
Sudah tiga hari Sari terbaring di rumah sakit dan hari ini dokter sudah memperbolehkan pulang ke rumah karena kondisi tubuhnya sudah mulai membaik.
Selama berada di rumah sakit, Wendi sangat setia menjaga dan menyediakan apa yang dibutuhkan oleh istrinya.
"Terima kasih, Mas!" ucap Sari ketika mereka sudah tiba di rumah. Ia terharu melihat suaminya yang tak pernah sedetik pun membiarkan ia sèndirian selama berada di rumah sakit.
Mungkin karena cinta dalam hatinya yang terlalu besar kepada Wendi sehingga ia selalu dibayangi-bayangi oleh perasaan cemburu.
"Sama-sama, Dek. Mas tahu bahwa kamu itu sakit karena pikiranmu. Jadi tolong berpikir positiflah mulai sekarang dan harus kau sadari bahwa cinta di hati ini hanya buat kamu!" sahut Wendi sambil merapikan rambut istrinya yang berantakan lalu mengecup bibir yang masih terlihat pucat itu.
Sari merasa senang mendengar perkataan suaminya dan ia pun lalu menikmati ciuman dari suaminya yang makin memanas. Untuk sementara semua persoalan serasa telah lenyap dan tergantikan oleh gairah cinta yang menggebu-gebu.
Sari membiarkan serangan-serangan dari suaminya, bahkan tubuhnya sendiri yang seolah meminta dan berharap untuk menerima elusan yang menimbulkan erangan-erangan yang menggairahkan.
Setelah Wendi puas ******* bibir yang tipis itu, ia mulai berpindah ke bawah dan tangan serta mulutnya kembali beraktifitas dengan rakus sedangkan Sari hanya mampu meremas rambut suaminya dengan nafas memburu.
"Tok, tok, tok! suara ketukan di pintu seketika menghentikan aktifitas kedua insan ini. Mereka saling berpandangan.
"Iya, siapa?" tanya Wendi.
"Wira, Pa!" seru Wira. Ia baru saja pulang dari sekolah. Melihat di ruang tengah ada perlengkapan yang pernah di bawah ke rumah sakit sehingga ia yakin bahwa mamanya sudah kembali ke rumah.
"Tunggu sebentar, Nak! Mama lagi ganti baju," ujar Wendi sambil buru-buru merapikan pakaiannya. Ia juga membantu istrinya untuk memakaikan kembali pakiannya yang sudah hampir terlepas semua dari tubuhnya. Setelah semuanya aman, baru membukakan pintu bagi Wira.
Wira menghambur kedalam pelukan mamanya karena selama di rumah sakit ia tidak diperkenankan untuk membesuk. Matanya sampai berkaca-kaca karena terharu melihat mamanya sudah bisa tersenyum kembali.
Setelah puas dalam pelukan mamanya ia minta diri untuk ganti pakaian sekalian pamit mau ke rumah teman untuk mengerjakan tugas dari sekolah yaitu membuat sebuah karya dari barang bekas.
__ADS_1
"Kamu nggak makan dulu?" tanya Wendi setengah teriak karena Wira langsung berlari keluar dari kamar.
"Masih kenyang, Pa soalnya tadi kakak Tasya bikin bekal untuk dibawa ke sekolah," sahutnya dengan keras pula.
Wendi keluar dari kamar untuk memastikan apakah Wira sudah pergi atau belum. Setelah situasi aman, ia pun buru-buru kembali ke kamar dan menghampiri istrinya sambil tersenyum penuh arti.
"Apa kamu udah lelah, Sayang?"
Sari menggeleng karena sesuatu yang belum mencapai finis akan dilanjutkan kembali.
Aktifitas yang sempat terjeda akhirnya diulang kembali dari awal untuk melakukan pemanasan. Wendi menggeser tubuh istrinya agar tepat berada di depan cermin yang besar sehingga ia bisa melihat bayangan di cermin itu dengan jelas dan tentunya akan lebih membuat permainan keduanya mengasyikkan.
Satu per satu pakaian mulai dibuang ke lantai hingga tak tersisa sehelai pun.
