
Sudah satu minggu ini Rani menginap di rumah orang tuanya karena ibunya sakit dan sudah satu minggu pula ia tidak masuk sekolah. Hari ini ia sangat senang melihat perkembangan kesehatan ibunya yang sudah semakin membaik sehingga rencananya sebentar sore ia akan balik ke rumahnya.
"Tolong rawat ibu dengan baik dan kalau ada sesuatu yang dibutuhkan, langsung aja telepon saya!" ujar Rani kepada Sumi, asisten rumah tangga.
"Baik Non," sahut Sumi penuh hormat.
Rani mulai berkemas-kemas dan mengajak anaknya untuk segera berangkat karena sepertinya cuaca mulai mendung. Dengan motor matic ia segera meluncur ke rumahnnya.
Pukul 06.30 Rani tiba di rumah tapi ia sangat heran karena baru jam segini toko sudah tutup dan tidak ada satu pun balon lampu yang menyala. Hatinya mulai khawatir, jangan-jangan Dimas sedang sakit sehingga ia tidak buka toko yqng biasanya buka sampai pukul 11.00 malam.
Rani berjalan hendak ke rumah tetangga untuk mencari informasi karena pintu rumahnya juga terkunci dan sudah berulang-ulang ia menghubungi ponsel suaminya tapi nomor yang dituju sedang tidak aktif.
Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba telinganya menangkap suara aneh yang berasal dari arah kamarnya. Ia pun memberi kode kepada anaknya agar tetap diam di tempat ia berdiri, dekat motor dan ia sendiri mulai mengendap-endap mendekati jendela kamar.
Seketika tubuhnya gemetar dan berkeringat ketika ia menempelkan telinganya pada jendela kamar. Terdengar suara Dimas sedang bercinta dengan seorang perempuan tapi ia tidak bisa mengenali suara perempuan tersebut karena hanya mengeluarkan suara ******* kenikmatan.
Dunia seakan runtuh. Itulah yang dirasakan oleh Rani. Tubuhnya lunglai di tanah namun ia tetap berusa kuat karena melihat anaknya yang patuh dan sabar dan menunggu di dekat parkiran.
Rani mulai berpikir bagaimana cara untuk menggerebek mereka tapi ia tidak bisa masuk karena baik pintu depan maupun pintu belakang, semuanya terkunci dengan rapat.
"Sayang, kita akan selalu punya waktu yang banyak untuk berkencan soalnya istriku pasti lama baru balik lagi ke rumah," kata Dimas samar-samar tapi suaranya masih dapat terekam dengan jelas pada ponsel Rani yang sudah terpasang dengan sempurna untuk merekam percakapan suaminya dengan seorang perempuan yang sedang berada dalam kamarnya dan semua ini akan dijadikan barang bukti.
"Semoga istrimu tidak akan pernah curiga dengan kedekatan kita soalnya sudah beberapa bulan ini kita berhubungan dan dia tampaknya biasa-biasa saja. Kamu juga harus pintar-pintar lihat situasi biar kita tetap bisa bersama." Suara perempuan tersebut membuat Rani menggigit bibirnya. Suara itu tidak asing baginya.
"Iya sayang, saya juga tidak bisa jika harus mengakhiri hubungan kita soalnya pelayananmu sungguh membuatku mabuk kepayang,"
"Aahh, kamu bisa aja,"
__ADS_1
"Iya, gunung kembar ini tidak semontok dan tidak sebesar dengan punya istriku,"
"Yang benar?"
"Makanya saya selalu tidak sabaran dan selalu menginginkan sentuhan mautmu. Coba kamu pikir, istriku sengat jarang melayaniku karena selalu sibuk mengurus orang tuanya yang selalu sakit-sakitan sementara saya ini laki-laki normal yang setiap waktu tertentu butuh tempat untuk berlabuh,"
"Nggak usah khawatir sayang! Caca, tetanggamu ini akan selalu siap melayanimu kapan pun ada waktu,"
"Benar juga yah, tetanggaku adalah idolahku," terdengar lagi suara tawa bahagia dari dalam kamar tersebut.
