
Wendy segera menarik tangannya dari genggaman Tante Lin karena mendengar derap langkah seseorang menuju ke tempat mereka berada. Pak Dani sengaja membuntuti keduanya karena ia sangat yakin dengan apa yang ada di pikirannya.
Pak Dani semakin yakin ketika ia memergoki keduanya dengan wajah yang gugup. Wendy berlalu dengan cepat tanpa bersuara. Demikian juga dengan Tante Lin, ia pura-pura masuk ke kamar mandi meskipun sebenarnya ia tak ingin buang air kecil.
Sementara itu, sedikit pun Pak Bakri tidak menaruh curiga kepada istrinya. Sejak ia tahu bahwa istrinya berbadan dua, ia sangat senang hingga memiliki putra kecil. Pak Bakri tidak mempunyai anak laki-laki dari istri tuanya sehingga dengan lahirnya Titan menjadi warna tersendiri dalam hidupnya.
Pak Dani kembali bergabung di ruang tamu. Wendy sudah lebih duluan duduk di tempatnya semula dan wajahnya sudah tampak lebih santai. Tidak lama kemudian, Tante Lin juga sudah muncul dan ikut bercengkrama, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di antara dirinya dengan Wendy. Pak Dani hanya menyimpan perkara tersebut dalam hatinya karena ia juga tidak mau jika rumah tangga anaknya goyah.
"Jadi kapan kira-kira Bapak kembali lagi ke Kalimantan?" tanya Wendy basa-basi.
"Mungkin besok atau lusa setelah urusan kami selesai," jawab Pak Bakri dengan santai.
"Kok cepat amat sih? Saya belum jalan-jalan sama Ibu Lin," protes Ibu widy sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah sahabatnya.
"Iya Mas, kami masih mau shopping ria loh," timpal Tante Lin dengan manja.
"Nggak masalah sayang, besok kalian bisa pergi seharian," sahut Pak Bakri membuat kedua ibu itu bersorak kegirangan. Pak Dani sampai geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah kedua ibu yang sudah tidak mudah lagi.
Akhirnya Wendy bersama istri dan anaknya pamit duluan karena anak-anak sudah mulai mengantuk dan besok harus masuk sekolah.
"Jangan lupa besok ke sini jemput kami setelah pulang dari kantor yah!" seru Ibu Widy setengah berteriak.
"Memangnya Ibu nggak ke Mall pakai motor?" tanya Wendy beralasan karena ia mau menghindari pertemuan dengan Tante Lin.
__ADS_1
"Kita mau shopping pakai mobil baru. Jangan lupa ajak istri dan anak-anakmu biar tambah seru!" kata Tante Lin yang ikut membuntuti Wendy dari belakang.
"Ok, kalau begitu," sahut Wendy lalu naik ke mobil yang di dalamnya sudah ada istri dan anak-anaknya menunggu.
Malam itu Pak Bakri dan Tante Lin juga kembali ke hotel meski Pak Dani dan Ibu Widy sudah menawarkan agar mereka menginap saja di rumahnya. Pak Bakri tidak mau merepotkan sehingga ia memberi alasan bahwa ada dokumen yang akan dikerjakan malam itu juga.
"Terima kasih atas kunjungannya!" ucap Pak Dani saat mengantar tamunya ke halaman depan.
"Sama-sama," jawab Pak Bakri.
Mobil Pajero perlahan bergerak dan meninggalkan halaman rumah itu. Mobil itu adalah hadiah untuk Tante Lin karena ia telah melahirkan seorang putra bagi Pak Bakri.
Tante Lin juga sudah merasa nyaman tinggal di Kalimantan karena istri pertama suaminya sudah tidak pernah lagi menerornya. Sudah setahun ini ia tidak bisa keluar rumah karena kakinya sudah tidak berfungsi akibat kecelakaan lalu lintas.
