ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
14. Semakin Curiga


__ADS_3

Sari sangat gelisah karena sudah lewat tangah hari suaminya belum pulang juga ke rumah. Pikiran negatif mulai muncul. Jangan-jangan ia pergi bertemu dengan perempuan yang bernama Caca itu. Rasa cemburu mulai mengikis kepercayaan yang selama ini ia pertahankan demi keutuhan rumah tangganya.


Ia merasa tak sebanding dengan Caca yang cantik dan seksi. Kulit yang putih dan mulus serta penampilan yang aduhai akan membuat mata setiap laki-laki yang melihatnya akan merasa dimanjakan.


Mungkin karena pengaruh stres, Sari tak punya nafsu makan sehingga tubuhnya lemas dan kepalanya berdenyut-denyut dan rasanya seperti berputar-putar membuat ia pusing.


Sore hari ia memaksakan diri untuk bekerja di kebun sayur namun baru beberapa menit ia mencabuti rumput liar, pandangannya sudah berkunang-kunang. Ia bergegas pulang ke rumah karena takut jika terjatuh dan pingsan di kebun.


Baru saja ia akan masuk ke rumah, tubuhnya hampir ambruk di dekat pintu. Dengan gesit Wendi menopang tubuhnya lalu menggendong dan membawanya masuk ke dalam rumah. Wajah Sari sangat pucat dan ia gemetaran karena sepanjang hari ini hanya dua sendok makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"Harusnya kamu istirahat dulu, Dek!" kata Wendi khawatir melihat wajah istrinya yang pucat. Wendi baru saja pulang dari sawah. Tadi siang ia sempat ke rumah orang tuanya untuk menemui ayahnya dan membicarakan soal pekerjaan di sawah.


Seandainya ia tidak berada di rumah saat ini mungkin Sari akan terjatuh tadi.


"Mama kenapa?" tanya Wira yang baru pulang main dari rumah tetangga.


"Tadi mama hampir jatuh karena badannya sangat lemas," sahut Wendi sambil terus memijit tangan istrinya yang dingin.


"Mungkin Mama lapar soalnya tadi siang ia tidak pernah makan. Tadi pagi juga makannya hanya sedikit sekali," tutur Tasya khawatir dengan kondisi mamanya.


"Kalau begitu, tolong buatkan Mama bubur sekarang!" pinta Wendi kepada Tasya.


Sari menganggap semua perhatian yang suaminya berikan hanyalah untuk menutupi segala perbuatannya, rasa curiga semakin meracuni pikirannya saat ini.

__ADS_1


Tak berapa lama, Tasya datang ke kamar mengantar bubur yang ia sudah buat. Wendi menerimanya dan ia mulai menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang meskipun Sari tampak cuek. Setelah makan bubur, tubuh Sari sedikit mulai bertenaga. Wendi menyarankan agar ia istirahat dulu. Pekerjaan di dapur akan ia kerjakan bersama dengan Tasya dan Tiara.


Sari kembali merebahkan tubuhnya. Wendi menutupi tubuh istrinya dengan selimut lalu bergegas ke dapur. Ia lupa dengan ponselnya yang tertinggal di atas meja dalam kamar.


"Drrttt... drrtt... " getar suara ponsel milik Wendi.


Sari penasan dan ingin melihat siapa yang menelepon suaminya. Baru saja ia hendak bangun, tiba-tiba ia mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Dengan cepat ia menarik selimut dan berpura-pura tidur kembali.


Terdengar suara pintu kamar dibuka dengan sangat hati-hati. Mungkin takut jika mengganggu mamanya yang sedang istirahat.


"Ya, halo!" suara Tiara. Tiara mengangkat ponsel papanya karena ponsel itu masih bergetar saat ia masuk ke kamar.


"Ada Bapak?" suara dari seberang.


"Papa, ini ada telepon!"


"Dari siapa?"


"Penjual makanan," jawab Tiara dengan jujur. Tadi sebelum angkat telepon ia sempat membaca nama si penelepon.