Tak terasa air mata Rani sudah mengalir deras setelah tahu siapa perempuan yang sedang bercinta dengan suaminya. Selama ini ia terlalu percaya kepada Caca untuk mengantar makanan ke rumahnya jika ia tidak sempat lagi menyiapkan makanan untuk suaminya. Mungkin karena seringnya datang ke rumah untuk membawa makanan membuat Dimas tergoda dengan rayuannya, apalagi Caca selalu berpenampilan seksi.
Saran dari Sari beberapa waktu silam kini terngiang-ngiang di telinganya. Waktu itu Sari menyarankan agar tetap waspada dengan hadirnya Caca sebagai tetangga baru. Namun Rani benar-benar lalai dan terlena dengan wajah polos suaminya dan juga tutur kata manis dari Caca, tetangganya.
"Ayo sayang, satu ronde lagi!" suara Caca yang manja kembali terdengar membuat amarah Rani semakin memuncak.
Rani beranjak dari tempatnya dan menghampiri Glen, anaknya yang tetap setia menunggu lalu mengetok-ngetok pintu dengan kasar.
Mendengar ketokan pintu, kedua insan yang sedang mabuk asmara itu jadi gelagapan. Dengan cepat kedunya memungut pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya. Wajah Dimas tampak kesal, permainanya belum finis karena ada gangguan.Ia memberi kode kepada Caca agar keluar lewat jendela kamar. Sementara dirinya tergesa merapikan seprei yang berserakan akibat pergulatan yang begitu hebat.
Setelah Dimas merasa keadaan sudah aman karena Caca juga sudah keluar melalui jendela kamar, ia pun keluar untuk membuka pintu yang bunyi ketukannya semakin keras dan kasar.
"Ehh, rupanya istri dan anak tersayangku sudah pulang. Apa keadaan ibu sudah membaik?" tanya Dimas semesrah mungkin. Ia meraih tas yang ada di genggaman tangan Rani lalu menggandeng tangan Glen. Hatinya mulai tak karuan melihat wajah istrinya yang garang dengan mata memerah.
"Kenapa kamu tidak buka toko?" tanya Rani dengan nada keras dan tidak bersahabat.
"Tadi sore kepalaku sakit sayang, jadi terpaksa toko saya tutup," jawab Dimas dengan gugup.
__ADS_1
"Ohh, sakit? Tapi kok kelihatannya kamu segar bugar?"
"Iya, setelah istirahat sejenak, saya merasa sudah lebih segar,"
"Oh, ya, saya kira segar karena usai berolaraga di kamar,"
Perkataan Rani membuat tubuh Dimas gemetar dan berkeringat namun ia berusaha tampak biasa saja dengan harapan istrinya tidak akan menaruh curiga.
Rani berjalan ke arah kamar tanpa menghiraukan suaminya, bahkan ia sempat menyenggol bahu Dimas dengan kasar. Ketika ia tiba di kamar, matanya memeriksa setiap sudut namun perempuan selingkuhan suaminya sudah menghilang. Rani sudah menduga sebelumnya bahwa pasti Caca sudah keluar lewat jendela kamar.
Dimas membuntuti istrinya ke kamar dan berusaha menggoda untuk mengalihkan pikiran dan prasangkahnya.
"Sayang, Mas sangat merindukaanmu," Dimas ingin memeluk pinggangnya namun ditepis dengan kasar oleh Rani.
"Mulai sekarang, jangan sentuh saya karena saya jijik dan tak sudi lagi punya suami yang sok lugu!" kata Rani dengan emosi.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Dimas dengan cemas.
"Nggak usah lagi berpura-pura dan berkelit, buang-buang waktu aja, sekarang pergi dari rumah ini!"
"Memangnya saya salah apa? Kalau saya pergi, siapa yang akan jaga toko sayang?"
"Bertanya lagi, rumah dan toko akan saya jual karena saya tidak mau tinggal lagi di rumah yang sudah ternoda,"
"Jangan asal nuduh sayang kalau nggak ada bukti. Mas ini sangat mencintaimu dan selalu setia,"
"Pueehh, cinta, setia ... maaf, saya sudah tidak butuh penjelasan darimu. Sekali lagi saya perintahkan kamu untuk keluar dari rumah ini dengan tangan hampa karena semua yang ada dalam rumah ini adakah milik saya kecuali kamu. Dasar suami yang tahu diuntung!"
__ADS_1