ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
38. Pertemuan yang Mengharukan


__ADS_3

Dimas semakin heran ketika Wendi mengarahkan mobilnya ke rumah sakit.


"Yuk, kita masuk dulu! Ada teman yang sedang dirawat di rumah sakit ini," ajak Sari yang berjalan di depan. Wendi dan Dimas mengikuti dari belakang.


Kamar nomor 093 tempat Glen dirawat tertutup rapat. Sari mengetuk dengan pelan dan tak lama kemudian pintu terbuka.


"Tredeeng, Nak Glen coba lihat! Siapa yang datang?" seru Sari dengan riang.


Sontak Glen menoleh ke arah pintu dan ia hampir melompat ketika melihat ayahnya sudah berdiri di ambang pintu, tapi ibunya segera memegang tangannya karena masih ada infus yang terpasang.


Dimas sempat termangu-mangu karena tidak pernah menyangkah sebelumnya bahwa ia masih akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang sangat dicintainya.


"Ayah...!" panggil Glen dengan senang. Matanya sungguh berbinar-binar.


"Anakku... " Dimas memeluk anaknya dengan erat sambil menangis.


Semua yang berada dalam ruangan tersebut ikut meneteskan air mata karena terharu menyaksikan peristiwa tersebut.


Cukup lama keduanya berpelukan.


"Kenapa Ayah pergi ke kampung lama bangat? Glen sangat rindu sama Ayah, jangan tinggalkan lagi Glen!" ujar Glen yang sudah melonggarkan pelukannya. Ia kini duduk di pangkuan Sang Ayah yang tidak henti-hentinya mengecul pucuk kepalanya dengan penuh kerinduan.


Dimas tak mampu bersuara mendengar permintaan anaknya. Ia hanya mengangguk karena dalam pikirannya, Rani pasti tidak akan menerimanya lagi.


Perlahan Dimas menoleh ke arah Rani yang masih bersimbah air mata dan entah dorongan apa yang memberanikan diri untuk menghampirinya setelah membaringkan Glen di tempat tidur dan bersujut di kakinya.


"Maaf Ran, tolong jangan usir saya dan izinkan saya untuk menemani Glen sampai ia benar-benar pulih!" ucap Dimas memelas membuat tangis Rani pecah. Ia memegang pundak Dimas dengan lembut.


Mendapat respon dari Rani membuat Dimas bangkit berdiri dan menatap wajah istrinya dengan penuh cinta. Melihat hal itu, perlahan Wendi dan Sari keluar dari kamar tersebut dan menunggu di luar setelah pamit kepada Glen dengan alasan mau keluar cari minuman segar.


Rani merasakan sebuah getaran mengalir dalam tubuhnya ketika matanya beradu tatap dengan Dimas. Tak dapat dipungkiri bahwa cinta dalam hati tetap ada untuk pria yang kini berdiri di depannya.


Ada rasa rindu yang menyeruak dalam sanubarinya membuat ia menubruk tubuh Dimas. Menyadari hal itu, Dimas menangkap tubuh itu dan mendekapnya dengan hangat. Ada rasa haru dan bahagia membuat keduanya menangis

__ADS_1


Setelah Dimas bisa menguasai keadaan, ia menghapus air mata Rani yang masih terus mengalir dengan jari tangannya.


"Maafkan diriku, Sayang!" ucap Dimas sambil merapikan rambut istrinya. Ia sadar dengar perubahan pada istrinya. Tubuhnya kurus dan wajahnya tampak lelah.


"Kenapa Ibu nangis?" tanya Glen yang heran melihat ibunya menangis.


"Ibu menangis karena senang lihat kamu sudah agak baikan," jawab Dimas.


"Glen sudah sembuh, Ayah! Panggil dokter supaya dia datang dan mengeluarkan infusku! Saya mau pulang ke rumah sekarang! Saya mau main sama Ayah!" seru Glen dengan semangat.


"Iya, sayang. Kamu yang sabar yah! Nanti Ayah panggilkan dokter!" ucap Rani. Ia senang dengan semangat yang ditunjukkan oleh anaknya setelah bertemu dengan Sang ayah.


Hati Dimas terenyuh mendengar perkataan istrinya. Ia kembali menatap lekat-lekat.


