
Wendy benar-benar sudah tidak sabar dengan godaan istrinya. Sejak adanya masalah di antara mereka, baru kali ini ia melihat wajah Sari cerah dan penuh gairah. Senyuman manis yang sudah redup kini mulai tampak lagi membuat Wendi bersemangat.
"Minggu depan anak-anak akan libur semester. Gimana kalau kita jalan-jalan ke Makassar? Sekalian jenguk orang tua," kata Wendy setelah mereka duduk santai. Sari membelalakkan matanya karena tidak percaya dengan usul suaminya.
"Yang benar, Mas?" tanya Sari tak percaya.
"Tapi ada syaratnya loh!" ucap Wendi sambil mendekati Sari lalu berbisik di telinganya.
"Ahhh, kamu ada-ada aja. Mesti pakai syarat lagi," seru istrinya dan mendorong tubuh Wendi karena ia merasa geli dengan syarat yang diajukan.
Ada getar-getar cinta yang mengalir dalam tubuh Sari membuat ia tersenyum bahagia. Wendy pun merasakan hal yang sama bahkan ia sudah tidak sabar dengan syarat yang ia ajukan tadi kepada istrinya. Walaupun tiada jawaban dari Sari tapi tanpa dijawab pun, Wendy sudah tahu apa yang sedang dirasakan oleh istrinya.
Setelah istirahat siang, Wendy mengajak Sari dan anak-anak untuk duduk santai di teras rumah, tak lama kemudian sebuah mobil baru berwarna putih tulang memasuki pekarangan rumah diikuti seorang lagi yang mengendarai motor membuat Sari dan anak-anak merasa heran. Siapa gerangan yang datang bertamu ke rumah mereka?
Wendy tersenyum melihat perubahan wajah istri dan anak-anaknya. Ia hanya tertawa kecil dalam hati dan berdiri untuk menyambut tamu yang datang.
"Selamat siang, Pak!" sapa seorang laki-laki paruh baya yang turun dari mobil.
"Selamat siang juga, mari masuk Pak!" sahut Wendy mempersilahkan tamunya untuk duduk di teras rumah.
Kedua orang tersebut mengikuti Wendy dan duduk di kursi yang sudah dikosongkan oleh Sari. Sari mengajak anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah setelah memberi salam kepada sang tamu.
"Terima kasih Pak, sudah mengantar mobil itu ke rumah saya!"
"Sama-sama Pak. Sudah menjadi kewajiban kami demi kepuasan para pelanggan,"
"Memangnya mobil itu punya Papa?" tanya Wira yang sempat mendengar percakapan papanya dengan bapak yang menjadi tamu mereka saat ini.
"Iya Nak, apa Papamu nggak ngomong kalau dia mau beli mobil baru?" tanya bapak itu sambil mengelus kepala Wira.
__ADS_1
"Papa nggak pernah ngomong apa-apa," jawab Wira. Ia pun langsung mendekati mobil yang terparkir di halaman rumahnya dan mengelus-elus dengan lembut.
"Kakak Tasya! Kakak Tiara! Sini Kak!" Teriak Wira dengan keras. Mendengar suara Wira yang heboh, kedua kakaknya berlari keluar dan menghampiri adiknya di halaman rumah.
"Ada apa sih, kok teriak-teriak gitu?" tanya Tiara.
"Sekarang kita sudah punya mobil baru!" jawab Wira sambil terus mengelus mobil tersebut dan ia bahkan mencoba untuk membuka pintunya.
Pak Fari yang mengantar mobil tadi dan Wendy tersenyum melihat tingkah mereka bertiga. Tasya dan Tiara sudah berebut untuk masuk ke mobil dan mencoba duduk di kursi mobil yang masih sangat empuk.
Sari yang muncul di pintu dengan nampan di tangannya berisi tiga gelas kopi panas merasa heran karena melihat anak-anaknya berada dalam mobil.
Setelah Sari meletakkan minuman itu di meja, ia mempersilahkan tamunya untuk minum lalu menghampiri anak-anaknya. Ia merasa tidak enak menyaksikan anak-anaknya yang tidak sopan menaiki mobil tamu bahkan dalam hati ia kesal kepada suaminya karena tidak menegur anak-anaknya.
