Istri Terbuang Dari Suami Kedua

Istri Terbuang Dari Suami Kedua
Tetap ingin menolak permintaan


__ADS_3

Elma tertunduk sedih saat mendengar ucapan ayah dari mantan suaminya.


"Maafkan Elma, Pa. Jika Elma tidak pernah datang untuk menemui Papa sama Mama." Ucapnya merasa malu, lebih lagi hubungan pernikahannya yang tidak bertahan lama.


"Papa yang seharusnya meminta maaf sama kamu, karena gagal menjadikan kamu istrinya Virzo. Papa berdoa, semoga kamu segera temukan kebahagiaan nantinya, bersama orang yang mencintai dengan tulus." Jawab Tuan Arsen kepada Elma.


"Sudah waktunya untuk makan malam, ayo kita makan dulu. Setelah itu, kita bisa ngobrol lagi." Timpal ibunya.


"Ya, benar. Kita makan malam dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi ngobrolnya. Nak Elma, ayo kita makan malam bersama." Ucap Tuan Arsen.


Elma mengiyakan dan ikut makan malam bersama keluarga mantan suaminya. Virzo yang tengah duduk di sebelah mantan istrinya, membuat Elma merasa gugup dan malu.


Berbeda dengan yang dulu, justru Elma merasa takut dengan sosok suaminya yang dingin namun keras hatinya. Sedangkan sekarang ini, yang ia dapati mengenai sosok mantannya justru sikapnya dingin namun penuh perhatian.


"Sini, biar aku ambilkan." Ucap Virzo saat mengambilkan nasi beserta lauk dan lainnya untuk mantan istrinya.


"Enggak usah, aku bisa mengambilnya sendiri." Jawab Elma setengah berbisik didekat telinga mantan suaminya.


"Sudah, nurut aja apa susahnya. Nih, sudah aku ambilkan. Makan lah, jangan sungkan." Ucap Virzo sambil meletakkan satu porsi dalam piring di depan mantan istrinya.


Elma kemudian menoleh ke arah Tuan Arsen dan istrinya, tentunya tersenyum malu.


"Gak usah malu, kita ini keluarga. Meski kamu sudah bercerai dengan Virzo, kamu tetap anak Mama dan Papa. Jadi, kamu tidak perlu sungkan." Ucap istrinya Tuan Arsen.


"Ya, Ma. Elma hanya tidak enak hati saja di depan Mama sama Papa, soalnya malu." Jawab Elma asal bicara.


'Duh! ngomong apa tadi akunya, aku bilang malu tadi, aih.' Batin Elma mengerutuki diri sendiri atas ucapannya barusan.

__ADS_1


"Biasalah Kakak Ipar, Kak Virzo pasti ada udang dibalik bakwan." Celetuk Airo ikut menimpali.


"Airo! diam kamu." Bentak Virzo sambil menatap tajam kepada adiknya.


Meski usianya jaraknya ada beberapa tahun, Airo dan Virzo bagai tommy dan jerry. Keduanya selalu saling meledek satu sama lain, tetap saja si Virzo lebih banyak diam ketimbang Airo.


Kakak beradik yang berbeda ibu, namun tetap saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Keduanya tetap menjalin hubungan persaudaraan yang tidak jauh berbeda dari kedua orang tua yang sama.


"Airo, habiskan dulu makananmu. Jangan mengganggu kakakmu yang baru saja datang, dan juga makan malam bersama kita. Jadi, tahan dulu, jangan memancing emosinya kakak kamu." Ucap sang ayah mencoba untuk melerai gurauan yang takutnya berujung emosi, pikir sang ayah.


"Ya, Pa, ya deh. Kakak Ipar, selamat menikmati makan malamnya." Jawab Airo dan dilanjut bicara kepada Elma, yang selalu dipanggil kakak ipar.


"Ya, selamat menikmati makan malamnya." Sahut Elma yang jaraknya cukup berjauhan.


Airo yang tersenyum tidak jelas kepada Elma, membuat Virzo seperti mendapat api cemburu. Sedangkan Elma tengah menikmati makan malamnya hingga tidak terasa sudah menghabiskan satu porsi yang diambilkan oleh mantan suaminya.


Ibunya pun mengajak pindah ke ruang keluarga.