"Apa benar kamu mengizinkan saya pulang ke rumahmu?" tanya Dimas tak percaya.


Rani mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Rasa benci di hati telah memudar ketika menyaksikan semangat yang terpancar dari buah hatinya.


Sekali lagi Dimas merangkul istrinya lalu mencium keningnya dengan penuh perasaan serta membisikkan sebuah kalimat di telinga membuat jantung Rani berdebar-debar.


"Apa kabar, anak ganteng?" tanya Dokter Boy dengan ramah.


"Saya sudah sembuh, Dok! Hari ini ayah sudah datang menjemputku," jawab Glen dengan gembira.


Dokter Boy tersenyum melihat tingkah Glen yang menggemaskan. Ia pun memeriksa anak itu dan melepaskan selang infus dari lengannya.


"Hari ini, Nak Glen sudah boleh pulang ke rumah tapi ingat, harus rajin makan yah!"


"Iya, Dok. Terima kasih!"


Rani segera berkemas-kemas dibantu oleh Sari sedangkan Dimas menggendong Glen yang terus bermanja-manja dengannya.


Setelah semuanya sudah beres, Rani mengurus administrasi lalu menyusul ke mobil milik Wendi yang akan mengantar mereka pulang ke rumah

__ADS_1


Wajah Wendi dan Sari tampak bahagia karena apa yang direncanakan kini sudah berhasil untuk menyatukan kembali keluarga sahabatnya yang sempat berantakan.


"Terima kasih atas bantuannya, Tuhan yang akan membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu!" ucap Dimas dengan tulus ketika Wendi dan Sari berpamitan untuk pulang.


Mendengar ucapan Dimas menyapa sahabatnya dengan sebutan ' Bapak dan Ibu' Rani heran dan pernyataan itu juga menimbulkan tanda tanya dalam hati.


"Sama-sama, Dimas. Sebutan 'Bapak dan Ibu' jangan diberlakukan lagi!" sahut Sari dengan deraian tawa membuat Rani semakin bingung.


Melihat kebingungan Rani, wendi, Sari, dan Dimas saling melempar senyum.


***


Dimas merasa gugup setiap kali matanya beradu pandang dengan istrinya. Ada hasrat dalam hati


yang menggebu-gebu tapi ia sungkan karena takut dan masih merasa bersalah.


Sepanjang hari itu hingga malam hari, Dimas terus mendampingi anaknya sedangkan Rani sibuk membenahi dan membersihkan rumah setelah beristirahat hampir dua jam. Ia masih banyak diam dan melamun membuat Dimas kadang salah tingkah.


Malam hari ketika Glen sudah tertidur pulas dipangkuannya, ia membawa ke kamar lalu kembali ke ruang tamu dan duduk termenung. Tak lama kemudian rasa kantuk datang menyerangnya membuat ia terlelap.


Di kamar, Rani berbaring dengan gelisah. Ia bangun dan mencari keberadaan suaminya.


Hatinya terenyuh mendapati Dimas sudah tertidur pulas di sofa. Ia memandangi wajah tampan milik suaminya. Ada keteduhan di sana. Perlahan ia menyentuh dan mengelus pipi suaminya dengan lembut.


Dimas terjaga ketika jam di dinding menunjukkan pukul 01.30 WIB. Tidurnya sangat nyenyak sehingga tidak tahu kapan istrinya datang ke ruang tamu dan menyelimuti tubuhnya.


Ia pun kembali melanjutkan tidurnya, hingga pagi hari Rani datang membangunkan dengan sebuah kecupan mesra di keningnya.


Tetima kasih, Sayang! Apa saya boleh memelukmu?" tanya Dimas hati-hati. Ia merasa bahwa istrinya pasti masih jijik kepadanya sesuai dengan pernyataan yang dilontarkan saat ia kedapatan selingkuh dengan Caca.


"Saya sangat merindukanmu, Mas," sahut Rani dengan manja. Ia pun menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Dimas yang masih duduk di sofa.


Dimas terharu dan memeluk sambil menciumi pipi istrinya dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Mas janji, akan mencintaimu sepanjang hayat dan tidak akan pernah menghianatimu lagi. Hukumlah Mas seberat-beratnya supaya hatimu puas dan saya akan terima apa pun hukumannya," ucap Dimas dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2