ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
21. Perbuatan Terlarang


__ADS_3

Wendi tak bisa lagi memejamkan mata hingga pagi hari. Kepalanya sakit karena hasrat yang menggelora tak dapat dituntaskan. Ia bangun lebih awal dan tanpa menunggu sarapan ia meluncur dengan mengendarai motornya menuju rumah orang tuanya. Entah mengapa, penolakan istrinya semalam untuk bersetubuh dengannya membuat ia sangat kecewa.


Ayah dan ibunya sudah siap-siap mau berangkat untuk ibadah ketika motornya memasuki pekarangan rumah.


"Tumben ke sini, masih sepagi ini," ujar ibu Widy heran, apalagi ia melihat wajah anaknya yang kusam dan tak bersemangat.


"Memangnya nggak boleh, Bu?" tanya Wendi sambil tersenyum.


"Ehh, justru Ibu senang loh! Ayah dan Ibu mau berangkat nih, jadi tolong jaga rumah!" kata Ibu Widy lalu membuka kembali pintu rumah yang sudah terkunci.


Selepas kepergian kedua orang tuanya, Wendi mencari makanan lalu mengisi perutnya yang kosong.


Setelah itu ia mengisi waktu dengan berbaring di sofa sambil nonton youtube. Pikirannnya kembali kepada peristiwa semalam yang membuat ia sangat kecewa, bahkan bukan hanya kali ini ia mendapat perlakauan seperti itu dari istrinya tapi ia tetap sabar dan selalu berpikir bahwa Sari belum bisa membuang prasangkah buruknya tentang hubungan antara Caca dengan dirinya.


"Selamat pagi!" sapa Ibu Lin mengagetkan Wendi karena ia sudah hampir terlelap di sofa. Mungkin karena semalam ia kurang tidur sehingga baru sepagi ini kantuk sudah menyerangnya.


"Ehh, Ibu... Tante... ibu dan ayahku sedang keluar untuk ibadah," ucap Wendi gugup sambil mengucek-ngucek matanya.


"Ohhh... " kata Tante Lin menanggapi.


Hari ini ia sengaja datang ke rumah Ibu Widy untuk bertemu dengan Pak Dani karena kemarin ia sangat penasaran dengan respon yang ia dapatkan dari Pak Dani setelah kemakan rayuan darinya. Namun Pak Dani sedang tidak berada di rumah padahal ia sudah berdandan sedemikian rupa dan menyemprot tubuhnya dengan parfum yang harganya mahal. Tak lupa ia mengenakan baju ketat dan rok lebar yang pendek seperti yang ia kenakan kemarin.

__ADS_1


Muncul ide gila dalam pikiran Tante Lin. Kalau ayahnya nggak ada maka anaknya justru lebih menantang karena masih muda. Ia pun mulai menjalankan aksinya.


Wendi merasa risih karena Tante Lin duduk di sofa yang bersebelahan dengan tempat duduknya. Ia duduk dan sengaja melebarkan kakinya sehingga roknya tersingkap ke atas. Mata Wendi melihat jelas kulit yang putih dan mulus itu membuat ia menelan ludah.


Melihat reaksi Wendi yang sudah tampak gelisah, Tante Lin sengaja menunduk untuk menggaruk kakinya yang tidak gatal sehingga gunung kebarnya terlihat menyembul. Meski Wendi sudah berusaha untuk menghindari pemandangan itu, tapi hati kecilnya malah menginginkan untuk menatap lebih lama.


Tidak hanya sampai di situ. Kini Tante Lin minta tolong kepada Wendi agar ia memeriksa matanya dengan alasan ada serangga kecil yang masuk ketika ia menunduk tadi.


Dengan gugup, Wendi mendekati dan mulai memeriksa mata Tante Lin.


"Coba dekat-dekat lagi, nggak usah sungkan deh!" pinta Tante Lin dengan suara yang dibuat manja. Ia meraih pinggang Wendi dan memeluknya dan tanpa merasa malu ia mencium bibirnya dengan ganas.


Wendi yang sedang galau karena semalam ditolak oleh istrinya seolah mendapat pelabuhan yang baru. Ia menikmati ciuman Tante Lin dan membalas dengan lebih panas lagi. Tante Lin tersenyum senang karena ia merasa sudah berhasil menggodanya.


