
Hari yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Suasana di rumah Wendi sedikit ramai oleh suara anak-anak yang begitu senang karena tidak lama lagi mereka akan berangkat ke tempat wisata. Semalam mereka hampir-hampir tidak percaya ketika sang ayah menyampaikan tentang hal tersebut, bahkan Tiara langsung menanggapi bahwa ayahnya hanya menghibur anak-anaknya.
Tiara baru percaya setelah melihat barang-barang ibunya yang sudah dikemas dengan rapi. Ia pun langsung mengajak Tasya ke kamar dan mempersiapkan serta mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan dibutuhkan selama berada di tempat liburan.
Setelah memanaskan mesin mobil, Wendi mengangkat tas dan menaruhnya di bagasi lalu menyuruh istri dan anak-anaknya segera naik ke mobil.
Wendi mengemudi mobil dengan kecepatan sedang. Dari kaca spion ia melihat wajah anak-anaknya yang sangat gembira membuat ia tersenyum bahagia.
Wendi membunyikan klakson ketika mereka sudah berada tepat di depan rumah Dimas lalu ia turun dan membuka bagasi mobil. Dimas datang menghampiri dan di tangannya sudah ada tas dan beberapa perlengkapan lainnya. Keduanya pun mengatur barang tersebut dengan rapi lalu kembali menutup bagasi.
Tasya, Tiara, dan Wira rela pindah ke kursi bagian belakang tanpa dikomando oleh orang tuanya. Mereka mengosongkan kursi tengah untuk Dimas dan keluarganya.
"Kita berangkat yah!" kata Wendi setelah melihat semuanya sudah beres.
"Oke, siap!" seru Wira dengan suara keras.
Perjalanan ke lokasi tempat wisata butuh waktu kurang lebih dua setengah jam perjalanan jika menggunakan kendaraan roda empat dan sepanjang perjalanan mereka terus bersenda gurau sehingga tak terasa mobil sudah memasuki gerbang wisata yang bertuliskan "Wel Come" dengan ukuran besar dan diukir sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan bagi setiap pengunjung yang baru datang ke tempat wisata tersebut.
Ketika mobil sudah tiba di parkiran, mereka pun turun. Wendi langsung menghubungi petugas dan meminta agar mengantarkan mereka ke penginapan.
Decak kagum dari anak-anak tak pernah berhenti ketika melewati jalan menuju penginapan. Tumbuhan bunga dan pohon-pohon sangat tertata dengan rapi ditambah lagi dengan kebersihan di lokasi tersebut membawa rasa nyaman. Tak satu pun terlihat adanya sampah berserakan yang biasa kita temukan di tempat-tempat wisata lainnya.
Wendi memesan tiga kamar tidur dan mereka pun segera membawa barangnya ke kamar masing-masing. Sebelum menikmati beberapa wahana hiburan yang tersedia, mereka istirahat sejenak.
***
Kini tiba saatnya untuk makan siang. Mereka berkumpul di satu ruangan dan pelayan datang membawa berbagai jenis makanan yang sudah dipesan sebelumnya.
"Terima kasih, Pak, Bu, karena telah mengikutsertakan kami ke tempat ini!" ucap Dimas dengan penuh hormat. Rani heran mendengar suaminya menyapa Wendi dan Sari dengan sebutan 'Bapak dan Ibu', ini untuk yang kedua kalinya sebutan itu ia dengar.
"Kenapa Om Dimas tidak tinggal di rumah kami lagi?" tanya Tiara dengan polosnya.
"Tinggal di rumah kalian?" tanya Sari karena semakin tidak mengerti.
"Om Dimas itu nggak mau tinggal di rumah kita soalnya Kakak Tiara suka iseng," kata Wira.
"Ehh, anak kecil! Bukannya kamu yang selalu ganggu Om Dimas kalau ia sedang kerja," seru Tiara dengan keras sambil mencibir ke arah adiknya.
"Aduh, mulai lagi bertengkar. Kita datang ke sini untuk bersenang-senang, bukan untuk bertengkar!" ucap Sari dengan lembut.
Rani memandangi mereka satu per satu dengan wajah bingung seolah minta penjelasan tentang apa yang baru saja didengar sehubungan dengan suaminya.
__ADS_1
Dimas, Wendi, dan Sari saling berpandangan dan melempar senyum. Sari seolah mengerti arti tatapan suaminya untuk segera menceritakan peristiwa yang sempat mereka sembunyikan.
Sari menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan.
Ia mulai menceritakan awal pertemuan mereka dengan Dimas di pasar kemudian mengajak ia ke rumahnya dan bekerja di situ.
Tak terasa air mata Sari sudah menganak sungai di pipi. Ia sangat terharu mendengar perjalanan kehidupan suaminya yang begitu pelik.
"Kenapa waktu itu kalian tidak memberitahuku?" ucap Rani dengan suara serak.
"Saya yang melarang mereka untuk memberitahumu soalnya saya takut jika kamu akan semakin marah kepadaku," sahut Dimas sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"Ibu, kenapa nangis?" tanya Glen menghampiri ibunya. Ia baru saja kembali dari toilet bersama Tasya dan kaget karena mendapati ibunya sedang menangis.
