ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
35. Digerebek Warga


__ADS_3

Wajah Caca seketika menjadi pucat mendengar ancaman warga yang semakin nekat. Ia membayangkan jika warga akan menggiringnya di jalan raya tanpa busana.


Kesabaran warga sudah hilang membuat mereka menerobos ke dalam rumah meskipun Caca dengan sekuat tenaga menghalangi mereka di pintu.


Mereka yang berhasil masuk ke dalam rumah langsung mencari keberadaan Daren, suami ibu Dewi. Semua ruangan tak luput dari pencarian mereka, namun hingga beberapa waktu mereka tak menemukan sosok Daren.


"Tidak mungkin ia bisa lolos dan melarikan diri karena rumah ini sudah terkepung. Pasti ia bersembunyi di dalam," kata ibu Dewi dengan suara parau.


Salah seorang Warga yang bernama Dadang kembali ke kamar dan matanya tertuju ke sudut ruangan. Di sana ada tumpukan pakaian, bahkan seprei dan selimut juga ada di situ membuat tumpukan menggunung. Dadang semakin curiga karena ia melihat tumpukan tersebut bergerak. Akhirnya ia keluar dan memanggil kembali warga yang sudah terlanjur keluar dari rumah.


Caca yang sudah bernafas lega kini kembali gemetar dan berkeringat melihat warga kembali masuk ke dalam rumah, bahkan jumlah mereka makin bertambah karena penasaran dengan sikap Dadang yang datang di pintu dan memanggil warga dengan isyarat.


Mereka masuk secara berdesak-desak ke kamar mengikuti Dadang dan membongkar tumpukan pakaian yang ada di pojok kamar. Dan benar saja bahwa seorang pria duduk jongkok sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya berada dalam tumpukan pakaian tersebut. Daren hanya mengenakan ****** *****. Bisa dipastikan bahwa ia tidak sempat berpakaian karena mendengar teriakan warga di luar.


Kini Daren sudah seperti tikus yang sudah disiram dengan air. Ia sama sekali tidak bisa berkutik di depan para warga bahkan untuk mengangkat wajahnya, ia tidak berani.


"Ternyata ini kelakuanmu, laki-laki jahanam! Sekarang kebusukanmu sudah terbongkar dan malam ini juga saya akan menceraikanmu!" seru ibu Dewi dengan penuh amarah.


Tubuh Daren menggigil mendengar perkataan istrinya tapi apa mau dikata, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa membantah dengan keputusan yang disampaikan oleh Dewi. Kini ia baru menyesali semua yang sudah terjadi. Karena kenikmatan sesaat ia sudah menghianati Dewi yang baru tiga tahun ini menjadi istrinya dan mereka juga sudah dikaruniai seorang putra yang sangat menggemaskan.


"Maafkan saya, sayang! Saya janji tidak akan mengulangi lagi dan tolong jangan mengusirku! Saya sangat sayang sama kamu dan anak kita," ucap Daren dengan memelas sambil mendekati istrinya.


"Hehhh, jangan coba-coba mendekat apalagi menyentuh saya!" seru ibu Dewi lalu mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Ayo, kita giring ke jalan raya kedua orang yang sudah mengotori kompleks kita ini!" teriak salah seorang warga dan tanpa menunggu respon warga yang lain, ia sudah menarik tangan Daren dan membawa ke luar karena di luar Caca juga sudah dijaga ketat oleh ibu-ibu, jangan sampai ia meloloskan diri.


"Dasar perempuan murahan! Sudah berapa puluh itu laki-laki yang menidurimu dan kau tak pernah puas? Suami tetangga juga diembat atau jangan-jangan bukan cuma Si Daren, suami ibu Dewi yang dirayu, bisa jadi suami kalian yang bertetangga dengannya juga sudah dirayu oleh dia tanpa sepengetahuan kalian. Bagaimana ibu-ibu kompleks? Kita mau apakan Si pelakor ini bersama dengan selingkuhannya?" seru ibu Ratna yang juga sering mencurigai suaminya dekat dengan Caca.


"Ayo kita arak dia!"


"Jangan cuman diarak tapi sekalian usir dari kota ini!"


"Iya, usir saja karena kalau dia tetap di sini, hidup kita tidak bisa tenang! Iya, kan ibu-ibu?"


"Betul sekali, Bu."


Rani menyaksikan peristiwa tersebut dari teras rumahnya. Ia sedih melihat ibu Dewi yang terus beruraian air mata karena merasa senasib dengan dirinya.


