
Virzo mengatur napasnya sebelum menjawab ucapan dari ibu turinya.
"Aku sih terserah dengan keputusan yang akan diambil oleh Elma, dan aku tidak mempunyai hak untuk menahannya agar tetap tinggal di rumah ini. Jadi, semua terserah pada dirinya."
Elma yang mendengar ucapan dari mantan suaminya, ada rasa sedikit dilema.
"Bagaimana keputusan kamu, Nak Elma? apakah kamu bersedia untuk tinggal di rumah ini?" tanya Tuan Arsen.
"Maaf, Pa, Ma. Keputusan Elma sudah bulat, yakni akan tetap tinggal di kampung halaman. Maafkan Elma yang tidak bisa memenuhi permintaan dari Papa dan Mama." Jawab Elma setengah menunduk.
Virzo yang mendengar jawaban dari mantan istrinya, pun terasa sakit hati ketika harus berpisah lebih jauh lagi.
"Sudah malam, aku mau pamit pulang. Sekalian, kalau kamu mau menginap di rumah ini untuk yang terakhirnya, aku akan menjemputmu besok. Tapi, kalau kamu ingin malam ini juga pulang ke kampung halamanmu, aku akan mengantarkan kamu sampai di Dermaga Pelabuhan." Ucap Virzo yang sudah berdiri.
"Menginap lah Nak, semalaman saja. Besok Mama dan Papa akan ikut mengantarkan kamu pulang. Sekalian juga, Virzo menginap juga. Sebelum kalian berpisah lebih jauh lagi jarak diantara kalian berdua, temani Mama dan Mama di rumah ini walau hanya semalam." Timpal ibu tirinya meminta permohonan yang terakhir.
"Yang dikatakan Mama ada benarnya. Apa salahnya jika kalian berdua menginap di rumah ini, semalaman saja, bagaimana?"
__ADS_1
Elma yang mendapat permohonan, merasa berat untuk menolak. Tidak ada pilihan lainnya, Elma mengangguk tanda mengiyakan.
"Ya, Pa, Ma, malam ini Elma akan menginap di rumah ini. Terima kasih banyak sudah menganggap Elma dari bagian keluarga kalian. Maafkan Elma yang belum bisa membalas kebaikan Papa dan Mama." Jawab Elma yang akhirnya menurutinya.
Virzo yang mendengar jawaban dari mantan istrinya, merasa senang karena masih mempunyai kesempatan untuk tinggal bersama meski di dalam kamar yang berbeda.
"Mama sedikit lega, akhirnya kamu mau menginap di rumah ini meski hanya semalaman saja. Oh ya, sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat. Jadi, istirahatlah di kamar. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa meminta tolong sama pelayanan di rumah."
"Ya, Ma. Terima kasih banyak." Jawab Elma.
"Karena sudah waktunya istirahat, selamat malam dan beristirahatlah." Ucap Tuan Arsen yang langsung bangkit dari posisinya dan bergegas ke kamar untuk istirahat.
"El," panggil Virzo dengan suara yang lirih.
"Iya, ada apa?"
"Kamu yakin dengan keputusan kamu, bahwa kamu akan pulang ke kampung halaman mu, benarkah?"
__ADS_1
Elma mengatur napasnya, berusaha agar pilihannya tidak salah.
"Ya, aku ingin pulang ke kampung halaman kedua orang tuaku. Di sana aku ingin memulai hidupku yang baru, juga ingin menenangkan diri." Jawab Elma yang sama sekali tidak berani menatap wajah mantan suaminya.
Entah ada angin apa, tiba-tiba Virzo langsung meraih tangannya mantan istri.
"Kalau aku ikut kamu ke kampung halaman mu, bagaimana? apakah kamu mengizinkan aku untuk ikut?"
Elma langsung melepaskan tangan milik mantan suaminya karena takut tidak terkontrol.
"Untuk apa kamu ikut aku pulang, Vir? memangnya kamu gak kerja?"
"Aku ingin kita balikan lagi, El. Kamu masih mau 'kan, nikah denganku lagi? aku baru sadar, perempuan yang sudah aku sia-siakan adalah perempuan yang harus dipertahankan. Aku sadar diri, aku banyak kekurangan. Juga, aku sudah memberimu luka yang teramat perih. Tapi, setelah aku bercerai dengan Yolinda, aku baru menyadari jika kamu perempuan yang sudah aku abaikan. El, aku jujur, aku mulai jatuh hati dan cinta denganmu." Jawab Virzo yang langsung menyambar tangan miliknya Elma.
Saat itu juga, Virzo langsung memeluk mantan istrinya begitu erat, seraya tidak mau berpisah dan kehilangan.
"Vir, lepasin, Vir. Nanti kalau ketahuan sama Mama dan Papa, aku bisa malu." Ucap Elma yang berusaha untuk melepaskan pelukan dari mantan suaminya.
__ADS_1
Sedangkan Virzo sendiri semakin mengeratkan pelukannya.