"Mama, mama... ayo naik! Kita sudah punya mobil baru," seru Wira dengan senang.
"Sssttt, ayo kalian cepat turun! Tidak sopan naik di mobil orang!" hardik Sari dengan emosi. Ia sengaja berjalan ke samping mobil agar tidak dilihat oleh tamu suaminya bahwa ia sedang memarahi anak-anak.
Sari bengong mendengar ucapan Wira. Tiba-tiba Wendy datang menghampirinya.
"Iya Dek, Mas sengaja bikin kejutan buat kalian semua. Minggu lalu Ayah yang mengantar saya untuk membeli mobil ini dan sekarang baru diantar ke rumah kita." Wendy menjelaskan dengan wajah yang berseri-seri. Kini Sari baru percaya, ia pun tersenyum karena merasa bahagia dengan kejutan yang luar biasa dari suaminya.
Sebuah mobil mewah telah terparkit di halaman rumahnya. Mobil Fortuner yang sudah lama menjadi impian suaminya kini telah jadi kenyataan. Sebuah kerja keras tidak menghianati hasil.
Tidak lama kemudian kedua tamu tersebut berpamitan setelah mengurus beberapa berkas yang berkaitan dengan pembelian mobil itu.
"Hati-hati di jalan dan sekali lagi terima kasih!" ucap Wendy yang mengantarkan mereka ke jalanan.
"Sama-sama, Pak. Semoga kendaraannya awet!"
__ADS_1
"Amin!"
Setelah tamunya berlalu, Wendy menghampiri anak-anaknya yang masih berada dalam mobil yang tak henti-hentinya berdecak kagum melihat kemewahan yang terdapat di hampir semua badan mobil tersebut.
"Mas beli mobilnya cash atau kredit?" tanya Sari yang datang kembali menghampiri mereka setelah membereskan gelas-gelas bekas minum tamunya.
"Belinya cash Sayang, tapi pakai uang Ayah sebagian. Nantinya Mas akan cicil sama Ayah setiap kali panen di sawah," sahut Wendy menjelaskan.
Beberapa tetangga datang untuk melihat mobil yang baru dibeli itu. Mereka ikut berdecak kagum dengan penampilan mobil yang sangat mewah itu.
"Selamat buat kalian!" ucap Ibu Tiwi, tetangga terdekat dari rumah mereka.
"Terima kasih, Bu!" sahut Sari mewakili.
"Apa kami boleh juga numpang di mobilnya?" goda tetangga yang lain.
"Ya, pastinya boleh dong!" jawab Wendy dan Sari hampir bersamaan.
Para tetangga mengakui keluarga Wendy sebagai orang-orang yang murah hati di kompleks mereka karena apabila ada yang merasa kesusahan maka Wendy atau Sari tak akan segan-segan untuk memberikan bantuan, baik bantuan pikiran juga bantuan materi.
"Biasanya kalau ada barang seperti ini, pastinya ada juga acara makan-makan, iya kan!" seru Pak Heru dengan lantang membuat yang hadir memberi jempol dan mendukung perkataannya.
Sari tersipu karena ia sama sekali tidak mempersiapkan makanan ala kadarnya untuk menyambut mobil barunya.
"Maaf Bapak-bapak dan ibu-ibu, sebelumnya Wendy nggak pernah ngomong kalau dia mau beli mobil, makanya saya nggak ada persiapan," kata Sari sambil tertawa.
"Itu sih soal gampang Dek, sekarang sudah zaman moderen, hubungi aja penjual maka ia akan mengantar sekarang juga!" seru Wendy yang tak mau disalahkan.
"Ohh, iya yah, kenapa saya tidak kepikiran," kata Sari memegang keningnya. Ia segera mengambil ponsel dari saku bajunya dan menghubungi penjual aneka kue.
__ADS_1
"Nggak pake lama yah!" serunya di ponsel.
Setelah selesai berbicara di ponsel ia mempersilahkan para tetangganya utuk masuk ke dalam rumah sambil menunggu pesanan datang.