ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
7. Silahturahmi ke Rumah Mertua


__ADS_3

Pulang dari kantor, Wendi sekeluarga bersiap untuk berangkat ke rumah orang tuanya. Mereka semua naik motor. Wendi berboncengan dengan Tiara dan Wira sedangkan Sari berboncengan dengan Tasya.


Hanya butuh waktu empat puluh menit mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Pak Dani sangat bahagia melihat anak dan cucunya. Ia memeluk cucunya satu per satu dan menciuminya penuh kerinduan.


Wendi tersenyum melihat perubahan pada ayahnya. Sangat berbeda dengan keadaannya kemarin. Kini wajahnya sudah ceria dan tidak pucat lagi.


"Mana Oma?" tanya Tasya sambil mencari-cari keberadaan omanya.


"Oma sedang keluar sebentar," jawab Pak Dani dangan santai.


Sari terus ke dapur untuk mengambil air minum dan menyuguhkan kepada suami dan anak-anaknya. Setelah mereka duduk berapa saat, Sari mengajak Tasya dan Tiara ke dapur untuk membersihkan karena dapurnya sangat berantakan.


Tasya menyapu dan mengepel lantai dan Tiara membantu ibunya mencuci dan merapikan perabotan dapur. Hampir dua jam mereka berkutat dengan pekerjaan tersebut baru selesai. Kini dapurnya sudah bersih dan perabotannya sudah terausun dengan rapi.


Sari, Tasya, dan Tiara cukup lelah. Mereka lalu beristirahat sejenak di teras rumah sambil bercengkrama dengan Opa. Sesekali terdengar gelak tawa di antara mereka.


Tak lama kemudian Ibu Widy tiba di rumah berboncengan dengan Ibu Lin, sahabatnya. Ibu Lin baru pindah dari Kalimantan dan mengontrak rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Ibu widy. Ia mempunyai kendaraan bermotor sehingga keduanya jadi bebas mau ke mana setiap hari.


"Mampir dulu Jeng!" ajak Ibu Widy.


"Nanti lain kali soalnya saya masih ada urusan," sahut Ibu Lin. Ia tersenyum ke arah Pak Dani yang duduk di teras lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


"Oma dari mana sih?" tanya Wira menghampiri Ibu Widi dan membantu menenteng sebagian kantong kresek yang entah berisi apa.

__ADS_1


"Eh, cucu Oma yang ganteng. Tadi saya diajak oleh ibu Lin ke pasar," jawab Ibu Widy dengan senyum. Ia meletakkan barang belanjaannya dan ikut duduk di teras lalu mengambil salah satu kantong kresek yang berisi aneka camilan lalu meletakkan di meja.


Tiara dan Wira saling berebutan hingga camilan itu berserakan ke lantai.


"Ini punyaku," kata Wira sambil menarik minuman botol yang ada di tangan Tiara.


"Nggak, ini Oma beli khusus buat saya. Iya kan Oma?" seru Tiara tak mau kalah.


"Aduh... cucuku, nggak usah berebutan dong! Nanti Oma kasih uang buat beli lagi," bujuk Ibu Widy.


Perlahan Tiara melepaskan minuman tersebut walau dengan wajah kesal namun melihat tatapan mamanya maka ia mau mengalah. Tiara lalu memungut camilan yang berserakan di lantai lalu makan dengan lahap.


"Tumben kalian ke sini?" tanya Ibu Widy.


"Iya Bu, kata Wendi Ayah lagi sakit. Jadi kami semua datang menjenguknya," sahut Sari mewakili.


Tiba di dapur, Ibu Widy tersenyum melihat dapur yang mengkilat dan perabotan yang tersusun dengan rapi. Dalam hati ia mengakui bahwa anak mantunya sangat rajin dan pembersih. Sudah beberapa hari ini Ibu Widy tidak pernah memperhatikan dan membersihkan dapur karena ia selalu makan di luar bersama ibu Lin.


"Kita mau masak apa, Bu?" tanya Sari yang bingung melihat isi kulkas yang penuh dengan berbagai makanan.