"Ibu nggak apa-apa, Nak," kata Rani dan berusaha tersenyum.
"Sudahlah, Sayang! Semua sudah berlalu. Mari kita merayakan persahabatan kita!" seru Dimas dengan gembira. Para pelayan sempat memperhatikan mereka karena merasa heran melihat adegan tangis-tangisan.
"Iya, bukankah tujuan kita ke tempat ini ingin bersenang-senang? Mari kita lupakan segala persolan yang pernah membuat hati kita tidak nyaman dan mensyukuri karunia Tuhan serta menjalani hidup dengan lebih baik lagi!" ujar Wendi dengan bijak.
"Satu lagi, tolong jangan panggil lagi kami dengan sebutan 'Bapak dan Ibu' karena kita adalah sahabat, bahkan kami sudah menganggap kalian sebagai saudara!" kata Wendi lagi kepada Dimas.
"Baiklah! sekali lagi saya ucapkan terima kasih!" ucap Dimas dengan tulus.
"Sama-sama," sahut Sari lalu memeluk sahabatnya dengan erat.
Anak-anak mereka saling pandang dengan penuh tanya dalam pikiran masing-masing namun tetap diam. Tasya yang sudah agak dewasa sudah dari tadi berusaha untuk mengalihkan perhatian Glen agar tidak mengganggu ibunya.
Kedua keluarga yang masih tergolong mudah itu kini duduk bersama dan mulai menikmati makanan yang sudah tersaji dengan sempurna di meja. Sesekali terdengar suara gelak tawa yang menandai bahwa mereka sedang berbahagia.
Sari mengambil tisyu dan membersihkan bibir suaminya dari sisa makanan yang menempel dengan mesra.
"Romantis bangat," kata Rani sambil terkekeh.
"Harus gitu dong," jawab Sari terkekeh pula.
Mereka makan dengan lahap karena didukung oleh tempat yang nyaman dan cuaca yang bersahabat.
"Sebentar setelah istirahat, kita akan mandi-mandi di kolam renang," kata Wendi setelah meneguk segelas air putih.
"Hore! Hore!" teriak anak-anak dengan riang.
__ADS_1
"Mana kolamnya?" tanya Tiara sambil menengok ke sana ke mari karena tidak melihat adanya kolam renang di situ.
"Nanti Ayah kasih lihat," sahut Wendi dengan santai.
Ketika matahari sudah condong ke arah barat, mereka beriringan menuju kolam renang yang terletak di belakang penginapan. Pantas saja Tiara bingung tadi karena tidak melihat kolam renang. Rupanya pandangannya terhalang oleh gedung penginapan
Mereka seger berganti kostum di kamar ganti.
Kolamnya ada tiga. Ada yang dalamnya sampai dua meter, ada yang satu meter, dan ada yang kurang lebih stenga meter.
Baju renang yang melekat dengan ketat di tubuh Sari dan Rani membentuk lekuk tubuh keduanya dengan indah. Beberapa pasang mata dari orang-orang yang kebetulan juga berada di sana merasa takjub dengan penampilan mereka, baik laki-laki maupun perempuan.
Ada beberapa suara sumbang yang terdengar dari orang-orang tersebut setelah melihat Wendi dan Dimas yang datang dengan dada telanjang, keduanya hanya mengenakan celana pendek lalu menghampiri istrinya dan berenang bersama.
Tak lupa sesekali mereka mengontrol anak-anaknya yang sedang berenang di kolam yang tidak terlalu dalam.
***
Tak terasa mereka sudah dua hati menginap di tempat wisata tersebut. Mereka menggunakan waktu dengan baik sehingga semua wahana hiburan tak ada yang terlewatkan.
Mereka sangat puas. Anak-anak juga sangat menikmati liburan ini walau hanya dua hari. Foto-foto dan video di setiap wahana sudah tersimpan rapi di ponsel masing-masing dan akan menjadi kenangan yang indah di sepanjang kehidupan mereka.
"Ayah, liburan berikutnya kita ke sini lagi!" pinta Tiara.
"Kita akan program liburan ke depan. Gimana kalau kita liburan ke Bali?" tanya Wendi.
"Setuju!" jawab mereka serempak.
"Kalau begitu, mulai sekarang kita semua harus menabung!" ujar Wendi lagi.
Mereka pun lagi-lagi menyetutujui usul dari Wendi.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang paling berkesan ketika berada di tempat wisata.
Sauara tawa terdengar riuh ketika Rani menceritakan apa yang dialami Dimas setelah turun dari ayunan yang lumayan tinggi. Dimas sampai muntah-muntah karena merasa pusing. Katanya ia mabuk karena barusan naik di wahana tersebut.
Masih banyak pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan dan lucu yang mereka alami selama berada di tempat wisata.
Tak lama kemudian mobil sudah tiba di depan rumah Dimas.
"Singgah dulu sebentar!" ajak Dimas kepada keluarga Wendi.
__ADS_1
"Terima kasih, nanti lain kali," sahut Wendi.
Setelah semua barang-barang milik keluarga Dimas sudah diturunkan dari mobil, keluarga Wendi pun melanjutkan perjalanan. Mereka berpisah dengan lambaian tangan.