Istri Terbuang Dari Suami Kedua

Istri Terbuang Dari Suami Kedua
Menghubungi keluarga


__ADS_3

Setelah kesehatan Elma sudah lumayan membaik, Virzo segera menghubungi nomor telepon rumahnya.


"Bi, Papa mana?" tanya Virzo lewat sambungan telepon milik pihak rumah sakit.


Asisten rumah orang tuanya seraya tidak percaya ketika mendengar suara anak majikannya.


"Tuan, Tuan Virzo, benarkah ini Tuan Virzo?" tanya asisten rumah seperti mimpi saja.


Virzo kembali memastikannya.


"Ya, Bi, ini aku Virzo. Papa atau Mama, atau Airo, dimana mereka, Bi?"


Virzo kembali bertanya, sudah tidak sabar untuk bicara dengan ayahnya maupun ibu dan adiknya.


"Sebentar, Tuan. Tunggu sebentar, Bibi akan memanggil Nyonya." Jawabnya dan segera memanggil istrinya Tuan Arsan.


Saat itu juga, istrinya Tuan Arsan baru saja keluar dari kamar.


"Nyonya, tunggu."


"Ya, Bi, ada apa?"


"Itu, ada telepon dari Tuan Virzo, Nyonya."

__ADS_1


Bagai mendapat keajaiban ketika mendengar ucapan dari asisten rumahnya.


"Telepon dari Virzo? bibi gak lagi bohong, 'kan?"


"Tidak, Nyonya, saya yakin yang telepon tadi itu Tuan Virzo." Jawabnya meyakinkan.


Tanpa menjawabnya lagi, istri Tuan Arsan bergegas untuk menerima panggilan dari putranya. Meski bukan anak kandung, Virzo tetap mendapat kasih sayang dari ibu tirinya seperti Airo, keduanya tidak ada yang dibedakan, kedua keduanya sama-sama mendapat kasih sayangnya.


"Virzo! putraku samar, benarkah?"


Ibu tirinya lari kecil karena tidak sabar untuk mendengar langsung suara putranya.


"Virzo, ini kamu 'kan, Nak? bagaimana keadaan mu? terus, kamu ada dimana? Elma, bagaimana dengan Elma, Nak? kalian berdua baik-baik saja, 'kan?" tanya ibu tirinya memberondong banyak pertanyaan lantaran khawatir dengan keselamatan Virzo dan Elma.


"Aku dan Elma selamat, Ma. Tapi, Elma sedang dirawat di rumah sakit karena tadi sempat pingsan saat kita berdua tergulung ombak besar. Untuk Elma, keadaannya sudah lumayan membaik. Aku cuma mau minta sama Mama, tolong sampaikan sama Papa untuk menjemput aku dan Elma di dekat Dermaga Pelabuhan." Jawab Virzo.


Ibu tirinya menghela napasnya dengan lega, kekhawatiran yang hampir menjadi kabar duka, akhirnya yang dikhawatirkan telah selamat.


Virzo yang merasa tidak ada lagi yang dibicarakan, menutup panggilan telepon. Sedangkan ibu tirinya segera menghubungi suaminya untuk memberi kabar bahwa Virzo dan Elma selamat dari insiden kecelakaan pada kapal yang ditumpangi.


Tuan Arsan yang baru saja memproses masalah orang-orang yang menyerahkan diri, tiba-tiba mendapat telepon dari rumah. Secepatnya Tuan Arsan segera menerima panggilan telepon.


"Apa! Virzo dan Elma selamat? syukur lah. Baik, Papa sama Airo akan segera menyuruh orang kepercayaan Papa untuk menjemput mereka. Kalau gitu Papa mau langsung pulang." Ucap Tuan Arsan yang akhirnya dapat bernapas lega ketika mendengar kabar baik dari istrinya.

__ADS_1


Setelah itu, panggilan telepon pun ditutup.


"Siapa yang menelpon, Pa?" tanya Airo yang baru saja menghampiri ayahnya.


"Kakak kamu, Ai. Kakak kamu selamat, juga dengan Elma. Papa mau menyuruh kamu untuk ikut menjemput kakak kamu di dekat Dermaga Pelabuhan. Nanti akan Papa perintahkan orang kepercayaan Papa untuk menemani kamu." Jawab sang ayah.


"Baik, Pa. Kalau gitu aku mau langsung berangkat." Ucap Airo dan segera bergegas menuju tempat tujuan, yakni dimana kakaknya berada.


Di lain sisi, Virzo yang tengah menemani mantan istrinya, pun telah datang salah seorang anggota polisi untuk mengidentifikasi agar masuk dalam korban yang selamat.


Setelah diidentifikasi, Virzo bersama mantan istrinya untuk di bawa ke tempat para korban di kumpulkan.


Selama perjalanan, Elma tengah bersandar di bahu mantan suaminya karena fisiknya yang masih lemah.


Sampainya di tempat tujuan, Virzo dan mantan istrinya tengah berkumpul bersama para korban insiden kapal yang tenggelam.


Sambil menunggu penjemputan dari pihak keluarga dan pengantaran para korban untuk kembali ke rumah masing-masing, semua tengah duduk sambil menunggu.


"Ini, minumlah, agar pikiran kamu sedikit tenang. Kita akan pulang ke kota. Lupakan dulu untuk pulang ke kampung halamanmu. Masih ada waktu entah kapan kita akan berkunjung, yang utama sekarang ini adalah kondisi kesehatan kamu." Ucap Virzo kepada mantan istrinya sambil menyodorkan satu botol air mineral.


"Ya, aku nurut saja sama kamu." Jawab Elma dengan lesu, ingatannya masih terngiang ketika dirinya tergulung ombak.


Entah apa jadinya jika dirinya tidak mantan suaminya, yang ada dalam pikiran Elma bahwa dirinya mungkin saja tidak selamat, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2