
Wendi yang sudah sangat lapar segera menyantap makanan yang dibawa oleh Caca tadi. Ia sangat menikmati karena ternyata benar bahwa masakan mantannya itu sangat enak. Rasanya ingin minta tambah tapi Wendi harus membatasi.
Selesai makan siang, ia duduk-duduk di sofa dengan santai. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Ia segera memeriksa karena berharap bahwa itu adalah pesan dari istrinya namun ia sangat kaget karena ternyata itu chat dari Caca.
"Sayang, pertemuan kita tadi membuatku gelisah. Rasa yang pernah ada ketika kita masih duduk di bangku SMA kini bersemi kembali. Saya rasa kamu pun begitu. Iya kan?" chat dari Caca disertai dengan gambar hati.
Hati Wendi dag dig dug setelah membaca pesan tersebut. Ia mengabaikan tanpa ada niat untuk membalas. Pikirannya sedang kacau namun beberapa saat kemudian, ponselnya berdering lagi tanda bahwa ada lagi pesan yang masuk.
"Saya mau mengulang apa yang pernah kita lakukan dulu sayang. Kamu pasti juga selalu ingat karena saya adalah cinta pertamamu. Hubungi saya kapan saja atau sekarang juga boleh, mumpung istri dan anak-anakmu belum pulang!" pesan dari Caca semakin panas membuat Wendi panas dingin.
"Maaf Caca, saya bukan suami yang suka gonta-ganti pasangan. Jadi tolong jangan ganggu saya lagi!" Wendi mengirim balasan dan langsung mematikan ponselnya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sedangkan ingatannya kembali ke masa lalu, masa SMA.
Kala itu ia menjalin hubungan dengan Caca sebagai sepasang kekasih. Hubungan keduanya boleh dikata berjalan dengan mulus hingga suatu hari, Caca mengajak Wendi ke rumahnya sepulang dari sekolah. Kemarin mereka sudah selesai melakukan Ujian Nasional, jadi hari ini sudah tidak ada lagi kegiatan tapi mereka masih dituntut untuk datang ke sekolah dan saat ini mereka pulang lebih awal dari biasanya karena para guru sedang mengadakan rapat.
"Wen, antar dulu saya pulang!" pinta Caca dengan senyum manisnya.
Dengan senang hati Wendi menganggukkan kepala dan Caca segera naik ke motor dan memeluknya.
"Ayo, masuk dulu!" ajak Caca ketika mereka sudah tiba di rumahnya.
"Nggak usah deh, nanti dicari Ibu," tolak Wendi dengan halus.
"Hari ini kan kita pulangnya cepat, nggak mungkinlah kamu akan dicari. Ibumu pasti berpikir bahwa kamu masih di sekolah," bujuk Caca sambil menarik lengan Wendi agak kuat sehingga ia pun mengikuti kemauan Caca.
Suasana rumah sangat sepi. Kedua orang tua Caca sedang keluar kota untuk mengurus bisnisnya dan adik Caca belum pulang dari sekolah.
Wendi duduk di ruang tamu dan Caca ke dapur untuk mengambil minuman dingin lalu keduanya minum karena lagi gerah oleh panasnya sinar matahari.
Caca mulai melancarkan rencananya. Ia duduk dengan kaki terbuka lebar memperlihatkan paha mulusnya karena rok yang dikenakan terangkat ke atas. Wendi mencoba mengalihkan pandangannya karena hatinya mulai berdebar-debar tidak karuan.
Caca semakin nekat. Ia menggeser duduknya lebih merapat ke samping Wendi.
"Nggak usah takut sayang, nggak ada siapa-siapa kok di rumah!" katanya sambil melingkarkan tangannya di leher Wendi yang tampak sangat kaku.
__ADS_1
"Jangan Ca, saya nggak berani!" ucap Wendi dengan gemetar karena Caca telah membuka kancing bajunya bagian atas sehingga dua gundukan menyembul keluar.
"Ayolah!" Caca kembali menarik lengan Wendi dan membawanya ke kamar. Setelah keduanya berada di dalam kamar, Caca buru-buru mengunci pintu.
Caca melucuti pakaiannya karena sudah tidak sabaran lagi. Wendi berdiri mematung namun ia merasakan sesuatu di bawah sana sudah menegang dan tak dapat dikendalikan.
Caca mendekati dan meraih tangannya lalu menuntunnya untuk mengelus gundukan di dadanya yang sudah menantang. Wendi tak bisa menolak dan ia pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Caca, bahkan ia tidak menyadari kalau pakaiannya juga sudah dibuka oleh Caca.
Wendi masih sangat polos dengan hal ini bahkan ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Caca seolah paham dengan pacarnya yang belum berpengalaman ini sehingga ia yang mengambil alih permainan yang hendak dilakukan.
"Gimana kalau kamu hamil?" tanya Wendi dengan ragu.
