ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
34. Dikepung


__ADS_3

Sari merasa kesepian di sekolah karena sudah beberapa hari ini Rani, sahabatnya kembali tidak masuk sekolah dengan alasan, sedang kurang sehat.


Setelah lonceng tanda pulang berdentang, Sari berkemas dan melajukan motornya ke arah rumah Rani.


Tiba di rumah sahabatnya, ia ragu karena suasana sangat sepi dan mengira bahwa tidak ada penghuni di dalamnya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan Rani muncul dengan wajah kusut dan sangat pucat. Sari menghambur masuk dan memeluk sahabatnya karena ia sangat rindu.


Rani membalas pelukan Sari dan menangis dengan pilu membuat sahabatnya ini sangat heran dan bertanya-tanya dalam hati.


Setelah puas menangis, Rani melonggarkan dan melepaskan pelukannya lalu mengajak Sari duduk di sofa.


"Sebenarnya kamu sakit apa sih, kok kelihatannya sangat pucat?" tanya Sari dengan heran sambil terus memperhatikan keadaan sahabatnya yang sangat kusut. Dari sorot matanya menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


"Rumah tanggaku sudah hancur," tutur Rani sambil terisak.


"Maksud kamu?" tanya Sari karena tidak mengerti.


"Suamiku... Dimas," Rani tidak bisa melanjutkan lagi perkataannya karena hatinya sangat terluka membuat tangisannya semakin kuat.


"Ada apa dengan suamimu?" tanya Sari lagi karena ia semakin bingung dan penasaran.


Ia kembali memeluk Rani sambil mengelus-elus pundaknya dengan lembut.


Cukup lama juga Rani menangis dalam pelukan sahabatnya. Sari pun dengan sabar menunggu hingga tangisan Rani berhenti.


Keadaan ruangan sangat sepi karena Glen sedang tidur siang. Sepintas Sari melihat Caca lewat di halaman rumah dengan memakai daster pendek dan leher lebar sambil sekali-kali matanya melirik ke arah rumah Rani.


"Suamiku selingkuh," kata Rani membuat Sari hampir melompat karena kaget.


"Hahh! Yang benar?"


Rani mulai menceritakan dari awal kejadian hingga akhir tanpa mengurangi dan menambah dari kejadian yang menimpa rumah tangganya.

__ADS_1


"Maafkan saya yang tidak mendengar saranmu dulu untuk waspada terhadap janda genit itu!"


"Trus suamimu kemana?"


"Entahlah, karena satu malam setelah kejadian itu, saya usir dia untuk keluar dari rumah,"


"Dasar laki-laki yang tidak tahu diuntung!" umpat Sari dengan emosi.


"Bagaimana menurutmu, apa yang harus saya lakukan? soalnya saya sudah tidak tahan tinggal di sini karena setiap hari harus melihat perempuan yang sudah menghancurkan rumah tanggaku, sementara untuk tinggal bersama orang tuaku juga rasanya sulit. Saya jadi bingung harus bagaimana?" keluhnya dengan wajah memelas.


"Kalau menurut saya, sebaiknya untuk sementara kamu boleh tinggal di rumah orang tuamu sambil memikirkan bagaimana selanjutnya. Toh, orang tua mu juga sangat butuh kehadiranmu di sana karena saat ini masih belum pulih." saran dari Sari.


"Iya, benar juga. Hari ini juga saya dan Glen akan pindah ke rumah orang tuaku. Tolong bantu saya berkemas-kemas!" pinta Rani kepada Sari.


Sari menganguk tanda setuju. Rani lalu mengajaknya untuk makan siang dulu. Kebetulan masih ada makanan yang ia pesan semalam karena hanya sedikit yang ia makan.


Sari menghubungi suaminya dan mohon izin sekalian mohon bantuan agar membawa mobil untuk mengangkut barang-barang milik Rani ke rumah orang tuanya.


Penyesalan demi penyesalan datang menghantuinya. Betapa tidak, dulu ia hidup senang dan makan enak, kerja tidak terkena sinar matahari, tidur di kasur empuk. Tapi sekarang, makan seadanya tanpa lauk, tidur di emper toko tanpa alas, bahkan kadang diusir oleh pemilik toko.