Ketiga anak dari istri tua Pak Bakri juga kini sudah akrab dengan Tante Lin bahkan mereka memanggilnya dengan sebutan 'Mama' membuat Pak Bakri terharu. Ia mempekerjakan seorang suster untuk merawat dan mengurus segala kebutuhan dan keperluan istri tuanya karena ke tiga anaknya sedang bersekolah dan Tante Lin juga tidak sempat mengurusnya.
***
Siang ini tampak kesibukan di rumah keluarga Wendy. Mereka akan keluar dan menjemput ibunya bersama Tante Lin.
Tiba di rumah orang tuanya, ternyata orang-orang di sana juga sudah siap untuk berangkat. Mobil milik Pak Bakri juga sudah sudah siap. Mereka langsung berangkat menggunakan dua kendaraan. Pak Dani juga tidak mau ketinggalan. Ia naik ke mobil Pajero milik Pak Bakri bersama Wira.
Kedua mobil mewah itu berjalan beriringan menuju Mall yang ada di kota itu. Ketika tiba di tempat tujuan, mereka berbelanja sepuasnya. Awalnya Sari merasa segan untuk berbelanja karena ia hanya membawa sedikit uang tapi ibu mertuanya malah yang memilihkan pakaian untuknya.
__ADS_1
Wendy selalu mendampingi istrinya karena ia menghindari Tante Lin. Ia selalu gelisah ketika Tante Lin mendekat ke arahnya.
"Wen, tolong bantu Tante dulu soalnya capek banget gendong Titan!" seru Tante Lin sambil membuka sarung gendongan yang melekat di tubuhnya dan menyerahkan Titan kepada Wendy. Wendy pun tak bisa menolak, ia segera menggendong Titan sedangkan Sari tampak biasa saja. Ia sama sekali tak menaruh curiga kepada suaminya bahkan ia malah mencubit pipi Titan yang sudah berada dalam gendongan suaminya dengan gemas.
Pak Dani dan Pak Bakri sudah memisahkan diri dari mereka. Kedua orang tua itu rupanya tidak suka mengikuti perempuan yang lagi belanja. Keduanya memilih masuk di salah satu kedai dan menikmati minuman segar karena cuaca masih terasa panas.
"Ayo Sari, kamu pilih perhiasan itu! Nggak usah sungkan-sungkan, nanti semua belanjaan kamu, Tante yang bayar," kata Tante Lin dengan serius.
"Nggak usah Tante, ini sudah banyak sekali," sahut Sari.
Mendengar penolakan Sari, Tante Lin diam-diam mengagumi kepribadian yang dimiliki oleh istri dari ayah anaknya. Tante Lin berjanji sekali lagi dalam hati untuk tidak mengganggu dan mengusik kebahagiaan Wendy.
"Ehh, gantengnya nih anak, mirip bangat sama ayahnya," celetuk salah seorang penjual sambil terus main cilukba sama Titan yang berada dalam gendongan Wendy.
Wajah Wendy merah padam dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Matanya melirik ke arah Sari yang sedang sibuk memilih perhiasan emas. Ia berharap bahwa istrinya tidak mendengar celoteh dari Si Penjual itu.
Tante Lin yang mendengar perkataan Si Penjual itu mendekat ke arah Wendy yang masih gugup dan tersenyum sambil menganguk ke arah penjual.
"Mamanya yang mana?" tanya Penjual itu lagi.
Tante Lin menarik tangan Wendy dan menjauhi Penjual yang cerewet itu. Beruntunglah karena Sari membelakangi mereka sehingga tidak melihat adegan tersebut.
"Gendonglah Titan sepuasmu karena mungkin ini adalah momen terakhir kami berkunjung ke sini!" bisik Tante Lin kepada Wendy.
__ADS_1
Wendy hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia pun memeluk Titan dengan erat lalu berjalan menghampiri istrinya.
Tak lama kemudian Ibu Widy beserta cucunya juga datang mendekati mereka. Semua menjinjing barang belanjaan masing-masing dengan wajah tampak lelah.