ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
28. Hubungan Bathin


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah pulang dari kantor, Wendy mengajak istri dan anak-anaknya untuk jalan-jalan dan sekaligus mengunjungi ayah dan ibunya.


Mobil baru melaju dengan kecepatan sedang dibawah kendali oleh Wendy. Anak-anak bahkan bersenandung sepanjang jalan karena merasa bahagia bisa menikmati perjalanan dengan mobil baru yang mewah.


"Kalau saya sudah besar nanti, biar saya yang menyetir mobil. Boleh kan, Pa?" tanya Wira dengan serius. Sejak dari tadi ia memperhatikan Sang Papa yang menyetir mobil.


Papa dan Mamanya saling pandang sambil tersenyum mendengar permohonan Wira.


"Anak kecil nggak boleh nyetir kendaraan, motor aja nggak boleh, apa lagi mobil!" kata Tiara dengan serius.


"Iya Dek, kami juga di sekolah sering diberi nasihat oleh bapak/ibu guru tentang hal tersebut," sambung Tasya pula.


"Tadi saya ngomong, ketika saya sudah besar. Ngerti nggak?" ucap Wira membela diri.


"Yahhh, sudahlah! Kalian semua boleh kok nyetir mobil jika umurnya sudah tujuh belas tahun," sahut Wendy membuat anak-anaknya paham. Mereka pun tertawa dengan senang.


Setelah puas berputar-putar mengelilingi kota, Wendy mengarahkan kendaraannya ke rumah orang tuanya. Tak lupa mereka singgah sebentar di sebuah toko penjual kue dan membeli kue kesukaan oma dan opa.


"Sudah kuduga kalian akan datang ke sini," kata Pak Dani menyambut anak dan cucunya. Ia tahu bahwa kemarin mobil anaknya sudah diantar ke rumah.


"Berarti Opa hebat, kok tahu bahwa kami akan ke sini?" ucap Tiara.


"Siapa dulu dong!" sahut Pak Dani dengan bangga.


Ibu Widy muncul dari dapur karena mendengar suara gaduh dari luar. Ia sangat senang melihat anak dan cucunya yang datang ke rumah.


Sari menenteng kue dalam kantong kresek dan menyerahkan kepada ibu mertuanya.

__ADS_1


"Gimana mobil barunya?" tanya Ibu Widy kepada anaknya.


"Bagus Bu," sahut Wenddy tersenyum.


Malam itu mereka cukup lama bercengkrama di rumah orang tuanya, bahkan Ibu Widy dan Sari sempat membuat gorengan untuk mereka nikmati.


"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu membuat semua pasang mata menoleh ke arah sumber suara.


Tasya bergegas membuka pintu dan tampaklah Tante Lin bersama seorang anak laki-laki yang mungkin baru berumur satu setengah tahun dan di belakangnya ada seorang laki-laki yang tak lain adalah suami Tante Lin.


Seketika tubuh Wendy gemetar dan berkeringat ketika melihat anak kecil yang sangat mirip dengan gambar dirinya dalam foto keluarga yang tergantung di dinding. Ingatannya langsung melayang pada kejadian beberapa waktu yang lalu dan peristiwa itu berlangsung dalam salah satu kamar di rumah yang sedang mereka tempati saat ini. Apakah mungkin hubungan terlarang yang ia lakukan bersama Tante Lin telah menghasilkan buah hati?


"Selamat malam!" ucap Tante Lin dengan ramah.


"Ehh, kapan tiba? Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang?" tanya Ibu Widy basa-basi.


"Saya udah punya anak loh!" ucap Tante Lin dengan bangga.


"Yang benar? Saya kira tadi anaknya siapa," kata Ibu Widy.


"Waktu saya kembali ke Kalimantan dulu, tidak cukup sebulan di sana tubuhku selalu lemah dan setelah memeriksakan diri ke dokter, ternyata saya positif hamil. Makanya saya nggak balik lagi ke sini untuk beberapa waktu." Tante Lin menjelaskan dan sesekali matanya melirik ke arah Wendy yang sudah berkeringat dingin.


