
Rani menyambut kedatangan Sari di gerbang sekolah. Ia tiba lebih awal dan sengaja menunggu sahabatnya.
Ketika Sari muncul di gerbang ia kaget melihat penampilan sahabatnya yang sangat berubah. Rani sampai ternganga tak percaya.
"Hei, kenapa bengong?" tanya Sari sambil tersenyum.
"Apa ini benar Sari, sahabatku?" tanya Rani sambil meraba rambut Sari.
"Ahh, kamu bisa aja," sahut Sari mencubit pinggang sahabatnya dengan pelan.
"Benar, kamu sekarang cantik bangat! Pasti semua orang akan mengagumimu," ucap Rani masih tercengang dengan perubahan sahabatnya.
"Ya, udalah, yuk kita masuk!" ajak Sari sambil menggandeng tangan Rani.
Keduanya menuju ruangan guru.
"Benar, kamu cantik sekali!"
"Ayo kita masuk!"
Setelah tiba di ruangan guru, keadaan masih lengang. Rupanya mereka datang lebih awal sehingga masih ada waktu untuk berbagi cerita.
Sari mulai menceritakan perihal kejadian semalam yang terjadi di rumahnya. Air matanya mengalir ketika mengungkapkan semua hal tersebut kepada sahabatnya membuat Rani ikut bersedih.
"Kalau menurut saya, kamu harus berubah juga!"
"Maksudnya?"
"Berilah maaf untuk suamimu dan terimalah tawarannya untuk mengatur uang belanja kembali!"
"Tapi... "
"Jangan ragu, coba saja dulu! Toh suamimu juga sudah berkali-kali minta maaf kepadamu. Siapa tahu semuanya akan berubah menjadi lebih baik. Ingat, laki-laki itu kalau sudah punya uang banyak biasanya mudah tergoda. Apa kamu mau suamimu tergoda dengan perempuan lain karena sudah tidak merasa nyaman lagi tinggal di rumah?"
__ADS_1
Sari menggeleng kepala mendengar perkataan Rani. Jujur ia sangat mencintai Wendy dan tak akan membiarkan perempuan lain untuk mendekati suaminya. Apa yang disampaikan oleh Rani persis dengan pendapat ibu mertuanya. Kini ia mulai berpikir bahwa ada benarnya untuk memberi ruang dalam hati untuk memaafkan dan mencoba untuk melupakan masa lalu yang menyakitkan.
"Terima kasih sahabatku yang baik! Saya akan mencoba mengikuti nasihatmu!" kata Sari sambil memeluk Rani dengan erat.
"Nah, gitu dong! Ingat, banyak mangsa yang sedang berkeliaran bahkan ada yang sudah mencoba untuk memberi umpan kepada suamimu. Jadi hati-hatilah!" ucap Rani dengan serius.
Sari paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya. Caca adalah mangsa yang sangat menggiurkan bagi para lelaki yang sedang kehausan.
"Pasti kamu paham dengan maksud saya," kata Rani melihat sahabatnya yang sedang manggut-manggut.
"Sepertinya Caca sudah bosan dekatin Wendi soalnya Wendi soalnya kemarin dulu saya lihat dia jalan lagi dengan pria tapi pria itu bukan Fredi dan sepertinya laki-laki itu nggak terlalu asing,"
"Nggak heran, kalau Caca seperti itu soalnya samtvgya juga sering melihat laki-laki datang bertamu ke rumahnya dan orangnya beda-beda loh. Yang datang ini hari dengan yang datang kemarin,"
Cerita keduanya terhenti ketika guru-guru yang lain mulai berdatangan dan memasuki ruangan guru.
***
Di kantor, wajah Wendi tampak muram. Rudi, sahabatnya datang mendekati dan menepuk bahunya membuat ia kaget.
"Habis, saya perhatikan kamu dari tadi hanya ngelamun terus. Ada apa sih?"
"Nggak ada apa-apa kok,"
Kamu jangan bohong deh, saya tahu kamu pasti ada masalah. Apa masalah dengan istrimu lagi?"
"Iya nih, sampai sekarang Sari masih tetap nggak mau terima tawaranku agar dia yang mengurus keuangan kami," cerita Wendi membuat Rudi heran. Ia menyangkah bahwa persoalan sahabatnya udah kelar karena masalah itu sudah lama sekali.
