ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
37. Berubah


__ADS_3

Dimas bangun karena mendengar suara mobil di luar. Ia kaget saat membuka pintu dan melihat mobil majikannya baru saja dimasukkan ke garasi.


Wendi dan istrinya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat karena semalam keduanya terbangun ketika baru beberapa jam tertidur.


"Sebentar sore kami akan mengajakmu jalan-jalan ke luar biar nggak bosan di rumah terus!" kata Wendi saat melewati Dimas yang masih terbengong-bengong di pintu.


"Nggak usah, saya nggak pernah bosan kok tinggal di rumah," ujar Dimas menolak ajakan tuannya. Ia merasa tidak pantas untuk pergi keluar hanya untuk jalan-jalan bersama majikannya.


"Pokoknya tidak ada alasan, sebentar sore ketika kami sudah istirahat, kamu juga sudah harus siap dengan pakaian yang rapi dan bersih! Saat ini kami akan istirahat dulu karena semalam tidur kami terganggu." kata Wendi dan berlalu masuk ke kamar membuntuti istrinya.


Tiba di kamar ia terkesan dengan penampilan istrinya yang mengenakan pakaian berbahan halus dan tipis. Tanpa pikir panjang ia menggodanya dengan sentuhan maut.


Sari yang baru saja berbaring merasa geli dan membalikkan badan membuat Wendi semakin buas karena buah ranum sedikit menyembul tanpa bra menggelantung bebas sedang menantangnya.


"Bukannya Mas capek dan ingin segera istirahat?" tanya Sari dengan suara manja.


"Benar, Sayang... tapi Mas mau ajak kamu dulu berolaraga," jawab Wendi dan langsung meraba buah mulus yang bergelantungan itu dengan tangan kekarnya. Ia mengelus lalu meremas dengan lembut secara bergantian membuat Sari perlahan memenjamkan mata dan menikmati elusan serta remasan yang menimbulkan sensasi yang begitu nikmat dan tanpa sadar suara ******* keluar dari mulutnya.


"Ibu!" suara Wira terdengar memanggil ibunya dari luar kamar membuat aktifitas di kamar seketika berhenti. Wendi meraih selimut tebal dan menutup tubuh istrinya dan menyuruhnya untuk berpura- pura tidur, sedangkan ia sendiri merapikan pakaiannya yang sudah hampir terbuka lalu membuka pintu kamar.


"Ada apa, Nak?" tanyanya kepada Wira yang sudah berdiri di depan pintu.


"Mau minta uang sama ibu,"


"Bukannya uang jajan sudah ibu siapkan di tempat yang biasa? Kamu tinggal ambil saja!"

__ADS_1


"Wira sudah ambil uang jajan tapi kemarin ibu guru ngomong, hari ini bawa uang untuk memberi sumbangan karena ada orang tua siswa yang meninggal,"


"Ohh, tunggu, Ayah ambil uangnya!"


"Memangnya ibu kemana sih?"


"Ibumu lagi tidur soalnya semalam kami begadang di rumah sakit,"


Setelah menyerahkan uang kepada anaknya, Wendi segera menutup pintu kamar dengan terburu-buru karena sesuatu di bawah sana sudah mengeras.


Perlahan ia menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh istrinya dan kini matanya dimanjakan oleh tubuh Sari yang polos tanpa sehelai kain bahkan terbaring dengan gaya yang menantang dan menandakan bahwa ia sudah siap untuk bertempur.


Dengan tergesa pula, Wendi membuka pakaiannya satu per satu hingga tak tersisa lalu mulai merangkak dengan pelan menyusuri lembah dan pegunungan dan sesekali ia harus berhenti sejenak untuk mengecap dengan nikmat.


Sari tersenyum penuh cinta setelah merasakan sesuatu telah menyatu dengan tubuhnya dan memberikan kehangatan yang terasa sampai di ubun-ubun.


***


Rasa lapar membangunkan Wendi dan Sari dari tidurnya ditambah lagi dengan aroma masakan dari dapur semakin membuat perut ingin segera diisi.


Pembantu yang dipekerjakan sejak dua bulan terakhir ini sangat pintar membuat masakan yang tidak pernah membosankan. Awalnya Sari keberatan saat Wendi menawarkan untuk punya pembantu tetapi alasan suaminya sangat tepat sehingga ia mengalah.