Deg, perasaan Wendi jadi kacau. Caca menghubunginya lagi lewat panggilan telepon. "Apa sih maunya perempuan murahan itu? Apa yang harus kulakukan?" batinnya dalam hati.


"Bilang saja kalau Papa sedang sibuk!" kata Wendi dengan dada yang berdebar-debar. Ia takut jika istrinya tahu siapa yang menelepon, pasti ia akan semakin curiga.

__ADS_1


Tiara menyampaikan hal tersebut kepada si penelepon dan tanpa menunggu respon lagi ia langsung mematikan ponsel milik papanya dan membawanya kembali ke tempat semula.


"Telepon dari siapa?" tanya Sari kepada Tiara karena ia sangat penasaran.


"Dari penjual makanan," jawab Tiara lalu duduk di samping mamanya.


Hati Sari kembali teriris. Ia ingat, kemarin suaminya menjelaskan bahwa Caca itu penjual makanan. Itu artinya mereka sangat dekat sampai telponan segala. Tak terasa air matanya mengalir untuk kesekian kalinya.


Seperti malam kemarin, malam ini ia tidak bisa tidur. Kecurigaannya semakin kuat karena suaminya belum pernah minta jatah padahal mereka sudah berpisah selama dua minggu. Biasanya Wendi akan agresif tapi sudah dua hari Sari pulang dari Makassar, suaminya belum pernah meminta haknya membuat pikiran Sari semakin curiga. Mungkin Caca telah mengisi hari-harinya. Begitulah prasangkah Sari saat ini.


Sari membalikkan tubuhnya dan melihat suaminya tidur memunggunginya. Rupanya Wendi juga belum tidur. Ada suatu gejolak dalam tubuhnya yang sedang merontah-rontah ingin dituntaskan, namun ia ragu untuk menggoda istrinya yang sedang sakit. Bukan hanya sakit secara fisik tapi terlebih sakit hati. Hal itu sangat nampak dari tatapan matanya yang tidak seperti dulu lagi.


Wendi sangat gelisah memikirkan bagaimana cara untuk menghindar dari kejaran Caca. Ia tahu pribadi Caca yang bisa saja menghalalkan berbagai cara untuk bisa memenuhi keinginannya. Ya, Tuhan! Mengapa Engkau mempertemukan saya kembali dengan dia di saat saya sudah bahagia?


Sari memang tidak secantik Caca tapi dia punya banyak kelebihan dan punya daya tarik tersendiri. Semangatnya yang selalu berkobar membuat wajahnya ceria dan membuat orang-orang yang berada di dekatnya akan merasa nyaman. Sejak adanya masalah dalam rumah tangga mereka karena persoalan keuangan membuat suatu perubahan pada sikap Sari. Ditambah lagi dengan permasalahan yang baru, semakin mempengaruhi kepribadiannya.


Ketika Sari melihat suaminya hendak membalikkan tubuhnya, ia segera memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur dengan pulas.


Wendi menatap wajah istrinya dengan berbagai perasaan. Ada rasa kasihan dan ada rasa kecewa karena ternyata Sari sudah tertidur dengan nyenyak. Ia pun bangun dan masuk ke kamar mandi lalu membuka kran air. Apa boleh buat, ia terpaksa melakukan hal ini. Hampir setengah jam ia berada di kamar mandi untuk menuntaskan hasrat yang sudah tidak dapat ditahan lagi.


Kini ia sudah bisa tidur dengan nyenyak, bahkan suara dengkurannya langsung terdengar semakin membuat Sari tidak bisa tidur. Ingatannya kembali ke masa lalu, masa-masa indah bersama dengan Wendi. Semuanya berjalan dengan normal. Namun betul kata pepata 'roda kehidupan terus berputar, kadang di atas kadang di bawah' dan semua ada yang mengaturnya. Kita manusia hanya pasrah dan tetap berserah kepada Yang Maha Kuasa.


Sari bangun dan berdoa. Ia merasa agak baikan setelah berdoa kepada Tuhan, mohon petunjuk untuk bisa bertahan melanjutkan kehidupan ini. Setelah itu ia mencoba untuk memejamkan matanya kembali lalu tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2