"Nggak masalah, kamu bisa nikahin saya. Toh kita sudah ujian," sahut Caca dengan nafas yang tersengal. Ia sudah tidak sabar dengan apa yang ada di depan mata. Tubuh yang atletis dan bersih sangat menantang dan menggiurkan.
Dengan mengikuti panduan dari Caca akhirnya Wendi mulai mengerakkan tangannya mengikuti arahan dari kekasihnya. Bibir dan tangan bekerja secara bersamaan menimbulkan suara ******* saling bersahutan karena tanpa sadar Wendi juga sudah ikut mendesah.
Hampir satu satu jam keduanya terus bergelut hingga peluh sudah mengucur di tubuh. Pergulatan sengit akhirnya berakhir juga disertai erangan panjang. Caca tersenyum puas dengan apa saja yang baru ia rasakan.
Wendi merasa malu, ia segera mengambil pakaiannya dan memakainya satu satu per satu lalu cepat-cepat keluar dari kamar Caca. Caca pun segera berpakaian dan memburu Wendi ke luar.
"Duduklah dulu, saya akan buat minuman untukmu!" bujuknya ketika melihat Wendi sudah menghampiri kendaraannya.
"Nggak usah Ca, saya langsung pulang saja," sahutnya tanpa menoleh ke arah Caca.
Dalam perjalanan Wendi tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama dengan Caca. Suatu hal yang seharusnya belum boleh dilakukan tapi penyesalan tinggal kenangan karena semuanya telah terjadi. Dan yang lebih parahnya, ia ikut menikmati dengan penuh perasaan.
Dua hari kemudian, Wendi sedang berada di toilet sekolah. Tiba-tiba ia tak sengaja mendengar percakapan antara Anto dan Fredi.
"Semalam seru bangat ya! Gimana kalau nanti malam kita ke rumahnya lagi mumpung orang tuanya masih di luar kota?" usul Anto dengan semangat.
"Pastilah, saya udah ketagihan loh. Caca memang perempuan hebat dan kuat. Bisa melayani dua laki-laki sekaligus," sahut Ferdi dengan tersenyum.
Wendi sangat geram mendengar percakapan kedua teman kelasnya itu. Dengan tangan terkepal ia kembali memasang pendengarannya di dinding toilet.
__ADS_1
"Tapi, gimana kalau Caca hamil?" tanya Ferdi.
"Itu soal gampang kawan, Ada Wendi, pacarnya yang akan bertanggung jawab," jawab Anto sambil terkekeh.
"Iya juga ya, kamu memang hebat kawan. Oke kalau begitu. Jangan lupa jemput saya nanti malam!"
"Oke. Siap,"
Keduanya lalu pergi. Sementara itu Wendi menahan rasa emosi yang meluap-luap di hatinya. Tanpa sadar ia menendang dinding tembok membuat kakinya sakit.
Malam hari ia sudah bersiap untuk mengintai rumah Caca. Tak lama kemudian Anto dan Ferdi memasuki halaman rumah dan langsung memarkir kendaraannya. Setelah pintu rumah tertutup, Wendi mendekat. Ia berada tepat di jendela kamar Caca sehingga ia dapat merekam suara dari kamar tersebut. Sebenarnya Wendi sangat jijik mendengar percakapan mereka bertiga tapi ia harus mendapatkan bukti.
Sebenarnya adegan mereka belum selesai tapi Wendi juga sudah tak tahan berada di tempat itu, akhirnya ia pergi agak menjauh lalu menghubungi Caca lewat nomor ponsel.
"Ya, halo sayang," suara Caca dibuat semanis mungkin membuat Wendi ingin muntah.
"Saya rindu sayang. Bolehkah saya bertamu malam ini ke rumahmu?" Wendi berpura-pura dengan suara manja.
"Maaf sayang, soalnya ayah dan ibuku sudah pulang dari luar kota,"
"Yang benar?"
"Iya sayang, besok aja yah!"
"Jangan harap saya masih akan menemuimu. Mulai sekarang kita putus!" suara Wendi mulai meninggi.
"Jangan sayang, besok saya janji akan memperbolehkan kamu datang ke rumahku dan kita.... "
"Kita putus sekarang! Silahkan puaskan itu kedua laki-laki yang sedang bersamamu dan ingat, jika terjadi sesuatu padamu, jangan coba-coba melibatkan nama saya karena sekarang saya punya bukti tentang penghianatanmu. Dasar cewek murahan!" umpat Wendi lalu mematikan ponselnya.
"Wen, Wendi!" teriak Pak Dani membuat Wendi tersadar dari lamunanya. Ia kaget bukan kepalang karena baru saja ia seolah bermimpi mengingat masa lalu.
"Eh, Ayah. Mari masuk!" seru Wendi mempersilahkan ayahnya untuk masuk ke dalam rumah dengan senang.
__ADS_1