
Sari mulai sedikit lebih semangat dibanding hari-hari sebelumnya. Semua ini berubah setelah pertemuan mereka di rumah makan dengan Caca. Ia merasa tersanjung dengan semua perlakuan Wendi terjadapnya di depan mata Caca.
Rani juga merasa senang melihat perubahan yang terjadi pada sahabatnya.
"Tadi malam kami ketemu dengan Caca di rumah makan," kata Sari kepada Rani setelah keduanya sudah duduk di ruang guru.
"Trus, bagaimana respon suamimu saat melihat Caca?" tanya Rani dengan cepat karena ia sangat penasaran.
Sari menceritakan semua yang dialaminya di rumah makan dan tak lupa ia juga menyebut nama Fredi yang datang bersama dengan Caca ke restoran tersebut.
"Fredi? Tunggu dulu, sepertinya saya pernah dengar nama itu," ucap Rani sambil terlihat sedang berusaha mengingat-ingat.
"Kamu kenal sama Fredi?"
"Hhmmm, saya sudah ingat. Fredi itu temannya Caca sewaktu SMA dan pernah datang di rumahnya,"
"Sepertinya di antara mereka ada hubungan yang khusus, terlihat dari cara mereka yang sangat romantis,"
"Biarlah, agar Caca tidak menggangu suamimu lagi,"
"Tapi sepertinya Caca sulit untuk melupakan Wendi sebagai mantan kekasihnya," ucap Sari dengan tatapan datar.
"Dari mana kamu tahu kalau Caca itu pernah berpacaran dengan Wendi?" tanya Rani dengan heran karena sebenarnya ia ingin merahasiakan hal ini tapi ternyata Sari sudah tahu. Ia pikir, mungkin Wendi sudah terus terang kepada istrinya.
"Anak saya, Tiara... dia secara tak sengaja mendengar Caca mengatakan hal itu ketika mereka bertemu di pasar," jawab Sari.
"Doakan saja semuanya akan baik-baik saja. Toh, semua orang punya masa lalu!" tutur Rani.
Sari tersenyum mendengar pendapat sahabatnya. Keduanya pun berpisah dan masuk ke kelas untuk menunaikan tugas.
***
Sore ini Pak Dani mengajak istrinya untuk berkunjung ke rumah anaknya karena sudah beberapa bulan ini Wendi beserta istri dan anak-anaknya tidak pernah datang ke rumah mereka padahal Pak Dani sangat merindukan cucunya.
__ADS_1
Tasya, Tiara, dan Wira sangat senang atas kedatangan oma dan opanya. Mereka berebutan untuk dipangku meski tubuh mereka sudah besar.
"Nih, Oma bawa es cream untuk kalian!"
"Hore... hore!" teriak Wira karena dia sangat suka makan es cream.
"Nggak usah berebutan, semua dapat bagian kok!" kata Ibu Widy sambil tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya yang saling berebutan.
Sari muncul dari dapur sambil membawa nampan yang berisi teh panas dan pisang goreng.
Mereka menikmati kebersamaan sore itu dengan penuh canda tawa. Sari juga sangat merasakan bahwa ibu mertuanya sudah banyak berubah.
Dari tadi Ibu Widy memperhatikan anak mantunya yang sepertinya kurang perawatan. Pada kulit wajahnya sudah muncul plek hitam dan rambutnya juga kurang rapi.
"Kita ke salon, yuk! Kita itu harus perawatan loh!" ajak Ibu Widi.
"Nggak usah Bu," sahut Sari menolak ajakan mertuanya. Bukannya nggak mau tapi ia tahu ke salon itu nggak gratis, sementara keuangan sedang menipis.
"Perawatan itu penting, Nak. Ayolah!" kata Ibu Widy lagi.
"Nggak kok, Ayah! Wendi selalu memberikan uangnya kepada saya," sahut Sari untuk menolong suaminya yang sedang gugup.
