
Sari sengaja memancing pembicaraan. Ia merembet hal-hal yang menyangkut kepribadian Dimas untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Rani.
Kemarin, secara tidak sengaja Wendi dan Sari bertemu dengan Dimas di pasar. Keduanya sangat prihatin melihat keadaan Dimas. Tubuhnya sangat kurus karena tidak terurus membuat Sari hampir-hampir tidak mengenalnya.
Awalnya Dimas menolak ajakan Wendi untuk dibawah ke rumahnya karena merasa malu dan tahu diri tetapi Wendi dan Sari terus membujuknya dengan menjanjikan bahwa ia akan diberi pekerjaan di rumah.
"Dari pada kamu jadi kuli di pasar dan tidak punya tempat tidur, lebih baik tinggal di rumah kami saja. Ada pekerjaan yang bisa kamu kerjakan dan kami akan memberi upah dan tempat tinggal yang layak!" kata Sari.
"Apa kalian tidak jijik dengan saya?" ujar Dimas dengan merendah.
"Sebagai manusia, sudah sepatutnyalah kita saling menolong," kata Wendi.
"Sebenarnya saya sangat menyesal telah menghianati istriku yang sangat baik, tapi waktu itu Caca selalu datang ke rumah dan menggodaku. Saya ini laki-laki normal dan setan sudah menguasaiku hingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Saya sadar, apa yang saya alami sekarang adalah akibat dari dosa-dosaku, itulah sebabnya saya hanya pasrah dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa, apalagi mau berharap untuk bisa bersatu kembali dengan istriku. Satu hal yang sangat mengganggu pikiranku adalah anakku, Glen... " Dimas menangis tersedu-sedu membuat Wendi dan Sari ikut menitikkan air mata.
Demikian ceritanya hingga kini Dimas sudah tinggal di rumah Wendi. Ia diberi pekerjaan untuk membersihkan sekitar pekarangan rumah.
Wendi dan Sari bersepakat untuk berupaya menyatukan kembali rumah tangga sahabatnya. Itulah sebabnya mereka datang menemui Rani tapi untuk saat ini mereka masih merahasiakan tentang keberadaan Dimas.
Sari terus memberi semangat kepada sahabatnya dan sekali-kali ia mengungkit sisi baik dari kepribadian Dimas dengan maksud untuk mengikis rasa benci yang ada di dalam hati Rani.
"Kamu nggak takut di sini jika hanya berdua dengan Glen?" tanya Sari setelah berpamitan untuk pulang karena sudah hampir larut malam.
"Yah, nggaklah... toh, mau diapa lagi, mulai sekarang harus belajar membiasakan diri untuk hidup berdua dengan anakku," jawab Rani dengan senyum tipis.
"Jaga diri baik-baik, kami pulang dulu, sampai jumpa besok di sekolah!"
"Oke, terima kasih!"
***
Satu bulan kemudian keadaan Glen semakin memprihatinkan, tubuhnya tampak kurus karena malas makan dan ia sudah tidak seceria yang lalu-lalu. Setiap pagi ia selalu bertanya kepada ibunya, kapan ayah pulang?
Malam ini Rani bangun karena mendengar anaknya mengigau memanggil-manggil ayahnya.
"Astaga, tubuhnya panas tinggi!" guman Rani saat meraba kening anaknya.
"Ayah... ayah... !" seru Glen setengah sadar.
"Iya, Nak, nih ibu ada di sini," kata Rani dengan gemetar. Ia sangat takut dan panik.
__ADS_1
Rani segera mengambil peralatan untuk mengompres tubuh Glen dan berharap panasnya akan segera turun namun hingga beberapa saat panasnya tidak turun-turun juga. Ia punya ide untuk menelepon Sari.
"Iya, Ran, ada apa, kok menelepon malam-malam?"
"Anak saya demam tinggi dan selalu ngigau, saya mau minta bantuan untuk membawanya ke rumah sakit!" terderngar suara Rani yang sangat ketakutan.
"Oke, kam tenang dulu yah, kami segera ke situ!"
Sari membangunkan Wendi yang baru saja terlelap setelah keduanya bercinta hampir sejam.
"Mmm, kamu mau lagi satu ronde?" kata Wendi dengan mata yang masih tertutup.
"Mas jangan main mulu, ayo bangun, ini darurat!
