
Setelah Virzo pergi ke kantor, kini tinggallah Elma dan Reina di rumah.
"El, mau gak, kamu temani aku jalan-jalan. Tenang, nanti aku minta izin. Lagi pula kalau di rumah nanti jenuh, dan kebetulan juga aku sedang tidak ada kesibukan hari ini, bagaimana, mau ya?"
"Em .... gimana ya, aku takutnya nanti ngerepotin kamu. Terus, kena marah sama suami kamu, bagaimana?"
"Ngomong apaan sih kamu, El. Tunggu sebentar ya, aku mau nelpon sama minta izin, sekalian ambil baju ganti untuk kamu. Masa iya, kamu mau pakai baju cowok, gak lah. Tunggu ya, aku ambilkan dulu bajunya." Ucap Reina.
Elma mengangguk dan tersenyum.
"Makasih banyak, ya. Maaf banget kalau aku sudah ngerepotin kamu." Jawab Elma yang masih merasa tidak enak hati.
"Gak lah, aku tidak merasa direpotkan. Ya udah, aku mau ke kamar dulu." Ucapnya dan bergegas pergi ke kamar untuk menelpon Virzo sekaligus mengambilkan baju ganti untuk Elma.
Elma yang merasa tidak enak hati, ingin rasanya segera pergi dari rumah mantan suaminya.
"Aku harus gimana, Reina terlalu baik kepadaku. Aku takut jika kehadiran aku ini nanti akan menimbulkan masalah untuk hubungan mereka, dan aku juga tidak ingin dikatai wanita perempuan perebut suami orang. Aku tahu bagaimana rasanya suami sendiri dimiliki oleh wanita lain, aku sudah dua kali merasakannya." Gumamnya penuh rasa takut, jika dirinya akan diterpa masalah yang lebih besar lagi.
Sedangkan Virzo yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, kembali teringat dengan mantan istrinya yang ada di rumah.
"Aih! kenapa aku terus memikirkannya. Ingat Virzo, ingat, kamu sudah pernah memberinya luka, jangan berharap mantan istrimu akan menyukaimu." Gumamnya mengerutuki diri sendiri.
Kemudian, terdengar suara ponselnya yang berdering, Virzo segera meraihnya dan menerima panggilan telepon.
"Boleh, tapi ingat waktu. Satu lagi, awasi dia dan jangan sampai kabur." Ucap Virzo memberi pesan kepada Reina.
Setelah itu, Virzo menyudahi panggilan telepon.
Saat itu juga, Virzo dikagetkan dengan suara bel pintu di ruang kerjanya, dan langsung menekan tombol penghubung pintu. Dengan cepat kilat, pintu pun terbuka dengan sendirinya.
__ADS_1
"Permisi, Tuan." Ucapnya yang berdiri di ambang pintu.
"Silakan masuk." Sahut Virzo sambil menatap layar komputer. Kemudian, ia mendongak ketika sekretarisnya telah menghadap pada dirinya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Hari ini ada yang mengajak melakukan pertemuan penting dengan rekan bisnis baru, apakah Tuan akan menerimanya? waktu nanti siang."
"Siapa?"
"Tuan Gianta Pramaja."
Virzo langsung bangkit dari posisi duduknya dan tangan kanannya menggebrak meja kerjanya.
"Kamu bilang siapa tadi? Gianta Pramaja?"
"Benar, Tuan." Jawabnya dengan sedikit menunduk.
"Apa tidak ada yang lain, selain Gianta Pramaja?"
"Sudah tidak ada lagi, Tuan. Ada pun sepertinya Tuan tidak akan pernah menerimanya."
"Kenapa?"
"Karena yang mengajak kerja sama dengan Tuan adalah mantan istri Tuan yang kedua, Nona Yolinda." Jawabnya.
"Ya udah, urus saja pertemuanku dengan Gianta." Ucapnya yang akhirnya menerima pertemuan dengan mantan suami mantan istrinya.
Setelah menyetujui ajakan pertemuan, Virzo mengepal kuat pada kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku mau lihat, sehebat apa mantan suaminya Elma." Ucapnya lirih dengan penuh rasa penasaran.
Setelah menyetujui, Virzo segera kembali duduk dan menyelesaikan pekerjaannya.
Lain lagi dengan Elma dan Reina, keduanya tengah dalam perjalanan ke tempat tujuan. Virzo yang mendapat kiriman video sepenggal, pun tersenyum melihat video tersebut yang memperlihatkan mantan istrinya tengah melakukan perjalanan menuju tempat hiburan.
"Semoga ini awal yang baik, untukku dan dirinya." Ucap Virzo sambil melihat video kiriman dari Reina.
"Ekhem! video apa itu, mana coba aku lihat, sepertinya seru itu."
"Airo! kamu! berikan ponselnya padaku, cepat. Apa perlu aku laporkan sama Papa, bahwa kamu bukannya kerja justru mengganggu kakak mu ini." Bentak Virzo dengan kesal.
Airo bukannya mengembalikan ponselnya, justru tengah melihat video yang baru saja diputar oleh kakaknya.
"Bukankah ini mantan istrinya Kak Virzo? hayo loh Kakak ketahuan."
"Apa-apaan sih kamu, cepat berikan ponselnya padaku."
"Tunggu tunggu, kek di rumah kakak videonya, ngaku loh, nanti aku adukan Mama sama Papa, kalau Kakak membawa Kak Elma ke rumah."
"Airo! ini urusannya orang dewasa, cepat berikan ponselnya padaku. Terus, kamu lanjutkan pekerjaan mu."
"Ekhem! ada apa kalian berdua ribut-ribut di dalam kantor, ha?"
"Eh Papa, ini Kak Virzo ketangkap basah. Nih Pa, coba lihat deh."
"Airo!" bentak Virzo yang terus berusaha untuk merebut ponselnya yang ada ditangan adiknya.
Ponselnya pun akhirnya telah berada di tangan ayahnya. Dengan sengaja, Airo menunjukkan video yang baru saja ia terima dari Reina.
__ADS_1