ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
20. Kecewa


__ADS_3

Sore ini Wendi singgah ke rumah orang tuanya saat pulang dari sawah untuk sekedar melihat tanaman padi yang sudah mulai berisi. Tiba di rumah orang tuanya ia melihat ada motor milik ibu Lin terparkir di luar. Ia pikir, pasti ibu Lin datang lagi mengajak ibunya untuk jalan-jalan. Ia pun langsung masuk ke rumah.


Kedatangannya tidak disadari oleh ayahnya yang sedang berada di depan TV, sementara ibu Lin duduk di kursi sebelahnya sambil terus menggoda Pak Dani.


"Selamat sore, Ayah!" sapa Wendi membuat ayahnya dan ibu Lin kaget.


"Ehh, kamu... bikin Ayah kaget aja," ujar pak Dani sedikit grogi karena tadi ia mulai termakan dengan godaan dan rayuan maut dari ibu Lin.


"Ibu ke mana?" tanya Wendi karena tidak melihat ibunya.


"Tadi ia pamit sama Ayah, katanya mau pergi arisan dengan teman-temannya." sahut pak Dani.


"Saya nggak tau kalau hari ini ibu Widy ada kegiatan, jadi saya ke sini mau ngajak dia untuk jalan-jalan ke mall biar tidak stres di rumah terus," sambung ibu Lin. Memang rencananya tadi seperti itu tapi setelah bertemu dan bercerita dengan pak Dani, ia malah merasa nyaman. Pak Dani yang suka humor dan belum tua-tua amat membuat dirinya terpukau. Maklum, dia termasuk salah seorang perempuan yang kesepian karena suaminya hanya datang dari Kalimantan sebulan sekali bahkan kadang jika ada pekerjaan yang mendesak dan tidak bisa ia tinggalkan maka kedatangannya akan ditunda hingga bulan berikutnya.


Wendi curiga dengan gelagat ibu Lin sehingga ia sengaja duduk di samping ayahnya. Bahkan ia sempat melirik ke arah Ibu Lin yang mengenakan pakaian yang pas badan dan lekukan-lekukan tubuhnya tampak dengan jelas. Buah yang kembar dengan ukuran yang tergolong besar sangat menantang dan memanjakan mata. Laki-laki mana pun jika diperhadapkan dengan pemandangan seperti ini akan keringat dingin.


"Kok, Ibu lama bangat pulangnya sih?" tanya Wendi untuk mengusir rasa gugupnya.


"Sabarlah, bentar juga dia akan pulang! Memangnya kamu ada perlu sama Ibumu?" Pak Dani balik bertanya.


"Nggak juga sih," sahut Wendi.


Dalam hati ia berharap ibu Lin segera pamit dan pergi dari rumah orang tuanya. Ia tidak suka melihat perempuan lain berada di rumah orang tuanya, apalagi berpenampilan yang sangat menggoda, sementara ibunya sedang tidak di rumah.

__ADS_1


Wendi tiba-tiba teringat dengan peristiwa beberapa waktu yang lalu ketika Sari, istrinya memergoki Caca yang sedang berada di rumahnya. "Pasti waktu itu Sari sangat marah. Mungkin apa yang saya rasakan sekarang ketika melihat ibu Lin berduaan dengan Ayah tidak seberapa sakitnya bila dibandingkan dengan sakit hati yang dialami oleh Sari. Pasti hal ini jugalah yang membuat tubuhnya tidak sesegar dulu bahkan sekarang tubuhnya terlihat kurus."guman Wendi dalam hati.


Tak lama kemudian Ibu Lin pamit. Sebenarnya ia sangat jengkel kepada Wendi karena menurutnya ia telah merusak momen yang berharga dalam hidupnya. Sorotan mata dan senyuman Pak Dani tadi seolah memberikan lampu hijau baginya.


Ibu Lin melangkah dengan gemulai memperlihatkan pinggulnya yang besar dan paha putih yang mulus membuat Wendi dan ayahnya saling berpandangan.


"Awas aja kalau Ayah sampai tergoda sama wanita itu!" kata Wendi sambil terkekeh.