"Ayolah... !" kata Tante Lin yang sudah tidak sabar lagi. Sudah dua bulan suaminya tidak pernah mengunjunginya sehingga ia sangat haus untuk disentuh.


"Tapi... " ujar Wendi ragu meski sesuatu dalam dirinya juga sudah merontah-rontah.


"Nggak usah takut, saya tidak akan mengganggu rumah tanggamu dan janganlah merasa bersalah kepada istrimu karena sayalah yang menginginkan. Percayah padaku, tak akan ada orang lain yang akan tahu. Sekali ini saja, Wen. Tolonglah saya!" rintih Tante Lin dengan wajah memelas.


"Ayolah, nanti keburu orang tuamu pulang!" katanya lagi karena melihat Wendi berdiri mematung dilanda keraguan.

__ADS_1


Tante Lin yang sudah tidak sabar mulai membuka pakaiannya hingga tak sehelai kain pun yang tersisa.


Bagaikan makanan siap saji yang sudah terhidang di hadapannya, Wendi bagai kesetrum saat Tante Lin menjamah tubuhnya. Ia tak tahan dengan sensasi yang ditimbulkan oleh setiap sentuhan yang diberikan oleh Tante Lin. Tanpa sadar ia mendesah dan dalam hati ia mengakui keahlian Tante Lin yang luar biasa. Walaupun umurnya sudah kepala empat tapi ia tak kalah dengan mama-mama yang masih muda.


Tante Lin semakin agresif dan menyerang Wendi tanpa ampun karena mendengar ******* halus yang keluar dari mulutnya.


Tak lama kemudian, terdengar nafas keduanya saling memburu, makin lama makin cepat hingga tak terdengar lagi.


Wendi seolah baru bangun dari tidur karena mimpi. Ia segera mangenakan pakaiannya dan keluar dari kamar dengan buru-buru.


Tante Lin tersenyum puas. Ia juga memungut pakaiannya di lantai dan memakainya lalu menyusul ke ruang tamu di mana Wendi duduk dengan wajah memerah. Berbagai macam perasaan timbul dalam benaknya dan rasa bersalah mulai menghantui dirinya.


"Terima kasih untuk semuanya, Nak Wendi! Saya pulang dulu," kata Tante Lin sambil tersenyum manis meski tak sedikit pun Wendi menolehnya.


Tante Lin berlalu dengan hati yang riang. Ia lekas pulang ke rumahnya karena takut jangan sampai Pak Dani dan Ibu Lin keburu datang.


Wendi jadi stres, ia sangat menyesal datang ke rumah orang tuanya pagi ini. Seandainya ia tidak datang, kejadian yang menjijikkan ini tak akan terjadi. Apa boleh buat, semua sudah terlanjur dan tidak bisa lagi untuk mengelak. Wendi terus mengutuki dirinya, bahkan memukul-mukul kepalanya dengan perasaan emosi. "Maafkan saya Sari! Saya sudah khilaf." rintihnya dalam hati. Tak terasa air matanya mengalir namun lekas disekahnya dan ia buru-buru keluar dan segera tancap gas.


Dalam perjalanan ia bingung, hendak ke mana. Mau pulang ke rumah, rasanya ia tidak sanggup untuk bertemu dengan istrinya karena dosa besar yang sudah ia lakukan. Dalam kekalutan ia membelok motornya menuju area persawahan. Suasana di sana sedikit memberi ketenangan sesaat karena pemandangan yang sungguh indah dengan hamparan padi yang sudah mulai menguning.


Hingga sore hari, Wendi belum makan siang. Sewaktu-waktu pikirannya kembali dihantui dengan perbuatan terlarang yang ia sudah lakukan. "Bagaimana jika hal ini ketahuan sama Sari?" gumannya. Ia pun berteriak dengan keras membuat burung-burung yang sedang berkicau kaget dan beterbangan menjauhi tempat tersebut.

__ADS_1


Tidak puas dengan teriakan, ia lalu menghantam batang pisang yang tumbuh di pematang dengan tinjunya yang bertubi-tubi.


__ADS_2