Hati Wendi lega setelah mendengar jawaban istrinya. Kalau tidak, pasti Ayahnya akan memceramahi ia panjang lebar.
"Bersiaplah Sari, Ibu tunggu kamu di luar! Kali ini Ibu yang akan bayar biaya salon," kata Ibu Widy seolah memaksa.
Dengan enggan Sari beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Sekilas ia memandangi wajahnya di kaca, dan benar saja apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya. Wajahnya yang dulu putih dan mulus, sekarang kelihatan kusam dan kasar, bahkan dibeberapa bagian sudah ada muncul bintik-bintik hitam.
Bukannya baru kali ini ia menyadari tapi setiap kali ada keinginan untuk ke salon maka pikirannya kembali berubah karena masalah biaya.
Sari segera keluar untuk menemui ibu mertuanya yang sudah menunggu di parkiran.
"Wira boleh ikut, nggak?" tanya Wira dengan polos.
__ADS_1
"Anak kecil nggak boleh ikut soalnya ini urusan orang tua. Sana ajak Opa jalan-jalan juga!" seru Ibu Widy lalu naik ke boncengan.
Keduanya berangkat mengendarai motor milik Sari. Ibu Widy menunjukkan jalan ke salon langganannya. Sejak berteman dengan Ibu Lin, ia sering datang ke salon hingga Ibu Lin sudah kembali ke Kalimantan, namun Ibu Widy sudah terbiasa dan rutin ke salon dan kadang-kadang ia diantar oleh suaminya.
Pantas aja, wajahnya kinclong. Orang-orang yang melihatnya akan mengira bahwa mereka adalah kakak beradik.
Mereka disambut dengan ramah oleh karyawan yang bekerja di salon tersebut. Ibu Widy adalah salah satu langganan mereka yang selalu rutin datang ke tempat itu.
"Anaknya yah, Bu?" tanya Melati, salah satu karyawan yang sering melayani Ibu Widy.
"Iya, anak mantu. Tolong, buat dia secantik mungkin agar anak saya makin sayang kepadanya!" sahut Ibu Widy sambil terkekeh.
"Siap, Bu!"
Ibu Widy dan para karyawan yang bekerja di salon itu terlihat sangat akrab. Mungkin karena Ibu Widy sudah sering datang dan sudah menjadi langganan tetap.
Sari pun duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Melati kepadanya. Pertama-tama yang dikerjakan adalah membersihkan wajah dan selanjutnya merapikan rambutnya.
Cukup lama juga mereka berada di salon itu. Ibu Widy juga minta untuk dibersihkan wajahnya agar tetap kelihatan kinclong meskipun usia sudah kepala empat. Ia sengaja melakukan hal itu agar tidak bosan menunggu anak mantunya.
Butuh waktu kurang lebih tiga jam keduanya berada di salon, hingga tak terasa sudah magrib.
Sari seolah tak percaya melihat bayangannya dalam cermin. Sungguh banyak perubahan setelah mendapat perawatan. Ibu Widy sendiri terkagum-kagum melihatnya.
"Pantas aja, anakku dulu tergila-gila padamu!" ucapnya sambil berdecak kagum.
"Ahh, Ibu... " kata Sari dengan malu-malu. Wajahnya semakin memerah karena semua karyawan bahkan para pelanggan yang berada di ruangan itu sedang menatap dirinya.
Model rambutnya yang baru sangat mempengaruhi penampilannya bila dibandingkan dengan sebelumnya. Kini Sari juga merasa lebih fres.
Ibu Widy lalu mengeluarkan uang dari dompetnya sebanyak Rp 500.000 dan membayar biaya salon mereka berdua. Sari sampai ternganga melihat banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh ibu mertuanya untuk kepentingan dirinya. Dalam hati ia membenarkan apa yang sering ia dengar dari orang-orang bahwa cantik itu mahal.
"Terima kasih buat semuanya!" ucap Ibu Widy lalu berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Sari pun mengikuti ibu mertuanya keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir.