
Virzo langsung merangkulnya, dan juga memeluk. Tidak peduli baginya dengan statusnya yang belum sah, secepatnya setelah lewat dari waktu yang ditentukan oleh pengadilan, Virzo akan segera menikahi mantan istrinya lagi.
Penyesalan dimasa lalunya telah dijadikan pelajaran yang begitu berharga dalam hidupnya. Tentu saja, Virzo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kedua kalinya, kesempatan untuk hidup bersama dengan istri tercintanya.
Cukup lama menunggu, tidak terasa sudah malam, para korban yang belum dijemput atau diantar pulang, kini diminta untuk menginap di Dermaga dalam sementara waktu.
Karena sudah waktunya untuk makan malam, setiap para korban tengah dibagikan nasi bungkus satu persatu.
"Makanlah, isi dulu perut kita. Sambil menunggu jemputan, kita bisa menikmati makanan ini bersama dengan yang lainnya." Ucap Virzo, Elma pun mengiyakan.
Sambil menikmati makan malam bersama para korban, Virzo dan Elma terus berdoa dan berharap akan segera datang penjemputan. Cukup lama menunggu hingga merasa kantuk, belum juga datang.
Merasa kasihan dengan kondisi mantan istrinya, Virzo langsung menarik tubuh Elma dan menidurkan di pangkuannya.
"Jangan protes, tidurlah sampai ada yang menjemput kita. Kondisimu fisikmu belum stabil, tidurlah." Ucap Virzo.
Elma yang tidak bisa menolak dan badannya memang sedang kurang sehat, akhirnya nurut dan tidur dipangkuan mantan istrinya.
Di lain sisi, Airo yang baru saja sampai di Dermaga, pun langsung menuju ke tempat dimana para korban di kumpulkan.
"Permisi, Pak. Saya mau menjemput kedua kakak saya yang menjadi korban tenggelamnya kapal." Ucap Airo yang sudah tidak sabar untuk melihat kondisi kakaknya.
"Atas nama siapa, ya?"
"Virzo dan Elma."
"Baik, kami akan memanggilnya, tunggu sebentar." Ucapnya dan bergegas memanggil korban yang bernama Virzo dan Elma.
Sampainya di tempat istirahat untuk para korban, pak polisi memanggil namanya.
"Virzo, Elma, apakah disini ada orangnya?"
__ADS_1
Virzo yang hampir tertidur, pun langsung membelalakan kedua matanya dan juga langsung mendongak.
"Virzo! Elma!"
"Saya, Pak." Sahut Virzo yang ada dipojokan sambil melambaikan tangannya.
"Kemari lah, keluarga anda sudah datang." Ucapnya.
Virzo yang mendengar kata keluarga sudah datang, pun langsung tersenyum sumringah. Saat itu juga, Virzo mengguncang tubuh mantan istrinya agar terbangun dari tidurnya.
"El! Elma, bangun. Kita sudah dijemput, ayo bangun." Panggil Virzo yang juga sambil menepuk pipinya agar terbangun dari tidurnya.
Elma yang dikagetkan, pun langsung bangkit dari posisi tidurnya.
"Ada apa, Vir? terjadi gempa kah? atau akan ada tsunami?" tanya Elma karena efek belum sempurna kesadarannya.
"Kita sudah dijemput, ayo kita pulang." Jawab Virzo dan langsung menarik tangannya untuk mengikuti ajakan pak polisi.
Dari kejauhan, Airo dapat melihat kakaknya yang tengah menggandeng mantan istrinya.
Virzo yang mendengar suara teriakan adik laki-lakinya yang memanggil namanya, pun langsung membalas dengan lambaian tangan sambil menggandeng tangan mantan istrinya.
Saat sudah saling berhadapan, Virzo langsung mendapat pelukan dari Airo.
"Syukur lah Kak Virzo dan Kak Elma selamat, kita semua sekeluarga sudah panik. Ayo, ayo kita pulang. Papa dan Mama sudah menunggu." Ucap Airo dan mengajak pulang.
Karena memang sudah lelah dan ingin istirahat, Virzo dan Elma segera naik ke mobil dan istirahat di dalamnya.
.
.
__ADS_1
.
Namun tidak untuk Virzo, tiba-tiba rasa kantuknya hilang begitu saja.
"Untung saja, Ai."
"Kenapa, Kak?"
"Kita berdua hampir saja mati. Mana kita berdua sudah tidak kebagian pelampung, ditambah lagi ombaknya gede banget. Juga, kita tergulung ombak dan terseret hingga ke tepian. Entah bagaimana keadaanku dengan Elma kalau sampai tidak selamat, mungkin akhir cerita hidupku dengannya telah berakhir."
"Tapi kenyataannya, Kakak masih diberi keselamatan. Juga, Kakak perlu tahu mengenai insiden kecelakaan kapal yang di tumpangi Kakak, itu ada yang menjalankan perannya. Saat kapal sudah tenggelam, maka datanglah beberapa orang telah menyerahkan diri ke rumah." Ucap Airo dengan jujur.
"Apa! ada yang menjalankan peran, katamu?"
Airo menganggukkan kepalanya.
"Benar, ada yang menjalankan peran atas musibah yang menimpa Kakak."
"Siapa orangnya, Airo?"
Virzo mengepal kuat pada kedua tangannya, rahangnya pun berubah menjadi keras.
"Gianta, mantan suami keduanya Kak Elma."
Seketika, Elma yang mendengarnya, pun langsung bangun dari tidurnya.
"Apa! katamu? Gianta yang sudah melakukan kejahatan?"
Airo terkejut saat melihat Elma sudah bangun.
"I-iya, Kak. Sekarang Gianta sedang dalam pengawasan polisi, juga secepatnya akan segera ditangkap." Jawab Airo yang akhirnya mengungkapkannya.
__ADS_1
Rasa kecewa dan sakit hati karena diceraikan begitu saja, kini harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan ketika mendengar bahwa mantan suami yang kedua lah yang sudah melakukan kejahatan. Sungguh, Elma tidak pernah menyangka kebenciannya begitu dalam terhadap dirinya juga kepada mantan suaminya yang kedua.
Napas yang awalnya teratur, kini terasa panas setelah mengetahui kebenarannya.