawabnya dan bergegas pergi.
Kini tinggal Elma bersama mantan suaminya didalam kamar. Tentu saja, Elma semakin takut dan juga gugup ketika berada didalam kamar hanya berdua.
"Sudah ngobrol apa saja kamu sama Mbak Meilin, ha?"
__ADS_1
Elma yang masih memegangi mangkuk berisi sup ayam, pelan-pelan untuk meletakkan di atas meja. Takut, gugup, was-was, itu sudah pasti.