"Gini aja, Mama sama Elma. Sedangkan Papa sama Airo, ngobrol bareng dengan Virzo, gimana?"


"Boleh, tapi nanti gak seru dong." Kata sang ibu.


"Enggak perlu, malam ini Airo mau keluar. Soalnya tadi sudah ada janji sama teman mau kumpul di cafe. Jadi, kalian ngobrol aja berempat, biar lebih serius. Ya udah ya, Airo tinggal dulu ya, Ma, Pa, Kak, Kakak ipar." Ucap Airo yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang makan.


Kini tinggal kedua orang tua bersama Virzo dan Elma yang masih di ruang makan.


"Ya udah, kita ngobrol bareng aja di ruang keluarga." Ucap istrinya Tuan Arsen.

__ADS_1


"Boleh, ayo kita pindah." Jawab Tuan Arsen dan langsung bergegas ke ruang keluar.


Kemudian, Virzo bersama ibunya dan Elma pindah ke ruang keluarga ikut ajakan sang ayah. Saat sudah duduk di ruang keluarga, lagi-lagi Virzo memilih duduk didekat mantan istrinya.


Sikap dingin dan juga keras, kini seolah berbanding terbalik pada di Virzo. Justru sekarang ini lebih condong memberi perhatian penuh kepada mantan istrinya.


"Nak Elma, Mama dengar dari Reina, kalau kamu mau pulang ke kampung halaman kedua orang tua kamu, benarkah?" tanya ibu tirinya Virzo.


Elma yang mendapat pertanyaan, pun terkejut. Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Elma mengangguk.


"Ya, Ma. Rencananya mau malam ini pulang ke kampung halaman, biar paginya sudah sampai di rumah." Jawab Elma sedikit gugup, juga takut jika akan mendapat marah dari ibu tiri mantan suaminya.


"Alasannya apa, sampai-sampai kamu ingin pulang ke kampung halaman? apa karena perceraian kamu dengan Gianta?"


"Bukan, Ma. Elma pulang ke kampung hanya ingin ketenangan. Mungkin sudah cukup untuk Elma berada di kota ini. Mungkin juga, takdir Elma ada di kampung halaman." Jawab Elma seperti yang diucapkan kepada Reina.


"Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah ini, Nak Elma? dan kamu tidak perlu pulang ke kampung halaman kamu. Kamu bisa tinggal di rumah ini, juga bisa menyibukkan diri dengan aktivitas yang kamu sukai, kamu bisa menjadi wanita karir, dan kamu tidak perlu pulang kampung. Papa mohon, tetaplah berada di rumah ini, Papa mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap dirimu, seperti yang disampaikan oleh mendiang kakekmu." Ucap Tuan Arsen ikut menahan Elma untuk tetap tinggal bersamanya.


"Maaf, Pa. Keputusan Elma sudah bulat, Elma akan meninggalkan kota ini." Jawab Elma yang tetap dengan tekad bulatnya.


Tuan Arsen maupun istrinya, juga Virzo sendiri tidak bisa menahannya. Lantas dasar apa dirinya akan menahan mantan istrinya itu? pikir Virzo yang tidak tahu harus berbuat apa untuk mantan istrinya.


Sikap kerasnya dulu saja masih ia ingat, jika dirinya sudah menorehkan luka kepada mantan istrinya, dan sekarang memintanya untuk tinggal bersama dan juga kembali dalam sebuah ikatan pernikahan, itu tidak akan mungkin bisa, pikir Virzo yang tidak tahu harus bagaimana.


"Virzo, kenapa kamu diam, Nak? kenapa kamu tidak menahan mantan istrimu agar tetap tinggal di rumah ini, apa kamu tidak berharap untuk kembali dengan mantan istrimu?"


Seketika, Elma yang mendengar ucapan dari ibu tirinya Virzo, pun bingung harus mengatakannya apa ketika mantan suaminya menahan dirinya untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya.

__ADS_1


Virzo sendiri masih diam, antara meminta mantan istrinya untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya, atau justru merelakannya untuk pulang ke kampung halamannya. Tentu saja ada pilihan yang sulit, lantaran dirinya sudah pernah memberinya luka hingga berujung perceraian .


__ADS_2