"Yang benar?" tanya Rudi yang tidak peraya dengan perkataan Wendi.
"Sepertinya saya sudah nggak kuat lagi menghadapi sikap Sari yang menurutku sangat keras kepala," sahut Wendi dengan emosi.
"Jangan gitu dong, cobalah bersabar lagi dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan agar hati istrimu luluh!" Rudi memberi nasihat kepada Wendi.
__ADS_1
Wendi tak menjawab lagi. Ia terdiam beberapa saat dan merenungi nasihat yang baru saja disampaikan oleh sahabatnya. Ia tersadar karena sudah cukup lama tidak pernah lagi beribadah kepada Tuhan apalagi berdoa.
"Terima kasih kawan! Kamu telah mengingatkan saya dan nasihatmu akan kucoba," kata Wendi sambil tersenyum.
Rudi senang melihat sahabatnya karena wajahnya kini tidak muram lagi.
"Saya tahu bahwa kamu juga punya pergumulan namun saya bangga karena kamu tampaknya biasa-biasa saja. Apa sih resepnya? sambung Wendi lagi setelah memperhatikan penampilan Rudi yang tampak happy.
"Hidup ini harus dijalani dengan santai agar kita nggak mudah stres!" jawab Rudi. Ia bisa berkata seperti itu karena pengalamannya dalam menghadapi istrinya yang selalu boros dan tidak pernah menghargainya sebagai suami.
Rudi kini tampak lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Istinya sudah mulai berubah setelah mendengar ancaman bahwa Rudi akan pergi dari kehidupannya jika ia tidak mau berubah.
Rupanya Nia, istri Rudi sangat takut jika diceraikan oleh suaminya sehingga ia kini sudah mulai banyak berubah, bahkan bobot tubuhnya juga sudah mulai turun.
Wendi senang setelah tahu bahwa sahabatnya sudah hidup bahagia. Ia berharap Sari juga akan berubah dan mau memaafkan dirinya. Dalam hati ia mulai memanjatkan doa kepada Tuhan dan seketika ia merasakan ketenangan. Ia bahkan ingin segera pulang ke rumah untuk bertemu dengan istrinya.
Baru saja ia memarkir motornya dan sari datang menghampiri dengan senyum manis dan langsung meraih tas kantor dari tangannya dan membawa masuk ke dalam rumah membuat Wendi merasa senang. Sudah lama ia mendambahkan senyum manis yang tulus milik istrinya.
Dengan hati yang berbunga-bunga ia membuntuti Sari yang sudah lebih duluan masuk.
"Terima kasih sayang!" ucap Wendi setelah tiba di kamar.
"Terima kasih buat apa?" tanya Sari dengan geli.
"Buat senyum manisnya tadi saat Mas baru tiba," sahut Wendi lalu mengecup pipi istrinya dengan lembut. Tubuh Sari sampai bergetar dan wajahnya merona menahan rasa malu.
Rasa yang hampir hilang kini kembali bersemi. Ia sudah berusaha untuk melupakan kejadian masa lalu dan kembali membuka diri untuk menerima Wendi dan ia berjanji untuk mencurahkan cinta dan kasih sayangnya untuk suami dan anak-anaknya.
Wendi terus menggoda istrinya dengan ciuman panas yang menggairahkan namun Sari menyarankan agar ia berganti pakaian dulu lalu makan karena makanan ia sudah siapkan.
"Bercintanya nanti aja Mas, isi tenaga dulu biar mainnya nanti seru!" ucap Sari sambil tersenyum.
Wendi jadi semangat mendapat tantangan dari istrinya. Ia segera mengganti pakaian kantor dengan pakaian santai lalu menghampiri istrinya yang sudah menunggu di meja makan.
__ADS_1
Anak-anak sudah makan lebih dulu dan sekarang mereka sudah istirahat di kamar masing-masing membuat suasana rumah lengang.
Sambil makan, Wendi terus mencuri pandang ke arah istrinya yang mengenakan daster. Sari pura-pura tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan bahkan ia sengaja membuat gerakan-gerakan yang menggoda sehingga suaminya semakin tidak sabar.