Istri Terbuang Dari Suami Kedua

Istri Terbuang Dari Suami Kedua
Pamit pergi


__ADS_3

Merasa sudah siap dan tidak ada yang kurang, Virzo maupun Elma segera keluar dari kamar.


Tidak disangkanya, Elma dan Virzo sudah berada di ruang keluarga dengan waktu yang bersamaan.


"Selamat pagi, bagaimana perasaan mu hari ini, apakah kamu sudah benar-benar yakin mau pulang ke kampung halaman mu?"


Elma mengangguk dan tersenyum.


"Ya, aku yakin kalau hari ini aku akan meninggalkan kita ini. Jadi, tidak ada yang perlu aku khawatirkan." Jawab Elma dengan sikapnya yang terlihat tenang, dan seolah-olah tidak ada beban apapun yang dirasakannya.


"Cie ...." ledek Airo yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Apa! mau bikin rusuh lagi, iya!" bentak Virzo dengan geram.


Airo justru tertawa kecil saat mendapat bentakan dari kakaknya.


"Jangan ngegas gitu dong Kak, entar Kakak ipar ketakutan gimana?"


"Diam saja kamunya, tak perlu ikut campur urusan orang dewasa seperti ku, paham kau."

__ADS_1


Airo bukannya menjawab, justru nyengir kuda di hadapan kakaknya.


"Sudah sudah, kalian ini selalu aja berantem. Sekali-kali kalian berdua itu yang akur, gak berantem terus kerjaan kalian berdua ini." Ucap ibunya ikut bicara, juga menghentikan gurauan dari putranya si Airo.


"Ya, Ma, ya deh. Eh! tunggu, kenapa kalian pakai bajunya rapih banget ya? kalian sedang tidak melakukan pertemuan, 'kan?"


Airo yang baru saja menyadarinya, pun merasa heran dengan penampilan ibunya juga kakaknya sendiri. Saat itu juga, Airo juga melihat ayahnya yang sudah berpenampilan dengan rapi.


"Ngomong-ngomong kalian berempat penampilannya rapi banget, mau kemana sih, Ma, Pa?"


"Kita mau mengantarkan Elma sampai di Dermaga Pelabuhan, karena mau pulang ke kampung halamannya." Jawab sang ibu dengan jujur dan tidak ada yang ditutup tutupi.


"Seriusan Kak El?" tanya Airo untuk memastikannya.


Elma mengangguk.


"Ya, benar banget, Ai. Maafkan aku yang baru bisa berpamitan denganmu." Jawab Elma serasa berat untuk menjawabnya.


"Yah, jadi sedih kalau Kak Elma pulang ke kampung halaman. Terus, bagaimana dengan Kak Virzo? Kakak yakin mau meninggalkannya di kota?"

__ADS_1


"Aku dan Kakakmu punya jalan hidup masing-masing. Kalau memang berjodoh, kita akan dipertemukan lagi." Jawab Elma, dan sekilas menoleh ke Virzo.


"Yang dikatakan Elma itu benar, aku dan Elma punya jalan hidup masing-masing. Bila memang kita berjodoh, kita akan dipertemukan kembali." Sahut Virzo ikut menimpali.


"Ya sih, tapi gimana mau dipertemukan lagi, kalau jarak kalian aja jauh gitu, harus menyebrangi lautan juga. Kalau masih di kota ini sih, masih dekat. Lah kalian, jarak lautan yang memisahkan." Ucap Airo yang merasa sulit untuk dijangkau cara berpikirnya.


"Nyatanya mereka berdua bisa dipertemukan, kenapa gak bisa dipertemukan yang kedua kalinya. Benar kata Elma, bila berjodoh, pasti dipertemukan. Kita hanya bisa berharap dan berdoa, mereka yang akan memilih jalan hidup mereka masing-masing. Jadi, biarkan pilihan mereka yang menentukan. Sudah waktunya untuk sarapan pagi, ayo kita sarapan." Timpal ibunya.


Semua mengiyakan dan menuju ruang makan.


Kali ini Elma yang melayani mantan suaminya, yakni mengambilkan sarapannya. Sedangkan Virzo tidak ada penolakan sama sekali.


"Ini, aku ganti yang semalam, sekarang aku mengambilkannya untukmu." Ucap Elma sambil meletakkan bakpaonya.


Virzo tersenyum tipis.


"Terima kasih." Jawab Virzo sambil menatap wajah mantan istrinya.


"Sama-sama, silakan dimakan." Ucap Elma sambil menyuapi mulutnya sendiri.

__ADS_1


Begitu juga dengan Virzo, dirinya menyuapi dirinya sendiri. Sedangkan Tuan Arsen yang melihat putranya tidak bersemangat, merasa kasihan dan ikut sedih karena harus ditinggal pulang ke kampung halaman oleh mantan istrinya.


__ADS_2