Istri Terbuang Dari Suami Kedua

Istri Terbuang Dari Suami Kedua
Memberi ketenangan


__ADS_3

Virzo yang tidak ingin melihat Elma terbawa emosi seperti dirinya, langsung memeluk dan memberinya ketenangan.


"Sudahlah, tak perlu kamu turuti emosimu. Lebih baik kamu tenangkan pikiranmu. Serahkan semuanya padaku, aku akan menjebloskannya ke jeruji besi. Sekarang lebih baik kamu kembali tidur, perjalanan kita masih jauh. Untuk mu Airo, jangan mengajakku mengobrol, kita selesaikan nanti kalau sudah sampai di rumah. Sekarang aku ingin istirahat." Ucap Virzo yang tidak ingin mengabaikan waktu untuk istirahat di dalam perjalanan.


Airo yang mengerti kondisinya sang kakak juga mantan istri kakaknya, pun mengiyakan.


"Ya, Kak. Aku juga mau istirahat, yang terpenting sudah lega karena kalian berdua selamat dan kita akan membahas masalah tadi di rumah. Jugaan ini larut malam, baiknya kita istirahat di dalam kapal." Jawab Airo yang juga mau istirahat selama dalam perjalanan dalam kapal.


Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan sampai ke Dermaga, akhirnya sampai juga. Kemudian, perjalanannya pun dilanjutkan kembali dengan mengendarai mobil menuju rumah.


Sampainya di halaman rumah, tepatnya di depan pintu utama untuk masuk, Virzo segera turun dari mobil. Lalu, Virzo menggendong mantan istrinya masuk ke rumah dan menidurkannya di kamar tamu.


Saat itu juga, ibunya langsung memeluk Virzo dengan erat.


"Akhirnya kamu dan Elma pulang dengan selamat, Nak. Kamu tidak kenapa-napa 'kan? coba Mama lihat." Ucap ibunya dan langsung memeriksa kondisi putranya.


Virzo yang belum melihat sosok sang ayah, pun celingukan.


"Loh. Dimana Papa, Ma?"


"Mama tidak tahu, Nak. Dari tadi Mama telepon tidak ada jawaban apapun, nomornya juga tidak bisa dihubungi." Jawab ibu tirinya.


Seketika, Airo maupun ibunya, juga Virzo tengah dikagetkan dengan suara dering dari telepon rumah.


"Itu, mungkin itu Papa." Ucap Airo yang langsung berlari untuk menerima panggilan.


Sebelumnya si Airo memperjelas suaranya agar bisa didengar oleh ibunya maupun kakaknya.


Benar-benar terkejut saat mendengar suara ayahnya yang seperti kesulitan untuk bernapas. Juga, suara yang seperti menahan sakit, benar-benar sangat jelas.


"Kau sudah dengarnya, bukan? aku tahu, kalau kau selamat dari insiden itu. Sekarang juga, kau tinggal pilih, ayahmu atau mantan istrimu. kalau kau berani, serahkan istrimu dihadapan ku. Ingat, aku hanya butuh kamu yang datang bersama Elma. Jika kudapatkan bahwa kamu membawa anggota polisi, kau akan gagal menemukan keberadaan ku. Nyawa ayahmu menjadi taruhannya, aku akan mengirimkan alamat ke nomor ponselmu." Ucap dari seberang telepon, dan langsung mematikan panggilannya.


Virzo maupun yang lainnya tengah mendengar ancaman dari seseorang yang tidak asing, pun sangat geram dan benci, serta tidak menyangkal kalau Gianta akan melakukan hal keji kepada Tuan Arsan.


"Virzo, bagaimana ini? Mama takut terjadi sesuatu pada Papamu."


Virzo masih diam, bingung harus melakukan apa, benar-benar pilihan yang sangat sulit.

__ADS_1


"Serahkan saja aku padanya, hanya itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Papa." Ucap Elma yang langsung memberi saran kepada mantan suaminya.


"Apa! tidak! aku tidak akan melepaskan mu kepada Gianta, apa kamu masih mencintainya? ha!"


"Bukan itu maksudnya aku, kita harus melakukan strategi, tentu saja kita meminta bantuan beberapa anggota polisi untuk dijadikan penyamaran. Aku siap untuk menjadi umpannya, bagaimana?"