"Nggak mungkinlah, bagi Ayah, ibumu lebih cantik dari dia. Atau jangan-jangan malah kamu yang tergoda," balas Pak Dani tak mau kalah oleh anaknya.


"Saya ini tipe laki-laki yang setia loh," bantah Wendi.


"Sama juga dengan Ayah," lirih Pak Dani.


"Kira-kira sebulan lagi kita akan panen," kata Wendi dengan senang.


"Ayah juga ke sawah tadi pagi dan saya bisa prediksi bahwa tahun ini hasilnya akan melimpah dibanding dengan tahun-tahun kemarin," ucap Pak Dani dengan bangga.


Keduanya terus berbincang layaknya dua sahabat hingga tak terasa sudah hampir magrib. Ibu Widy juga sudah tiba di rumah.


"Maaf Pa, saya perginya lama kerena kami masih ada acara makan-makan setelah kegiatan arisan selesai!" kata Ibu Widy. Ia meletakkan kantong kresek di meja yang berisi makanan.


"Nggak apa-apa sayang," sahut Pak Dani sedikit alay.

__ADS_1


"Pasti Ayah ada maunya sehingga jawabnya romantis bangat," goda Wendi.


"Ah, kamu itu ada-ada aja," ucap Ibu Widy dengan malu-malu. Pak Dani tersenyum melihat muka istrinya yang bersemu merah dan menggemaskan meski umur sudah kepala empat.


"Makan dulu Nak, baru pulang!" ajak Ibu Widy untuk mengurangi rasa gugup karena ia menyadari bahwa mata suaminya sedang mengawasi gerak-geriknya.


Aroma makanan sangat menggugah selera. Wendi dan ayahnya langsung menyerbu dan makan dengan nikmat.


Sementara itu, Sari sudah gelisah di rumah karena suaminya belum nongol juga. Akhirnya ia mengajak anak-anaknya untuk makan malam tanpa menunggu kedatangan Wendi karena mereka sudah lapar.


Wendi tiba di rumah pada saat mereka masih sementara makan. Sari mempersilahkan suaminya untuk makan malam..


"Terima kasih, saya udah makan!" kata Wendi dengan santai. Ia bergegas ke kamar mandi karena merasa gerah lalu mengganti pakaiannya dengan baju santai.


Sari duduk termenung di dapur karena merasa kecewa. Tadi ia sengaja masak makanan kesukaan suaminya tapi ternyata ia sudah makan. Entah makan malam di mana. Atau jangan-jangan ia makan malam bersama Caca.


Dengan rasa kecewa ia menyimpan ikan bandeng bakar yang masih tersisa dua ekor. Biasanya Wendi tak mengenal kata kenyang jika lauk seperti ini yang disajikan di meja, namun kali ini ia sama sekali tidak tertarik untuk menikmatinya karena ia masih sangat kenyang makan sate ayam di rumah ibunya.


Ketika Sari masuk ke kamar, ia semakin kecewa karena mendapati suaminya sudah tertidur pulas. Mungkin karena tadi ia capek pulang dari sawah ditambah lagi dengan perutnya yang kekenyangan.


Sari juga sangat kecewa karena dari tadi sore ia sudah mempersiapkan diri untuk bermalam minggu yang panjang bersama dengam suaminya. Baju tidur yang tembus pandang ia sudah persiapkan untuk dikenakan malam ini, terpaksa disimpannya kembali ke dalam lemari. Bau parfum yang wangi dan tidak menyengat penciuman masih melekat di tubuhnya.


Apa yang ia bayangkan tadi siang perlahan mulai sirna seiring dengan malam yang beranjak di tengah kesunyian. Dengan lesu ia merebahkan tubuh di samping Wendi yang sudah terlelap.

__ADS_1


Menjelang subuh, Wendi terjaga dan mencium aroma harum dari tubuh istrinya. Ia mencoba menggoda istrinya dengan menempelkan bibirnya pada bibir tipis itu namun dengan kasar Sari berbalik dan tidur memunggunginya. Ia semakin kesal karena tidurnya sangat nyenyak sudah terganggu.


__ADS_2