ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
12. Rindu Suasana Rumah


__ADS_3

Sari sangat menikmati liburannya di Makassar. Ia membawa anak-anakya ke tempat wisata untuk rekreasi. Uang yang ia tabung selama ini cukup untuk memuaskan anak-anaknya.


Selama Sari berada di rumah orang tuanya, ia tidak menyadari jika ibunya sering memperhatikan dia ketika ia sedang duduk melamun. Ibu Mirna tahu bahwa ada masalah yang jadi beban bagi anaknya.


"Kalau ada masalah, jangan disembunyikan!" kata Ibu Mirna ketika memergoki Sari sedang melamun di kamar.


"Ngggak ada apa-apa kok, Bu." Sari langsung tersenyum dan mengajak ibunya ke dapur untuk memasak. Ia sengaja mengalihkan perhatian ibunya karena demi menghindari pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.


Ibu Mirna mengikuti Sari ke dapur. Ia juga tidak mau memaksa anaknya untuk menceritakan persoalan yang sedang dihadapi.


Dua hari lagi rencananya mereka akan pulang. Ada rasa rindu yang dirasakan oleh Sari. Sedikit demi sedikit rasa sakit dan kecewa dalam hatinya mulai terkikis namun bukan berarti ia sudah bersedia untuk mengelolah kembali keuangan dalam rumah tangganya.


Sari merindukan suasana rumah yang akrab seperti dulu. Canda tawa selalu mewarnai hari-hari yang mereka lalui bersama suami dan anak-anak.


Sari meraih ponsel di atas meja lalu mengaktifkan datanya. Sudah seminggu lebih ia berada di Makassar dan ia sengaja mematikan ponselnya. Baru kali ini hatinya terdorong untuk membuka ponsel tersebut.


Setelah aktif, Sari mulai memeriksa pesan-pesan yang masuk. Ia sudah menduga sebelumnya bahwa Wendi pasti akan selalu menghubunginnya seperti yang lalu-lalu ketika ia bepergian maka suaminya akan selalu mengecek keadaannya lewat pesan di WhatsApp. Benar saja, sudah ada dua puluh lebih pesan dari Wendi, pesan menanyakan kabar, menenyakan kegiatan anak-anaknya, dan menyakan kapan pulang.


Tanpa terasa mata Sari berkaca-kaca setelah membaca semua pesan dari suaminya. Soal perhatian, Wendi tak pernah berubah. Itulah yang dirasakan oleh Sari saat ini.

__ADS_1


***


Baru saja Wendi hendak merebus mie instan sepulang dari sekolah, tiba-tiba suara ketukan pintu di depan terdengar membuat aktifitasnya terganggu. Ia mematikan kembali kompor yang sudah ia nyalakan dan bergegas ke depan untuk melihat siapa yang datang.


"K.. kamu, saya tidak pernah pesan makanan," ucap Wendi terbata. Ia kaget karena Caca sudah berdiri di pintu dengan makanan ada di tangannya.


"Ssttt, nggak usah protes, saya datang mengantar makanan buat orang yang sepesial dalam hatiku!" kata Caca dan langsung menorobos masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan oleh tuan rumah.


Caca terus ke dapur tanpa rasa sungkan karena ia tahu kalau istrinya Wendi belum pulang.


"Firasatku memang benar bahwa kamu belum makan siang karena tidak ada yang ngurus. Terbukti dengan mie ini yang baru mau direbus. Aduhhhh... kasihan," ucap Sari lagi. Ia mengambil dua buah piring dan menghampiri Wendi yang masih berdiri mematung.


"Nih masakanku yang paling enak. Ayo kita makan bersama!" ajak Caca dan meletakkan piring yang sudah berisi nasi lengkap dengan sayur dan lauknya di meja. Aromanya sangat harum dan membuat Wendi semakin lapar. Mau menolak, tidak enak juga. Tidak baik menolak rejeki.