Karena larut dalam kesedihan, ia kaget ketika ada yang merangkul tubuhnya dari belakang. Sontak ia menoleh dan tampaklah Sari bersama suaminya berada di belakangnya.


"Minggir! Minggir!" suara salah seorang petugas dari kepolisian membuat warga menghentikan aksinya. Rupanya ada yang memberikan informasi kepada yang berwajib karena takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan ketika warga bertindak sendiri.


Polisi segera membawa Daren dan Caca ke kantor dan warga yang berkerumun pun bubar dengan sendirinya.


Rani dan Sari merasa lega ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana wajah Caca ketika ia digiring polisi. Dalam hati mereka berharap, semoga tidak ada lagi korban berikutnya.


Mereka masih sempat mendengar cerita dari ibu-ibu yang lewat di depan rumah bahwa sebenarnya sudah lama mereka ingin mengusir Caca tetapi mereka tidak punya bukti yang kuat. Gosip sudah lama beredar di sekitar kompleks tentang kelakuan Caca yang suka merayu suami-suami tetangganya tanpa memandang umur.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya, belajarlah untuk melupakan kejadian yang menimpahmu dan mintalah petunjuk kepada Tuhan sehingga Ia yang akan menuntunmu menjalani hidup yang lebih baik. Kamu harus semangat, kasihan loh sama Glen kalau ibunya selalu bersedih!" kata Sari memberi semangat kepada sahabatnya.


"Terima kasih, Sar. Doakaan saya supaya mampu dan bisa bangkit kembali!" ujar Rani dengan senyum tipis.


Ia pun mengajak Sari dan Wendy masuk ke dalam rumah karena di luar udara malam sangat dingin.


"Apa kedua orang tuamu sudah tahu tentang masalah yang sedang menimpah rumah tanggamu?" tanya Sari ketika mereka sudah duduk di ruang tamu dan sedang menikmati teh panas.


Rani menggeleng pelan.


"Trus, bagaimana kabar suamimu sekarang?"


Rani memberi kode kepada sahabatnya sebagai isyarat bahwa hal itu tidak boleh diperdengarkan kepada Glen karena yang ia tahu, ayahnya saat ini berada di kampung.


Sari langsung paham dan mengalihkan percakapan hingga Glen mengantuk dan ditidurkan oleh ibunya di kamar.


"Sejak saya usir dia, saya tidak pernah lagi peduli," kata Rani setelah kembali dari kamar.


"Kasihan sekali, bisa saja ayahnya Glen tidak ada maksud untuk berselingkuh tapi karena godaan perempuan itulah yang telah membuatnya khilaf. Buktinya, peristiwa itu terjadi di rumah milik kamu ini, bukan di rumahnya Caca. Artinya memang Caca yang datang menggoda dia," ujar Sari dengan wajah sedih.


"Ini juga terjadi karena kelemanan saya yang terlalu percaya dan selalu memberikan ruang kepada Dimas dan Caca untuk bertemu di rumah. Bisa dibayangkan bagaimana keakraban yang terjalin di antara mereka, boleh dikata setiap hari Caca saya percayakan untuk mengantar makanan ke rumah, sementara saya berada di sekolah atau di rumah orang tuaku apalagi saat ibuku sakit, saya sangat jarang pulang ke rumah." keluh Rani panjang lebar.


Wendy hanya duduk termenung mendengar percakapan antara Rani dan istrinya. Hatinya terenyuh ketika mengingat perbuatannya dulu yang telah menghianati istrinya. Namun keberuntungan masih berpihak kepadanya karena hingga saat ini, Sari tidak pernah tahu bahwa sebenarnya Wendy pernah menghianatinya dan semoga saja hal ini tidak akan pernah tercium oleh Sari. Itu adalah harapan dan doa yang selalu dipanjatkan oleh Wendy dalam hati. Ia tidak dapat membayangkan jika rahasianya bersama tante Lin terbongkar. Mungkin istrinya tidak akan pernah memberi ampun dan akan segera minta cerai.

__ADS_1


Dimas saja yang hanya kepergok berselingkuh, sudah diusir oleh istrinya apalagi kalau seorang pria ketahuan punya anak dari perempuan lain. Sakit, pasti sakit.


Wendy menghela nafas dengan berat dan menghembuskan secara perlahan untuk mengurangi rasa sesak dalam hati.


__ADS_2