ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
39. Masa Lalu Biarlah Berlalu


__ADS_3

Rasa cinta yang masih ada di hati Rani telah mengalahkan sakit hati yang sempat menguasai hidupnya. Ia memeluk Dimas dengan erat.


"Saya sangat mencintaimu dan mulai sekarang kita mulai lagi kehidupan baru!" ujar Rani sambil terisak. Dimas memeluknya dengan erat dan membelainya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang atas cintanya! Coba tatap mata Mas!"


Rani menatap mata suaminya lekat-lekat, dan di sana ia menemukanan cinta da keteduhan yang menimbulkan getar-getar dalam sanubari. Rani merasakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Rasa rindunya semakin menggebu-gebu, rindu dengan sentuhan dan belaian dari suami tercinta.


"Tahukah kamu sayang, kalau Mas ini sangat mencintaimu dan merindukanmu? Namun kesalahan yang pernah kuperbuat kadang membuatku frustasi dan membenci diriku sendiri. Mas merasa tak pantas lagi menjadi pendampingmu, Mas ini sangat hina dan Mas sudah pasrah jika kamu mau menghukumku,"


"Yang lalu biarlah berlalu, mari kita mulai lagi dari awal dan ingat, jika suatu hari terjadi lagi hal yang serupa,maka tidak ada lagi ampun bagimu!"

__ADS_1


"Apakah ada kemungkinan kita pindah dari rumah ini?" tanya Dimas dengan hati- hati.


"Mau pindah ke mana lagi, Mas?" tanya Rani mengerutkan keningnya.


"Mas takut jika perempuan itu datang ke rumah ini dan kembali menggoda saya," sahut Dimas.


"Nggak usah dipikirin lagi masalah itu! Toh sekarang dia sudah mendekam di jeruji besi, lagian juga warga di sini tak akan mengizinkan dia lagi untuk kembali ke kompleks ini," ujar Rani membuat Dimas termangu. Ia ingin menanyakan banyak hal tapi diurungkan niatnya itu untuk bertanya karena takut jika salah ngomong dan bisa saja menimbulkan masalah baru.


"Mulai besok kamu bisa buka toko kembali namun sebelumnya, Mas harus periksa bahan makanan yang sudah kadaluarsa agar dipisahkan jangan sampai membahayakan kesehatan warga!"


Ada hasrat yang sudah menggebu-gebu dalam hati membuat Dimas menatap istrinya penuh harap. Rasa itu semakin kuat dan oleh dorongan rasa itu pula, Dimas meraih dagu istrinya dan mendaratkqn ciuman pada bibir yang seksi itu lalu perlahan ia ******* dengan lembut. Rani membalas ciuman suaminya dan berusaha untuk mengimbangi.

__ADS_1


Sementara tangan kiri Dimas mulai meraba-raba ke berbagai arah membuat Rani merasa geli.


"Ayah..., Ayah!" suara Glen terdengar dari kamar memanggil ayahnya. Dimas melepaskan ciumannya dengan berat dan segera merapikan pakaiannya lalu menghampiri Glen di kamar sedangkan Rani dengan melipat selimut yang semalam di pakai oleh Dimas.


Rani merasakan gairah dalam tubuhnya sedang meletup-letup. Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri karena hari ini ada jadwalnya untuk mengajar.


Sementara ia mengenakan pakaian dinasnya, tiba-tiba Dimas muncul dari arah belakang dan memeluknya. Tangan kekar itu langsung mengelus-elus gunung kembar lalu mencium bahkan mengisapnya dengan lembut.


"Ehh... hentikan dulu, Sayang! Nanti saya terlambat ke sekolah," kata Rani dengan nafas terengah-engah. Sebenarnya ia masih menginginkan sentuhan itu bahkan menginginkan lebih dari itu tapi mengingat tanggung jawab, ia harus bersabar dulu, apa lagi akhir-akhir ini ia sangat jarang ke sekolah.


Dimas melepaskan gunung kenyal dengan perasaan yang berat.

__ADS_1


"Cepat pulang, ya!"


Rani mengangguk sambil tersenyum manis. Ia membunyikan mesin motornya dan perlahan melaju ke jalan raya. Setelah bayangan Rani menghilang di tikungan jalan, Dimas tergesa menemui Glen yang sempat ia tinggal di toilet.


__ADS_2