Pak Dani langsung memahami keadaan setelah melihat anaknya yang duduk dengan sangat gelisah.


"Wajah adek kok mirip sama dengan foto kecil Papa?" celetuk Wira dengan polosnya. Matanya memandangi wajah Titan, anaknya Tante Lin dan foto papanya yang terpajang di dinding secara bergantian.


Wajah Wendy makin memerah karena gugup dengan pertanyaan Wira. Kini hati kecilnya semakin yakin karena setiap kali tatapan matanya bertemu dengan mata Titan, hatinya bergetar dan terenyuh.

__ADS_1


"Anak saya mirip dengan foto kecil papamu soalnya waktu saya ngidam, tante selalu ingat foto itu," kata Tante Lin sambil menunjuk foto yang terpajang di dinding.


"Iya, Tante Lin kan selalu datang ke sini karena dia teman baiknya Oma," sambung Pak Dani membuat Wendy merasa lega. Tanpa sadar ia menghela nafas dengan panjang. Ia mencuri pandang ke arah Pak Bakri yang terlihat dengan santai.


Mereka pun saling bertukar cerita dengan suasana kekeluargaan yang akrab. Tasya, Tiara, dan Wira saling berebut untuk menggendong Titan karena dia sangat menggemaskan.


"Hati-hati Nak, Titan belum terlalu lincah untuk jalan!" kata Tante Lin kepada Tiara.


Titan juga senang karena punya teman untuk bermain. Ia berjalan ke sana ke mari dan ia hampir saja terjembab tepat di depan tempat duduk Wendy. Dengan lincah Wendy menangkap tubuh mungil itu dan menggendongnya. Entah mengapa hatinya sangat puas karena bisa menggendong bocah kecil itu. Ia pun mengelus kepalanya dan mencium pipi yang mulus itu dengan sepenuh hati.


Cukup lama ia meggendong Titan. Rupanya anak itu juga merasakan hal yang sama bahkan ia duduk bermanja-manja di pangkuan Wendy. Nanti ia lepas ketika Tiara datang menghampiri dan mengajaknya untuk bermain.


Setelah Titan lepas dari pangkuannya, Wendy pamit untuk ke belakang. Tak lama kemudian, Tante Lin pun bangkit dari duduk dan mengikuti Wendy.


"Nggak usah gelisah dan jangan takut, saya akan menutup rapat-rapat rahasia ini. Justru saya menemuimu untuk mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan saya. Kamu sudah memberikan anak kepadaku dan suamiku tak akan pernah tahu akan hal ini. Sejak saya hamil sampai melahirkan, suamiku sangat menyayangiku dan rencana minggu depan ini setelah urusan suamiku selesai kami akan balik kembali ke Kalimantan." Tante Lin menjelaskan dengan suara setengah berbisik.


Wendy hanya terdiam mendengar penjelasan Tante Lin.


"Kedatangan kami ke sini hanya untuk sekedar refresing dan entah mengapa hati kecil saya sangat rindu untuk mempertemukan Titan dengan Papanya karena bagaimana pun juga dia adalah darah dagingmu dan di antara kalian pasti ada hubungan bathin. Saya janji tak akan mengganggumu lagi setelah pertemuan ini! Sekali lagi, terima kasih!" kata Tante Lin lagi karena melihat Wendy hanya diam saja.


"Terima kasih atas pengertiannya!" sahut Wendy sambil menjabat tangan Tante Lin. Ia berharap apa yang baru saja disampaikan oleh Tante Lin benar adanya. Ia sangat takut jika Sari tahu akan hal ini, apa lagi baru saja mereka akur kembali.


Tante Lin menyambut tangan Wendy dengan hangat. Ia menatap bola mata milik Wendy dan tersenyum penuh kedamaian.


"Selamat melanjutkan hidupmu, saya doakan kamu akan selalu bahagia bersama istri dan anak-anakmu. Sekali lagi, terima kasih!" kata Tante Lin dengan tulus.


"Sama-sama Tante," sahut Wendy dengan perasaan lega.

__ADS_1


__ADS_2