Mendengar perkataan istrinya yang serius, Wendi langsung bangun.
"Memangnya ada apa?"
"Ayo kita ke rumah Rani, anaknya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit malam ini juga!"
"Apa kita ajak Dimas sekalian?"
"Untuk saat ini, jangan dulu,"
"Untunglah anak ini cepat kalian bawa ke sini," kata Dokter setelah memasang infus pada lengan mungil yang sudah tidak berdaya.
"Terima kasih, Dok!" ucap Rani dengan hati lega.
"Sama-sama, Bu. Saya tinggal dulu, kalau ada apa-apa, segera panggil saya!" kata dokter lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Terima kasih Wen! Terima kasih Sari! Maaf, saya sudah merepotkan! Saya tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya kalian tidak datang," ucap Rani.
"Sama-sama, Ran, kami ini tulus membantu dan tidak pernah merasa direpotkan," jawab Wendi.
Sudah hampir satu jam mereka duduk menunggu. Rasa kantuk sudah mulai terasa karena waktu sudah menunjukkan pukul O2.30 dini hari.
"Ayah..., ayah... !" Glen kembali ngigau memanggil ayahnya. Rani meraba kening anaknya dan ia kaget karena panasnya kembali meninggi.
Rasa kantuk hilang seketika. Wendi segera keluar memanggil dokter karena tubuh Glen kejang-kejang.
__ADS_1
Dokter menambahkan obat ke dalam botol infus setelah memeriksa keadaan tubuh Glen.
"Sepertinya anak ini sedang tertekan," guman Dokter Boy.
Wendi dan Sari saling berpandangan, sedangkan Rani mengelus kepala anaknya sambil meneteskan air mata. Ia sangat paham bahwa Glen sakit karena merindukan ayahnya. Sementara saat ini ia sama sekali tidak tahu di mana keberadaan suaminya.
"Mungkin anak ini sedang merindukan ayahnya," kata Wendi sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah istrinya.
"Iya, tadi ia selalu memanggil-manggil ayahnya," sambung Sari. Ia sengaja memancing reaksi sahabatnya.
"Ayahnya ada di mana?" tanya Dokter.
Ketiganya diam dan saling berpandangan. Wendi hampir keceplosan tapi Sari menginjak kakinya.
"Ayahnya ada di kampung karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan," sahut Sari.
"Tapi kondisi anak ini memprihatikan dan saya yakin apa bila ia ketemu dengan ayahnya maka kondisinya akan membaik," saran dokter Boy.
Setelah kondisi Glen agak membaik, Dokter Boy meninggalkan ruangan itu. Kini mereka diam membisu dengan pikiran masing-masing.
"Bagaimana pendapatmu kalau misalnya besok kami pergi mencari Dimas?" tanya Wendy kepada Rani yang masih berlinangan air mata.
"Iya, Ran..., ini demi kesembuhan Glen, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, barulah kita menyesal," sambung Sari.
"Kemana kalian akan mencarinya?" tanya Rani dengan isak tangis. Ia khawatir tentang keberadaan Dimas karena waktu pergi dari rumah, ia sama sekali tidak membawa apa-apa dan Rani juga memastikan bahwa suaminya tidak akan pulang ke orang tuanya karena malu dan takut.
"Kami akan mencarinya sampai dapat demi kesembuhan Glen," jawab Wendi dengan yakin.
"Terima kasih sebelumnya,"
Hening sesaat.
"Ibu, saya mau minum," kata Glen karena merasa kehausan.
Rani segera meraih botol minuman yang ada di meja dan membantu anaknya untuk minum dari botol tersebut dengan menggunakan pipet.
"Kamu yang sabar ya, Nak! Besok pagi Om Wendi dan Tante Sari akan menjemput ayah," ucap Rani dengan lembut.
"Yang benar, Bu?" tanya Glen dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"Iya sayang, jadi sekarang anak Ibu harus semangat biar lekas sembuh dan ketemu sama ayah!" jawab Rani sambil tersenyum. Ia lega melihat anak semata wayangnya sudah mulai bersemangat hanya dengan mendengar kabar bahwa ayahnya akan datang.
Wendi dan Sari saling melempar senyum karena secercah harapan sudah terbayang untuk menyatukan kembali rumah tangga sahabatnya.