Caca tersenyum senang melihat Wendi makan dengan lahap hingga tak tersisa.


"Mau tambah lagi? Ini punyaku!" kata Caca menawarkan makanannya.


"Sudah cukup," sahut Wendi tanpa menoleh. Ia berusaha menghindar dari godaan Caca. Seperti biasa penampilannya kali ini lebih seksi dari biasanya. Baju kaos yang super ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang dipadukan dengan rok pendek di atas lutut.

__ADS_1


Caca sengaja duduk dengan salah satu kaki yang diangkat ke kursi tempat ia duduk sehingga tanpa sengaja Wendi yang hendak mengambil air minum yang ada di meja melihat paha yang putih dan mulus membuat ia menelan ludah.


"Wen, saya mau terus terang sama kamu bahwa saya ini sangat kesepian dan butuh pelepasan," ucap Caca tanpa rasa malu. Hasrat dalam jiwanya sedang haus dan butuh pelampiasan. Dua bulan yang lalu ia diusir oleh suaminya karena tertangkap basah di rumahnya sendiri sedang bersama dengan laki-laki, sahabat suaminya sendiri. Setelah manikah dulu, ia diboyong suaminya ke Jakarta dan menetap di sana karena suaminya bekerja di sebuah perusahaan.


Rupanya Caca tidak pernah meninggalkan kebiasaan lamanya yang sering memberikan tubuhnya kepada laki-laki untuk memuaskan dirinya. Reno, sahabat suaminya pun tak luput dari incarannya dan ia berani melakukan di rumahnya hingga kesekian kalinya. Namun sesuatu yang tidak baik atau busuk pasti akan tercium juga. Suaminya mengusir dia dengan kemarahan yang menyala-nyala. Caca pun kembali ke kota asalnya tanpa disertai oleh anak-anaknya karena suaminya tidak mengizinkan dia untuk membawa satu pun dari mereka.


"Terima kasih atas makanannya. Sekarang saya persilahkan kamu untuk pulang dan tolong jangan lagi datang mengantar makanan ke rumah ini apabila saya tidak memesannya!" ucap Wendi datar. Ia berusaha melawan naluri kelaki-lakiannya yang mulai tergoda dengan mangsa yang sudah pasrah di hadapannya.


"Jadi kamu mengusirku? Tega amat sih," kata Caca dengan wajah memelas. Ia mendekati Wendi dan berusaha meraih tangannya.


"Apa kata tetangga jika mereka tahu ada seorang wanita lain bertamu ke rumahku selagi istriku sedang keluar kota," ucap Wendi memberi pengertian kepada Caca yang mulai mengelus-elus dada Wendi dengan penuh gairah.


Sejenak Wendi merasakan kehangatan namun ia tiba- tiba mendorong tubuh Caca dengan keras karena mengingat kelakuan Caca di masa lalu membuat ia merasa jijik.


Caca jatuh akibat dorongan tangan Wendi yang kuat. Melihat Caca meringis kesakitan, ia jadi takut jika terjadi apa-apa kepada Caca, apalagi kejadian ini terjadi dalam rumahnya sehingga ia buru-buru menghampirinya dan mencoba mengangkat tubuh Caca.


Suara Caca semakin dibuat-buat seolah sangat kesakitan pada hal dalam hati ia terseyum senang karena akhirnya Wendi mau menyentuhnya.


Wendi memapah tubuh Caca dan berencana untuk mendudukkan ia di sofa. Caca melingkarkan tangannya di leher Wendi dan menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, tiba-tiba Sari muncul di pintu. Ia baru saja tiba dari Makassar.

__ADS_1


"Mas, siapa dia?" Bentak Sari dengan linangan air mata.


Wendi dan Caca sangat kaget mendengar suara tersebut. Wendi pun segera melepaskan diri dari pelukan Caca dan membiarkannya terjembab di sofa. Ia jadi salah tingkah di depan istrinya yang sudah bersimbah dengan air mata.


__ADS_2