ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
33. Pergi


__ADS_3

Glen menonton film kartun dengan serius, namun tak lama kemudian kepalanya mulai oleng karena mengantuk. Dimas menghampiri lalu menggendong dan membawanya ke kamar.


Suasana kamar yang hening tidak bisa memberi rasa nyaman kepada Dimas. Hatinya sedang gundah-gulana. Ia mencoba merebahkan tubuhnya di samping Glen yang sudah tertidur pulas dan sebentar-sebentar menoleh ke arah pintu kamar yang sengaja tidak dikunci dan berharap bahwa Rani, istrinya akan menyusul masuk ke kamar.


Tiga puluh menit, satu jam, dua jam telah berlalu namun Dimas masih belum juga bisa tertidur. Perutnya juga sudah keroncongan karena ia sama sekali belum makan pada malam itu dan ini membuat ia semakin merasa gelisah bahkan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.


Dimas beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar dengan mengendap-endap karena takut jika ketahuan sama istrinya. Ia hendak ke dapur mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya agar berhenti mengeluarkan suara-suara yang sangat mengganggu dan membuatnya tidak bisa tidur.


Selangkah, dua langkah ia mengawasi keadaan ruangan, namun langkahnya terhenti karena melihat Rani duduk di ruang tengah dengan mata sembab. Tatapan matanya datar dan wajahnya menggambarkan betapa ia sedang dalam pergumulan yang begitu hebat.


Dimas mengurungkan niatnya untuk ke dapur mencari makanan. Ia segera membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamar.


Malam itu menjadi malam yang sangat menggelisahkan bagi Dimas. Entah jam berapa dini hari baru ia bisa mengatupkan matanya. Namun baru saja ia terlelap, kembali ia dikejutkan oleh suara Glen yang sudah terbangun dan berteriak memanggil ibunya.


"Ibu, Ibu... !" teriak Glen dengan keras.


Glen beranjak dari tempat tidur dan berlari ke luar mencari ibunya.


Rani masih tertidur di depan televisi. Mungkin ia sangat lelah menangis sepanjang malam tapi mau tidak mau ia harus bangun ketika Glen datang mengguncang tubuhnya dan membangunkannya.


"Ibu, kok tidur di sini?" tanya Glen dengan suara pelan sambil mengucek-ngucek matanya.

__ADS_1


"Semalam ibu nonton sinetron hingga larut malam membuat Ibu tertidur di sini," sahut Rani dengan suara parau.


Rani bangkit dan mengajak Glen masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu ia mengambil kunci motor dan tak lupa juga ia membawa tas yang di dalamnya sudah tersimpan kunci toko dan kunci lemari.


Ia bergegas keluar dari rumah dan pergi dengan mengendarai motor maticnya. Tujuan utamanya adalah kembali ke rumah orang tuanya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.


Sementara itu Dimas bangun dan tak tahu harus berbuat apa. Ia sangat prustasi. Mau masuk ke toko, tidak bisa karena kuncinya sudah dibawa pergi oleh Rani. Mau pulang ke orang tua yang ada di kampung, itu adalah hal yang sangat mustahil karena ia sama sekali tidak mengantongi sepersen pun uang.


Dimas menuju ke dapur dan mengisi perutnya dengan biskuit yang terletak di meja makan. Mungkin sisa camilan Glen semalam. Setidaknya ada yang mengganjal perut untuk sementara.


Dengan gontai ia berjalan ke teras depan dan mengedarkan pandangannya. Keadaan sekitar rumah sedang sepi namun hatinya sangat dongkol saat matanya tertuju ke rumah tetangga, di sana Caca mengembangkan seyum nakalnya yang begitu menggoda namun untuk kali ini senyum itu tak mampu menggoyahkan hati Dimas yang sedang kacau.


Dimas membuang muka dan geram. Dalam hati ia mengumpat bahwa musibah ini menimpanya karena ulah perempuan tersebut yang sudah berstatus janda.