Wendi kembali menjilat tubuh mulus milik istrinya. Baunya yang harum membuat ia semakin tak tahan. Tadi ia sudah sempat memandikan Sari ketika baru pulang dari rumah sakit sehingga ridak ada lagi bau-bau rumah sakit yang melekat di tubuh tersebut.
"Ouhhh... akkkhhh... ," desah Sari dengan halus. Permainan lidah suaminya di beberapa titik tubuhnya membuat ia menggelinjang tak karuan. Wendi malah semakin tertantang dan gerakannya makin lama makin ke bawah hingga kandas di sebuah tempat yang nyaman dan menjanjikan sesuatu kenikmatan yang luar biasa.
Ia meraih tangan Sari dan memberikan pegangan yang hampir-hampir tidak muat dalam genggamannya.
"Ahhh... Auhhh... ," kini Wendi yang mengeluarkan suara aneh dari mulutnya sambil sesekali memejamkan mata untuk menikmati elusan tangan istrinya.
Sebenarnya Wendi masih menginginkan berbagai posisi untuk saling menyenangkan tapi mengingat kondisi tubuh istrinya yang baru saja pulih maka ia pelan-pelan membaringkan Sari di kasur yang empuk lalu menuntaskan permainan panas itu dan diakhiri dengan senyum bahagia.
Wendi membantu istrinya unruk membersihkan diri di kamar mandi lalu keduanya istirahat siang.
Tak lama kemudian, terdengar suara dengkuran Wendi. Ia sudah tertidur pulas. Selama tiga hari berada di rumah sakit membuat ia kurang tidur.
__ADS_1
Sari memandangi wajah tanpan suaminya yang selalu memberi nafkah batin kepadanya dengan sempurna. Tanpa sadar ia mengelus wajah Wendi dengan lembut sambil berguman dalam hati "Saya tidak rela jika ada perempuan lain di hatimu."
Perlahan ia juga merebahkan tubuhnya di samping suaminya dan tak lama kemudian ia juga mendengkur.
***
Rani tidak tahu jika sahabatnya jatuh sakit dan sempat dirawat di rumah sakit. Selama tiga hari ini jadwal mengajar Sari di SMK Swasta sehingga Rani menyangkah bahwa sahabatnya baik-baik saja.
Hari ini ia sengaja lagi pergi ke tetangganya untuk mengorek lebih jauh hubungan antara Caca dengan wendi. Sudah beberapa hari ini ia berencana terus untuk main ke rumah Caca tapi tetangganya itu sangat sibuk dan banyak keluar.
"Butuh bantuan?" tanya Rani membuat Caca kaget. Ia sedang serius mengaduk nasi goreng pesanan orang.
"Boleh, silahkan masuk!" ajaknya dengan ramah.
Sementa Rani mulai membentuk kertas menjadi kotak nasi ia mulai berpikir bagaimana kira-kira kalimat yang akan dilontarkan kepada Caca perihal 'Wendi' agar tetanganya ini tidak tersinggung.
Tiba-tiba ia mengulum senyum karena sudah dapat ide yang cemerlang.
"Ngomong-ngomong, apa kamu punya akun pacebook?" tanya Rani sambil tangannya terus bekerja.
"Ya punya dong, cuman akhir-akhir ini saya jarang membukanya, Maklum orang super sibuk," sahut Caca dengan santai.
"Kita belum berteman loh! Tolong sebentar kalau udah nggak sibuk, kirim permintaan pertemanan dong! Nama akunku 'Rani'."
"Tuh, ponsel saya ada di meja! Tolong kamu yang buka deh, soalnya nanti saya lupa lagi. Lagian tanganku lagi belepotan begini. Ponselnya nggak pake pola kok, buka aja!"
Rani pun langsung meraih ponsel tersebut yang ada di meja dan membuka aplikasi facebook. Dengan lincah ia mencari namanya dan menyentuh permintaan pertemanan lalu mengirim. Setelah itu ia kembali meletakkan ponsel milik Caca di tempat semula.
__ADS_1
"Sebentar saya buka kalau pulang dari sini. Sebenarnya saya juga jarang buka aplikasi facebook tapi siapa tahu ke depan ada yang kita butuhkan lewat aplikasi tersebut. Iya 'kan?" tutur Rani .
Caca mengangguk membenarkan pendapat Rani.