
Pada jam istirahat di sekolah, Sari dan Rani ngobrol seperti biasanya. Tampak kedua mama muda itu sedang tertawa riang.
"Hari ini wajah kamu sangat ceria, pasti semalam...," goda Sari dengan tatapan mata jenaka.
"Ahh, kamu... , semalam kami nggak ngapa-ngapain. Lagian Dimas tidur di sofa kok," ujar Sari dengan jujur.
"Kok, Dimas tidur di sofa? Apa kamu tidak mengizinkan dia tidur di kamar? Harusnya kalian itu berbulan madu," ucap Sari dengan serius.
"Saya nggak pernah larang dia masuk ke kamar kok,"
"Oohh, mungkin dia tidur di sofa karena takut,"
"Iya, sepertinya ia merasa sangat bersalah, tapi saya sudah memaafkan karena semua itu bukan murni kesalahannya tapi keteledoran saya juga." Rani merasa bersalah juga karena ia jarang melayani suaminya.
"Syukurlah kalau kamu sudah menyadari. Satu pesan dari saya, tolong jangan sekali-kali kamu ungkap kejadian itu lagi. Yakin saja, pasti kehidupan rumah tanggamu akan bahagia,"
"Terima kasih sarannya, saya akan usahakan!" sahut Rani dengan mantap.
Sari memeluk sahabatnya sambil tersenyum. Ia ikut merasa bahagia setelah berhasil mempertemukan mereka.
Selama berada di sekolah, Rani merasa gelisah dan pengennya jam terakhir untuk mengajar segera tiba. Pikirannya terus berada di rumah karena bayangan wajah Dimas, suaminya selalu menari-nari di pelupuk matanya.
Sementara itu, Dimas yang berada di rumah juga merasakan hal yang sama. Perputaran jarum jam di dinding terasa sangat lambat bahkan seolah hanya jalan di tempat. Sebentar-sebentar ia menoleh ke dinding dan berharap jarum pendek pada jam tersebut sudah berada pada angka satu, namun sudah ada banyak pekerjaan yang ia selesaikan dari pagi hingga saat ini, termasuk memandikan anaknya dan membersihkan ruangan di dapur.
Untuk mengusir rasa jenuh, ia mengambil kunci toko dan mengajak Glen untuk membersihkan serta merapikan barang jualan. Dimas juga memeriksa barang-barang jualan karena ada beberapa bahan makanan yang sudah kadaluarsa. Dia mengumpulkan makanan tersebut dalam dos yang tidak terpakai.
"Ehhh, Nak Dimas... tumben buka toko? Ke mana aja sih?" tanya Ibu Dewi yang kebetulan lewat di depan toko.
"Iya Bu, kemarin saya pulang ke kampung jenguk orang tua," jawab Dimas berbohong.
"Ohhh," Ibu Dewi tersenyum lalu singgah untuk membeli beberapa bumbu dapur.
Dimas melayani dengan senang hati.
__ADS_1
"Kapan datang dari kampung?"
"Kemarin,"
"Berarti kamu nggak di sini waktu tetangga kita, Caca, si pelakor digerebek dan diusir warga dong,"
"Iya Bu, saya tidak lihat... memangnya Caca kenapa sampai diusir?" tanya Dimas karena penasaran.
"Dia berselingkuh dengan suamiku," sahut Ibu Dewi dengan sedih bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Ibu yang sabar, yah!" kata Dimas dengan hati yang ikut sedih karena mengingat perbuatannya tempo hari, namun keberuntungan masih memihak kepadanya karena warga tidak tahu sehingga tidak datang untuk menggerebek rumahnya. Tubuh dimas bergidik membayangkan seandainya waktu itu ia digerebek dan diusir oleh warga.
"Kok, bengong?" tanya Ibu Dewi membuat Dimas gugup.
"Ehhh, nggak apa-apa, cuman sedih aja dengar cerita Ibu," jawab Dimas lalu menyodorkan barang-barang belanjaan Ibu Dewi.
Setelah Ibu Dewi belalu, Dimas kembali merapikan barang jualan dan juga melayani para pembeli yang datang ke tokonya.
