ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
41. Rencana Liburan


__ADS_3

Wendi sudah membuat agenda untuk mengadakan liburan bersama dengan anak-anak dan istrinya. Tinggal satu minggu lagi hari yang ditunggu-tunggu akan tiba namun rencana ini belum disampaikan kepada anak-anak. Wendi dan Sari ingin memberikan suprise kepada mereka pada saat yang tepat.


Sebuah pegunungan yang sudah disulap menjadi tempat wisata dengan fasilitas yang tergolong mewah, termasuk rumah penginapan. Tempat wisata ini adalah milik seseorang yang kaya raya dan terletak di luar kota tempat mereka tinggal.


"Gimana Mas kalau kita ajak juga Dimas bersama istri dan anaknya?" kata Sari ketika mereka sudah berbaring di kamar dan hendak istirahat.


"Nggak masalah, lagian mereka itu sudah menjadi bagian dari keluarga kita," ujar Wendi menyetujui usul istrinya.


Sari sangat senang mendengar respon suaminya karena ia juga sudah menganggap Rani sebagai saudaranya. Perlahan ia mengecup kening Wendi dan mengucapkan terima kasih.


"Besok di sekolah saya akan menyampaikan berita ini kepada Rani dan saya yakin dia akan senang apalagi saat ini mereka baru saja berbaikan."


Wendi tersenyum melihat tingkah istrinya yang tampak sangat gembira. Ia pun memeluk dan menciuminya dengan lembut.


"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu membuat Sari segera melepaskan diri dari rangkulan suaminya.


Setelah pintu kamar terbuka, tampaklah Tiara berdiri di depan pintu dengan sebuah buku tulis di genggamannya.


"Ada apa, Nak?"


"Nih, ada tugas membuat sebuah karangan deskriptif tapi saya nggak bisa kerjakan dan besok ibu guru akan memeriksanya di sekolah,"


"Kok, nggak bisa? Mungkin kamu hanya main-main saat gurumu menjelaskan,"


Wajah Tiara cemberut karena tidak terima tuduhan ibunya.


"Ya, sudahlah. Ayo, kita ke ruang tengah untuk mengerjakan tugasmu itu!"


"Siap, Bu!"

__ADS_1


Sari setia menemani sang buah hati untuk mengerjakan tugas dari sekolah hingga selesai. Ia menjelaskan secara detail sampai Tiara benar-benar paham tentang paragraf deskriptif.


"Seandainya ibu guru menjelaskan seperti cara Ibu, pasti saya cepat mengerti," kata Tiara setelah ia mendengar penjelasan dari ibunya.


"Iya, semua orang itu punya kekurangan dan punya kelebihan, termasuk guru kamu itu. Jadi sebaiknya kita harus saling memahami," tutur Sari dengan lembut.


"Iya, Bu." sahut Tiara lalu pamit kepada ibunya karena rasa kantuk sudah menyerangnya.


Sari bangga melihat kedua anaknya perempuannya yang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tasya tumbuh menjadi gadis pendiam dan peminim sedangkan Tiara tumbuh menjadi gadis tomboy. Walaupun keduanya berbeda tapi mereka tidak pernah bertengkar karena sang kakak selalu mengalah kepada adiknya.


Sari bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke kamar untuk istirahat. Ia mendapati suaminya sudah tertidur pulas. Ditatapnya wajah tenang yang memberikan keteduhan, lalu mengecup dengan penuh cinta kemudian berbaring di sampingnya. Tak lama kemudian ia pun tertidur pulas dengan mimpi yang indah.


***


Sementara itu, di rumah kediaman Dimas dan Rani tampak masih ada kegiatan. Keduanya masih belum tidur juga pada hal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.


Dimas dan Rani masih enggan untuk beranjak dari depan TV. Rani bergelayut manja di dada bidang suaminya. Ia merasa sangat rindu dengan dekapan yang sudah beberapa bulan tidak pernah dirasakan.


Malam yang dingin dan suasana sunyi sepi melengkapi kebersamaan kedua insan itu yang sedang menyalurkan rasa rindu yang sudah memuncak. Tanpa suara, Dimas semakin mengeratkan pelukannya sambil memenjamkan mata. Jujur, sejak siang tadi ia menahan segala keinginannya untuk malakukan hal ini karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.


Cukup lama keduanya berpelukan dalam keheningan malam, meresapi dan menuangkan rasa rindu yang terpendam.


Dimas merenggangkan pelukannya dan membelai wajah istrinya lalu mencium bibir yang berwarna merah alami tanpa lipstik itu. Ada getar-getar yang mengalir dalam tubuh Rani ketika bibir suaminya bersentuhan langsung dengan bibirnya. Makin lama makin panas hingga kedua lidah sudah bertautan membuat nafas tersengal-sengal.


Tangan kekar Dimas mulai menjelajah membuat Rani menggelinjang tak menentu bak cacing kepanasan menahan sensasi yang nikmat.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita ke kamar?"


"Di sini aja sayang, nggak ada gangguan kok,"

__ADS_1


Rani kembali terdiam mendengar perkataan suaminya. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu ketika ia baru mengenal Dimas. Waktu itu hatinya selalu berdebar saat pandangan mata beradu. Kini di usia pernikahan yang sudah memasuki tahun yang ke enam, hatinya kembali berdebar seperti orang yang jatuh cinta.


"Santai aja, Mas," kata Rani yang merasakan sikap suaminya yang sangat terburu-terburu.


"Ohhh, iya, Sayang. Mas lupa...," sahutnya sambil tersenyum bahagia.


"Biarlah malam ini menjadi malam yang panjang buat kita. Anggaplah ini malam pertama yang harus kita nikmati!" sambungnya lagi.


"Gimana kalau besok saya terlambat bangun dan terlambat ke sekolah?" tanya Rani dengan manja.


"Jangan khawatir, Sayang... besok pagi, Mas akan membangunkanmu dan kalau perlu memandikan dan mengantarmu ke sekolah. Kita kan pengantin baru," sahut Dimas sambil terkekeh.


"Mas, saya sangat mencitaimu, tolong jangan duakan cintaku dann kalau ada sikap saya atau pelayanan saya yang Mas tidak suka, tolong sampaikan biar saya bisa merubahnya!" tutur Rani memelas.


"Mas juga sangat mencintaimu, Sayang. Yakinlah kita akan hidup bahagia!" ujar Dimas sambil mengelus-elus kedua gunung kembar yang menggelantung bebas secara bergantian. Rani membalasnya dengan mengusap dada bidang yang berbulu dengan penuh perasaan.


Dengan cahaya lampu yang remang-remang dan suasana sunyi semakin mencekam, dua insan tak kenal lelah dan tak sadar dengan waktu yang terus bergulir dengan detak yang tak pernah berubah menjadi saksi bisu.


Sebuah kecupan kembali mendarat di kening sang istri mewakili ucapan terima kasih yang tulus dan dibalas dengan sebuah senyuman manis.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Dimas sekali lagi.


"Sama-sama, Sayang!" sahut Rani.


Keduanya saling bertatapan dan kembali melempar senyum. Ada binar-binar kebahagiaan yang tampak di wajah.


Malam itu juga keduanya tidur dengan pulas. Suara dengkuran yang halus saling bersahutan memandakan bahwa tidur mereka sangat nyenyak. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang diwarnai suasana sedih yang menggelisahkan bahkan terkadang tidak bisa tertidur hingga dini hari. Hal ini sering dirasakan oleh Rani juga oleh Dimas.


Semua sudah berlalu. Keduanya sangat bersyukur karena satu tahap dapat dilalui meski penuh lika-liku kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2