Istri Terbuang Dari Suami Kedua

Istri Terbuang Dari Suami Kedua
Diantar pulang


__ADS_3

Begitu juga dengan Virzo, dirinya menyuapi dirinya sendiri. Sedangkan Tuan Arsen yang melihat putranya tidak bersemangat, merasa kasihan dan ikut sedih karena harus ditinggal pulang ke kampung halaman oleh mantan istrinya.


Cukup lama menikmati sarapan pagi, akhirnya semua sudah selesai dan bergegas bangkit dari posisi duduknya masing-masing.


"Nak Elma, kamu yakin sudah memikirkannya dengan matang-matang? takutnya kamu pulang ke kampung bukan niatan dari hatimu. Jadi, Mama minta sekali lagi sama kamu untuk memikirkannya lagi."


"Keputusan Elma sudah bulat, Ma. Elma sudah pikirkan matang-matang sebelumnya. Maafkan Elma dengan keputusan ini, Ma." Jawab Elma dengan keputusan yang ia ambil.


"Kalau kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Virzo akan mengantarkan kamu pulang sampai di kampung halamanmu, Nak. Kamu seorang perempuan, gak baik pulang sendirian. Meski bisa dibilang aman dengan naik mobil yang bisa sampai di depan rumahmu, tetap saja kami khawatir dengan keselamatan mu. Jadi, nanti Virzo yang akan mengantarkan kamu pulang." Ucap Tuan Arsen.


Elma sendiri tidak bisa berkata apa-apa ketika Tuan Arsen angkat bicara. Kemudian, Elma sekilas menoleh ke Virzo.


"Baik, Pa. Elma tidak akan menolaknya." Jawab Elma yang akhirnya mengiyakan.


"Ya udah kalau kamu sudah siap untuk pulang, Virzo akan mengantarkan kamu pulang." Ucap Tuan Arsen, Elma pun mengiyakan dan berpamitan kepada orang tuanya mantan suami, juga Airo.


Setelah berpamitan, Elma dan Virzo segera berangkat ke Dermaga Pelabuhan. Selama menempuh perjalanan, Elma dan Virzo sama-sama diam di dalam mobil hingga sampai ke tempat tujuan.


"Kita sudah sampai di Dermaga, ayo kita turun. Maaf, aku sengaja tidak membawa mobilku, dan aku akan meninggalkannya di sini. Nanti biar supir ku yang ambil, aku ingin menikmati perjalananku bersamamu." Ucap Virzo.


"Terserah kamu, bukan urusanku." Jawab Elma yang langsung berjalan begitu saja, bahkan dia lupa kalau dirinya tidak membawa uang sepersen pun.


'Sialan, padahal aku mau pinjam uang ke Bi Nani, jadi gak pegang duit 'kan? benar-benar sial akunya.' Batin Elma dengan kesal.


"Kok berhenti, gak tega ya ninggalin aku? sama, aku juga gak tega."

__ADS_1


"Sapa yang gak tega ninggalin kamu, gak ya. Kamu kalau ingin pulang, ya pulang aja kamunya. Gak perlu repot-repot nganterin aku pulang, karena aku sudah tahu jalan pulangnya. Jadi, aku gak butuh kamu lagi."


"Tapi butuh ini, 'kan? meski hal sepele dan sangat murah, tapi ini sangat sulit buat didapatkan."


Elma mendengus kesal.


"Sudahlah, kamu gak perlu marah marah denganku. Ayo kita masuk kedalam, aku akan mengantarkan kamu sampai rumahmu." Ucap Virzo yang langsung menarik tangannya Elma masuk kedalam kapal.


Elma yang tenaganya berkurang, sama sekali tidak bisa untuk melawannya. Susah payah dirinya untuk memberontak agar bisa melepaskan tangan mantan suaminya.


Ketika sudah berada di dalam kapal, Elma dan Virzo tengah duduk di tempat yang paling sepi, dan sedikit ada orangnya, dimana lagi kalau bukan di bagian atas kapal.


Sedangkan di tempat lain, tengah tertawa dengan sebuah rencananya.


"Kamu seriusan, Bos? apa tidak menjadi masalah besar kalau ketahuan? memb_unuh dua orang harus mengorbankan banyak orang, Bos?"


'Bukan Bos saja yang akan tertangkap, tapi saya juga.' Batin salah seorang anak buahnya.


Karena tidak ingin dirinya terlibat lebih dalam permasalahannya, memilih untuk menyelamatkan diri dari hukuman yang berat.


'Aku harus menghentikannya." Batinnya yang di hantui dengan perasaan takut.


Sedangkan semua penumpang di dalam kapal mulai merasakan sesuatu yang mengkhawatirkannya. Begitu juga dengan Elma maupun Virzo, sama-sama mendadak ketakutan ketika keseimbangan kapal mulai goyah.


"Ada apa ini, Vir? kenapa kapalnya bergoyang seperti ini?"

__ADS_1


Elma yang ketakutan, pun mulai mendekat di sisinya mantan suami. Suara peringatan bahaya telah didengarkannya oleh semua para penumpang, dan seisi kapal dibuatnya panik dan juga takut.


Virzo yang takut dengan hal buruk, segera turun dari atas kapal untuk berkumpul dengan para penumpang lainnya.


Saat sudah berkumpul, semua mendapat pelampung untuk menjadi alat penyelamat diri. Ketika giliran Virzo dan Elma, sudah kehabisan pelampung. Sungguh nasib baik yang tidak memihak dirinya.


"Mana! pelampungnya? Mana! kenapa kami tidak kebagian? ha!" bentak Virzo semakin geram dibuatnya, lantaran dirinya tidak kebagian pelampung.


Saat itu juga, Virzo langsung menarik paksa lelaki yang ada di dekatnya.


"Berikan pelampung mu kepada istriku, aku yakin kalau kamu bisa berenang." Ucap Virzo yang berpura-pura jika dirinya suami istri.


Lelaki itu menyeringai.


"Kalau aku tidak mau melepaskan pelampung ini, kenapa? aku juga tidak mati sia-sia. Meski aku bisa berenang, aku juga tidak mau menjadi bodoh. Salah kamu sendiri tidak maju lebih dulu." Jawabnya.


"Tenang saja, aku ada ide, ayo ikut aku." Ajak Elma yang langsung menarik tangannya Virzo.


Situasi yang sudah sangat panik, Elma masih terlihat santai.


"Kita cari sesuatu yang bisa mengapung, agar kita selamat dari musibah ini."


Saat itu juga, arah pandangannya Elma tertuju pada sebuah wadah air yang berupa dilgen. Elma langsung mendekatinya dan mengambil dua dilgen.


"Untuk apa, ini?" tanya Virzo yang merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh mantan istrinya.

__ADS_1


"Ini akan menjadi alat bantu kita, agar kita tidak tenggelam. Ayo kita cari kain panjangnya untuk mengikat tangan kita dengan dilgen ini. Juga, tangan kita diikat agar kita tidak terpisah." Jawab Elma dengan ide yang pernah ia baca di sebuah cerita, dan dirinya ingin menggunakan cara yang sama untuk menyelamatkan diri bersama mantan suaminya, pikir Elma yang merasa sudah buntu dengan idenya.


Setelah mendapatkan kain panjang, Elma segera meminta bantuan kepada Virzo untuk mengikatkan tangannya dengan kencang. Keduanya benar-benar dibuatnya sibuk. Lebih lagi dengan kondisi kapal yang sudah sangat memprihatinkan, tentunya semua penumpang dibuatnya was was.


__ADS_2