"Ayah, saya mau bobo," kata Glen sambil menghapiri ayahnya.
Bunyi suara motor di luar membuat Dimas senang. Dengan bersenandung kecil ia menyambut sang istri yang baru pulang dari sekolah.
"Mana Glen?" tanya Rani untuk mengurangi rasa gugup. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat bertemu dengan suaminya.
"Lagi tidur," jawab Dimas lalu menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah.
Setelah berganti pakaian, Rani menuju ke dapur. Perutnya sudah keroncongan dan minta untuk diisi segera.
Dengan mata terbelalak ia memandangi makanan yang sudah tersaji lengkap di meja makan. Pada hal tadi ia bepikir, semua baru akan diolahnya setelah pulang dari sekolah. Ruangan di dapur juga sudah ditata dengan rapi. Ada beberapa benda yang sudah dirubah letaknya membuat suasana yang baru.
Dimas tersenyum bangga melihat istrinya kebingungan.
"Yuk, kita makan!" ajaknya.
__ADS_1
"Siapa yang sudah mengolah semua ini?" tanya Rani yang masih ragu dengan kemampuan suaminya untuk memasak.
Dimas kembali mengulum senyum lalu menunjuk dirinya dengan artian bahwa semua yang ia sajikan adalah hasil karyanya. Selama satu bulan tinggal di rumah Sari ia menggunakan waktu luang untuk menonton acara masak-memasak di acara TV.
"Sejak kapan Mas pinter masak?"
"Sejak Mas jatuh cinta yang kedua kalinya sama kamu,"
Rani jadi tersipu mendengar perkataan suaminya. Ia merasa Dimas begitu perhatiaan kepadanya. Kini Dimas menggeser kursi dan menyuruh Rani duduk berhadapan dengannya di meja makan.
"Bagaimana dengan masakan saya?" tanya Dimas.
"Sangat enak, terima kasih Mas!" sahut Rani sambil menyendok lagi sayur sup yang dicampur dengan udang segar ke piringnya.
"Sama-sama Sayang," sahut Dimas dengan tulus.
Keduanya pun makan dengan lahap. Dalam hati Rani menyelami segala yang sudah terjadi dalam hidupnya. Ada banyak hikmah yang ia peroleh dibalik pergumulan yang baru saja dilewati.
Setelah selesai makan siang, keduanya masuk ke toko untuk istirahat sejenak. Rani kembali terpukau melihat keadaan toko yang sudah bersih dan rapi. Dalam hati ia memuji sang suami yang sangat cekatan mengerjakan semua ini. Pada hal tadi ia sempat berpesan bahwa besok baru buka toko.
Keduanya lalu duduk di kursi dan bercerita tentang banyak hal, termasuk ke mana saja Dimas ketika ia meninggalkan rumah tapi tidak diceritakan kepada istrinya perihal pertemuannya dengan keluarga Wendi dan Sari.
Tanpa sadar tangan keduanya saling terpaut. Ada berbagai rasa yang bercampur aduk di dalam sanubari mereka.
"Ada sabun cuci merek Daia?" tanya Erna, anak tetangga yang datang membeli ke toko.
Tangan yang saling menggenggam pun terlepas lalu Dimas dengan lincah melayani pembeli.
"Terima kasih!" ucap Erna lalu menyodorkan selembar uang berwarna biru.
"Sama-sama, Dek. Tunggu uang kembaliannya!" sahut Dimas dengan sopan.
Setelah Erna berlalu dari toko, keduanya kembali bercengkrama hingga Rani mendengar suara Glen yang baru bangun.
__ADS_1
Sebenarnya ada sesuatu yang bergejolak dalam hati Dimas tapi ia juga tidak mau terburu-buru. Ia berusaha untuk menekan hasrat yang bergelora dalam dirinya dengan kembali menyibukkan diri, bermain bersama anaknya. Glen juga merasa gembira karena sanga Ayah mau bermain dengannya.
Hati Rani jadi terharu melihat keakraban yang terjalin antara ayah dan anak itu. Ia tak habis pikir, bagaimana keadaan anaknya sekarang seandainya tidak bertemu dengan ayahnya.