"Tapi itu sangat berbahaya, Gianta bukan orang bodoh yang mudah di kelabuhi."


"Terus, kita harus melakukan cara apa, Vir? apa iya, kita datang dengan berbondong-bondong membawa anggota polisi? enggak, Vir. Aku yakin, di tempat itu pasti ada jalan pintas untuk melarikan diri."


"Iya, terus aku harus gimana?"


"Ikutin saja saran dari Kak Elma, yang penting idenya dapat kita mengerti dan masuk akal." Timpal Airo yang mendukung saran dari Elma.


"Benar, Nak. Sepertinya kita harus mengikuti saran dari Elma. Apa salahnya kita mencobanya." Ucap ibu tirinya yang menyetujui saran dari Elma.


"Sudah pagi, lebih baik kalian mandi dan sarapan pagi. Setelah itu, kamu hubungi anggota polisi untuk datang ke rumah dengan cara penyamaran. Setelah itu, kamu minta kepada anggota polisi untuk melakukan pengepungan." Timpal Elma.


Virzo akhirnya mengiyakan dan segera menghubungi anggota polisi sesuai yang di ucapkan oleh Elma.


Sambil membahas masalah, Elma tidak lupa mengajukan saran kepada anggota polisi, pengajuannya pun diterima karena cukup masuk akal ide yang diberikan oleh Elma.


"Kamu yakin bisa menggunakan pistol?"


"Kenapa, kamu ragu?"


"Bukan begitu, cuma takut aja kamu salah tembak." Kata Virzo yang takut terjadi sesuatu pada mantan istrinya.


"Jangankan untuk men_embak, memanah saja aku bisa." Jawab Elma meyakinkan mantan suaminya.


"Tidak apa-apa 'kan, Pak Polisi, jika mantan istri saya ini menggunakan pistol?"


"Boleh, hanya waktu terdesak. Setelah tersangka tertangkap, maka serahkan pistolnya kepada kami."


"Baik, Pak Polisi." Ucap Virzo, dan segera bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke tempat tujuan.


Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Virzo bersama Elma tengah mendatangi tempat tujuan yang diterima dari Gianta.

__ADS_1


"Apakah ini benar tempatnya?" tanya Elma sambil celingukan karena semua lokasi yang ia datangi tidak ada rumah satupun. Bahkan, untuk masuk ke jalan mansion harus melewati semak belukar.


"Sepertinya benar, ayo kita jalan ke sana." Jawab Virzo sambil menggandeng tangan mantan istrinya.


"Tidak ada orang sama sekali, ngeri juga ya." Gumam Elma sambil mengamati disekelilingnya.


"Kamu yakin berani?" tanya Virzo sambil berjalan dan juga celingukan.


"Tentu saja aku berani, memangnya kamu?"


Elma langsung menoleh ke mantan suaminya.


"Kita ini dalam keadaan darurat, jangan banyak bercanda. Nyawa kamu dan nyawaku sedang tidak baik-baik saja. Setelah Gianta tertangkap, kamu yang akan aku tangkap." Jawab Virzo yang tanpa sadar jika dirinya yang mengajaknya bersenda gurau.


"Aw! sakit, tau." Pekik Virzo saat kakinya diinjak oleh mantan istrinya.


"Untuk apa kamu mau menangkap ku? ha."


"Tentu saja aku akan menikahi kamu, apa lagi yang aku harapkan darimu kalau bukan menikahi mu yang kedua kalinya."


"Aw!" pekik Virzo kembali diinjak.


Virzo sendiri justru tertawa kecil melihat sikap istrinya yang aneh.


"Tunggu!"


Tiba-tiba langkah kaki Virzo dan Elma terhenti.


"Apakah kalian yang bernama Virzo dan Elma?"


Keduanya mengangguk.


"Benar, kami mau menepati janji kepada Tuan kalian. Minggir, kami mau lewat."


"Tunggu! kalian dilarang masuk jika membawa senjata, kami harus memeriksanya."


Saat keduanya tengah diperiksa, Elma maupun Virzo sama-sama melirik dan memberi kode, yakni untuk melawan.

__ADS_1


__ADS_2