"Pilih saja apa yang kalian suka!" jawab Ibu Widy dengan santai bahkan ia tak menoleh ke arah Sari karena sedang sibuk membongkar barang belanjaannya.


"Apa ini cocok buat Ibu?" tanyanya sambil memasang jepitan yang berukuran besar di rambutnya.


"Kayaknya nggak cocok, Bu soalnya kebesaran," jawab Sari dengan jujur. Jepitan rambut itu memang cocoknya untuk anak remaja. Sari tersenyum dalam hati melihat tingkah laku mertuanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, buat kamu aja deh!" katanya sambil menyerahkan jepitan rambut tersebut kepada Sari.


"Saya juga bakalan nggak cocok, Bu. Jepitan ini cocok buat Tasya atau Tiara." ucap Sari.


Tasya dan Tiara yang sedang menonton di ruang tengah bergegas menghampiri Ibunya di dapur karena mendengar namanya disebut. Melihat jepitan rambut di tangan ibunya, Tasya mengambilnya dan memasang di rambutnya. Ia kelihatan tambah cantik dengan adanya jepitan rambut itu di kepalanya.


"Mana punya Tiara, Oma?" tanya Tiara menghampiri Omanya dengan manja. Ia tidak mau kalah oleh kakaknya.


"Coba kamu periksa kantong yang berwarna biru?"


Dengan lincah, Tiara segera meraih kantong berwarna biru yang dimaksud oleh Omanya dan benar saja, ia menemukan jepitan rambut yang lebih cantik dibanding punya Tasya. Dengan senyum penuh kemenangan ia memasang jepitan itu di rambutnya.


"Terima kasih, Oma. Saya sangat suka!" kata Tiara sambil memeluk Omanya.


Ibu Widy hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan cucunya karena sebenarnya jepitan rambut itu dibeli tadi untuk dirinya tapi karena menurut Sari, itu tidak cocok buat dirinya maka ia harus merelahkan untuk cucunya. Lagian juga barang itu dibeli tidak menggunakan uangnya. Tadi ia ditraktir oleh ibu Lin mulai dari belanja yang ringan-ringan hingga tas bermerek. Menurut ibu Lin , ia baru saja mendapat jatah uang belanja dari suaminya yang katanya kaya raya.


Ibu Lin adalah istri kedua dari Pak Bakri, pemilik perusahaan batu bara terbesar di Kalimantan. Ia pindah ke kota ini karena anak dari istri pertama Pak Bakri selalu menerornya hingga ia tidak nyaman tinggal di Kalimantan. Sekali sebulan Pak Bakri akan datang mengunjunginya.


Ibu Lin tidak mempunyai anak sehingga ia tampak lebih muda dari umur sebenarnya. Sekarang usianya sudah empat puluh tahun tapi tubuhnya sangat indah dengan kulit sawo matang yang mulus menambah daya tarik setiap mata yang memandangnya.


Ibu Widy sangat senang karena bisa berkenalan dan menjadi teman akrab Ibu Lin. Pertemuan mereka yang tidak sengaja di pusat perbelanjaan yang ada di kota tersebut membuat keduanya akrab karena setelah berebutan sepatu di salah satu toko , keduanya lalu berkenalan dan ternyata rumah mereka berdekatan. Akhirnya mereka pulang bersama. Sejak saat itulah Ibu.Widy dan Ibu Lin bersahabat dan selalu keluar untuk bersenang-senang.


Ibu Widy sudah lupa dengan tanggung jawab untuk mengurus rumah dan suaminya. Ia sudah terpengaruh oleh ajakan Ibu Lin untuk memanjakan mata dan perut. Setiap kali mereka keluar, ada saja hadiah yang dibelikan oleh Ibu Lin untuknya dan selalu mengisi perut di rumah makan ternama di kota itu.


"Tasya..., Tiara... ke sini dong bantu Mama!" seru Sari memanggil kedua putrinya karena ia merasa kerepotan kerja di dapur sendirian.

__ADS_1


Tasya dan Tiara adalah anak yang penurut. Keduanya pun segera membantu mamanya untuk menyiapkan makan malam. Mereka akan makan malam di rumah Opa dan Oma.


__ADS_2