Waktu itu Wendi mengatakan, ia ingin istrinya tidak terlalu capek dan mempunyai waktu banyak mengurus suami dan anak. Sejak itulah mereka memperkerjakan seorang pembantu yang akrab di panggil 'Bi Ela'. Umurya sudah empat puluh lima tahun dan sudah berkeluarga, punya anak dua. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah mereka, masih satu kompleks sehingga Bi Ela tidak usah menginap. Ia bahkan bisa pulang balik ke rumahnya jika pekerjaannya sudah beres.


Suami Bi Ela bekerja sebagai satpam di sekolah SD tempat Wira bersekolah dan ia tidak keberatan jika istrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga, hitung-hitung bisa menambah penghasilan untuk biaya hidup, apa lagi anak pertama mereka sudah duduk di bangku kuliah dan setahun lagi adiknya akan menyusul.

__ADS_1


"Hhhmmm, aroma masakan Bibi membuatku terbangun," ucap Sari menghampiri Bi Ela di dapur.


"Ahh, menunya biasa aja kok," ujar Bi Ela sambil mengatur makanan di meja.


"Oh, ya, sekalian panggil Dimas di luar, kita makan bersama!" pintah Wendi.


Keluarga Wendi sudah terbiasa duduk dan makan bersama dengan mereka sehingga selalu terjalin suasana kekeluargaan.


"Bersiaplah, satu jam dari sekarang kita akan berangkat!" kata Wendi kepada Dimas usai makan siang.


Dimas hanya mengangguk patuh pada perintah majikannya.


"Satu lagi, ada baju di ruang tengah dekat televisi, mudah-mudahan cocok dan kamu suka. Ambil dan pakailah!" sambung Wendi lagi sebelum Dimas berlalu.


Dimas mengambil kresek berisi sepasang pakaian yang dimaksud oleh tuannya dan membawa ke kamar untuk mencobanya. Ia tidak percaya melihat bayangan dirinya di cermin setelah pakaian itu melekat pada tubuhnya. Ditambah potongan rambutnya dengan model baru, semakin menambah ketampanannya. Dan mungkin inilah salah satu kelebihannya yang membuat Rani jatuh cinta kepadanya.


"Dimas! Dimas! Apa kamu sudah siap?" tanya Sari yang lewat di depan pintu kamar.


"Iya, Bu," sahut Dimas dengan sopan. Ia sudah terbiasa memanggil majikannya dengan sebutan 'Bapak dan Ibu' walaupun sebenarnya mereka seumuran.


Wendi dan Sari sudah menunggu di mobil dan tak lama kemudian Dimas pun keluar dari kamar dan berjalan ke arah mereka. Mulut Sari sampai terngaga melihat penampilannya. Sederhana tapi sangat memukau. Demikian juga dengan Wendi, dalam hati ia mengakui ketampanan yang dimiliki oleh Dimas.


"Pandai juga Mas memilih pakaian untuk Si Dimas, semoga Rani terkesan nanti ketika melihatnya," ucap Sari setengah berbisik.


"Iya dong, Mas sengaja membelikan pakaian itu agar Dimas semakin terlihat tampan," sahut Wendi dengan pelan.

__ADS_1


Dimas naik ke mobil dengan pikiran yang tak menentu. Ia heran karena mereka berangkat hanya bertiga, sementara tadi Wendi mengatakan bahwa mereka hendak jalan-jalan. Yang membuat Dimas semakin bertanya-tanya karena tidak ada satu pun anak dari Tuannya yang diajak serta. Namun untuk bertanya ia merasa sungkan.


Sari memandangi wajah Dimas lewat kaca spion. Tampak wajah itu menggambarkan penyesalan yang dalam karena telah menyia-nyiakan keluarganya. Hanya tampilannya kali ini sudah berubah seratus delapan puluh derajat bila dibandingkan saat ia masih jadi kuli di pasar. Rambut panjang tak terurus kini sudah rapi. Sehari ia berada di rumah Wendi, tukang cukur datang memangkas rambutnya sesuai dengan permintaan Wendi.


__ADS_2