***


Sudah satu bulan Rani menginap di rumah orang tuanya namun akhir-akhir ini ayah dan ibunya selalu mempertanyakan keberadaan Dimas. Mereka mulai curiga dengan sikap anaknya yang berubah. Hal ini membuat Rani terpaksa berbohong dan mengatakan kalau suaminya masih berada di kampung.


Melihat keadaan ibunya yang sudah sehat, Rani pamit untuk pulang ke rumahnya dengan alasan bahwa Dimas sudah mau balik dari kampung dan kedua orang tuanya pun menyetujui dengan hati yang lega.


"Iya, Nak. Silahkan, tapi jangan lupa sering-sering ke sini jenguk ayah dan ibu. Tolong sampaikan salam kami untuk Dimas dan ajak juga ke sini kalau ia sudah pulang deri kampung!"


"Iya Bu," jawab Tari dengan senyum yang dibuat- buat agar orang tuanya tidak curiga.


Rani sengaja berangkat ke rumahnya setelah matahari tenggelam karena ia tidak mau terlihat oleh para tetangga yang pastinya akan sibuk menanyakan ini dan itu sehubungan dengan kepergian suaminya.


Hari sudah malam ketika Rani dan Glen tiba di rumahnya.

__ADS_1


"Apa ayah mau pulang hari ini, Bu?" tanya Glen kepada ibunya membuat Rani tertegun. Ia bingung harus memberi jawab apa kepada anaknya.


"Glen sangat rindu, Bu. Kalau sampai besok ayah tidak pulang, saya mau ke kampung jemput ayah. Boleh kan, Bu?" tanya Glen lagi dengan polos.


Rani semakin sedih mendengar perkataan anaknya. Ia tahu bahwa Glen sangat merasa kehilangan ayahnya, bahkan akhir-akhir ini ia sering mendapati anaknya sedang merenung tanpa gairah.


"Hai pelakor, cepat keluar atau kami akan membakar rumahmu!" suara teriakan di luar terdengar membuat Rani kaget dan ketakutan. Ia mengintip dari balik kain gorden jendela.


Suara di luar pun semakin gaduh membuat tubuh Rani semakin gemetar. Ia menggenggam tangan anaknya dengan erat karena ia tahu bahwa Glen juga sedang ketakutan mendengar suara teriakan orang-orang yang ada di luar.


"Kita hitung sampai tiga, kalau dia tidak mau juga keluar maka rumahnya kita rusakkan!" ancam salah seorang warga.


Rupanya warga sudah mengepung rumah Caca karena ia ketahuan telah merebut suami Dewi, tetangga sebelah rumahnya dan saat ini keduanya sedang berada dalam rumah milik Caca yang sudah terkepung.


"Pelakor itu harus kita usir malam ini juga!"


"Iya, benar juga, soalnya ia sudah menodai kompleks kita!"


"Ayo kita dobrak pintunya!"


Suara teriakan semakin gaduh dan halaman rumah sudah dipenuhi oleh warga masyarakat bahkan ada yang baru berdatangan setelah mendengar teriakan warga.


Rani pun memberanikan diri membuka pintu rumah nya dan berdiri di teras untuk menyaksikan tetangganya yang akan diusir dari kompleks tersebut.


Tak lama kemudian, Caca muncul di pintu dengan pedenya.


"Hei, perempun gatal! Mana suamiku?" seru ibu Dewi dengan keras.


"Jangan asal nuduh yah, saya tidak pernah merebut suamimu!" sahut Caca dengan keras pula


"Mengaku saja bahwa Daren ada di dalam, tak usah disembunyikan karena kita semua sudah tahu. Dari tadi sudah ada yang mengikuti gerak- gerik kalian hingga pintu rumahmu tertutup setelah kamu selundupkan suami tetanggamu itu lewat pintu samping rumahmu," tutur pak Irsan, ketua RT.


"Kalau perempuan murahan ini tidak mau mengalah, mari kita ramai-ramai masuk ke dalam rumah untuk menangkap laki-laki penghianat itu dan kita giring ke jalan raya bersama pelakor ini!" timpal yang lain dengan emosi.

__ADS_1


__ADS_2