"Tit..., tit... " sebuah pesan masuk ke ponsel miliknya. Dengan cepat ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya itu lalu membuka pesan yang ada di WhatsApp.


"Sebelum saya tiba di situ, kamu sudah harus keluar dari rumah karena saya tidak sudi lagi melihat wajahmu yang sok polos itu. Ingat, orang tua ku sudah tahu kelakuanmu jadi jangan membantah sebelum mereka melaporkan kamu ke pihak yang berwajib. Sekarang keluar dari rumahku dan ingat juga, jangan membawa sesuatu termasuk ponsel karena itu milik saya. Sekarang ada orang suruhan ayahku sedang mengawasi keadaan di sekitar rumahku. Setelah kamu keluar, ada juga orang yang sudah ditugaskan untuk membersihkan rumah dari noda-noda perselingkuhan!"


Lutut Dimas gemetar setelah membaca chat dari Rani. Ia menjatuhkan dirinya di sofa dengan kasar dan menghela nafas dengan berat. Namun, mengingat peringatan istrinya, ia tidak boleh berlama-lama lagi berada dalam rumah itu.


Dimas meletakkan ponsel pemberian istrinya setahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Sebuah ponsel yang mewah menurut ukuran Dimas. Dengan hati yang berat ia meletakkan ponsel tersebut di atas meja di ruang tamu lalu keluar dengan hati yang gusar karena tak tahu hendak ke mana.

__ADS_1


Suara manja Caca kembali terdengar di telinga Dimas saat langkahnya hendak keluar dari pekarangan rumah namun ia tidak mau menoleh ke arah sumber suara. Ia bahkan mempercepat langkahnya menyusuri pinggir jalan raya dengan wajah tertunduk.


Sekitar pukul 11.00 WIB, Rani bersama dengan Glen kembali ke rumahnya karena ia sudah yakin bahwa Dimas telah meninggalkan rumah atas ancamannya. Sebenarnya Rani sama sekali belum menyampaikan perihal rumah tangganya kepada orang tuanya. Ia takut jika hal ini akan membuat ayah dan ibunya ikut bersedih apalagi ibunya masih belum pulih benar dari penyakitnya.


"Ayah, Ayah!" teriak Dimas ketika tiba di rumahnya.


Ia berlari masuk ke dalam rumah dan mencari-cari ayahnya tapi kemudian ia kembali menghampiri ibunya yang duduk di sofa dan menanyakan kemana ayahnya pergi, kenapa tidak ada di rumah.


Dada Rani terasa sesak melihat anaknya. Ia tahu bahwa Glen memang sangat dekat dengan ayahnya karena sedari kecil ia selalu dijaga oleh Dimas ketika ia ke sekolah untuk mengajar.


"Ayah sedang ke kampung soalnya kakek dan nenek memanggilnya,"


"Kapan ayah pulang?"


"Ibu juga belum tahu, Nak. Jadi kamu harus sabar yah, biar ayah lekas pulang!"


Mulut Rani sampai bergetar ketika ngomong sama anaknya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kehidupan Glen tanpa seorang ayah. Namun di satu sisi ia begitu jijik jika mengingat bahwa Dimas sudah bersetubuh dengan perempuan lain. Tak terasa air matanya kembali mengalir dengan deras.


"Ibu, kenapa nangis?" tanya Glen dengan sedihnya..


Air mata Rani semakin deras dan tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Ia menggendong Glen dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Glen hanya diam karena ia belum paham apa sebenarnya yang membuat ibunya menangis. Tak lama kemudian Glen turun dari gendongan ibunya karena melihat ponsel milik ayahnya di meja sedang menyala. Rupanya ada pesan yang masuk.


Rani menerima ponsel itu dari tangan Glen dan memeriksa pesan yang masuk karena ponsel itu memang tak punya kode rahasia. Dimas tidak pernah memasang pola pada ponsel tersebut dan karena hal itu jugalah membuat Rani tidak pernah curiga kepadanya.


__ADS_2