ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN

ISTRI TERTUDUH TIDAK BECUS MENGURUS KEUANGAN
22. Lega


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Wendi tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah orang tuanya karena takut ketemu dengan Tante Lin.


Hari ini Wendi mendapat telepon dari ayahnya karena para pembeli sudah tiba di lokasi untuk membeli hasil panen di sawah.


Wendi segera berangkat karena hari ini tidak masuk kantor. Setiap hari sabtu kantor libur sehingga selama diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk mengelolah pekerjaan di sawah ia selalu gunakan untuk mengawasi para pekerja dan mengurus segala keperluan yang dibutuhkan.


Usaha yang dilakukan selama ini sudah menampakkan hasil yang sangat memuaskan membuat Pak Dani tersenyum penuh kebahagiaan. Ia sangat bangga kepada anaknya yang sudah mau berusaha meskipun ada banyak rintangan untuk bisa sampai pada tahap ini.


"Ini hasil penjualan gabahnya, Ayah!" kata Wendi sambil menyerahkan beberapa ikat uang pecahan seratus ribuan kepada ayahnya.


"Buat kamu aja, Nak! Silahkan dikelola sendiri uang itu dan jangan lupa sisihkan sebagian untuk membiayai pekerjaan di sawah selanjutnya, seperti biaya pupuk dan biaya untuk membayar upah para pekerja!" ucap Pak Dani.


"Tapi uang ini banyak sekali," kata Wendi yang belum pernah memiliki uang sebanyak itu.


"Berikanlah kepada istrimu sebagian dan sisanya di tabung untuk persiapan masa depan!" saran Pak Dani.


Wendi termenung mendengar saran dari ayahnya karena sampai saat ini Sari belum mau menerima uang pemberiannya. Gaji yang diterima setiap bulan hanya cukup untuk dua sampai tiga minggu untuk membeli segala kebutuhan dalam keluarga dan selanjutnya Sari akan selalu menutupi segala kekurangan dengan menggunakan uang pribadinya.


"Kok, kamu kelihatan bingung?" tanya Pak Dani sambil menatap lekat anaknya.


"Nggak kok, Yah," sahut Wendi.


"Ya, udah, kalau gitu Ayah mau pulang dulu soalnya ibumu pasti sudah gelisah menunggu di rumah. Tadi Ayah sudah berjanji mau ngantar dia ke salon," kata Pak Dani.


"Ke salon?" tanya Wendi seolah nggak percaya.


"Iya, memangnya ada yang salah? Orang tua juga perlu dong untuk perawatan biar tetap cantik!" sahut Pak Dani sambil terkekeh.


"Ada-ada aja,"

__ADS_1


"Iya, semenjak kepulangan Ibu Lin ke Kalimantan, ibu kamu sudah tidak punya teman jadi Ayahlah yang harus selalu mengantar dia ke sana ke mari jika ada lagi kebutuhannya."


"Ohh, Tante Lin sudah balik ke Kalimantan?"


"Iya, minggu lalu suaminya datang menjemput dia."


Kini perasaan Wendi jadi lega setelah tahu bahwa Tante Lin sudah pergi jauh. Itu artinya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Dalam hati Wendi berdoa, semoga Tante Lin tidak akan pernah kembali lagi ke sini sampai selama-lamanya.


Motor Pak Dani sudah hilang di tikungan. Wendi pun menyimpan uang ke dalam tas karena sedari tadi uang itu berada dalam genggamannya.


Wendi juga bergegas untuk pulang ke rumah. Ia sudah merencakan bahwa malam nanti akan mengajak anak dan istrinya untuk makan malam di luar sekalian bermalam minggu.


Ketiga anaknya melonjak kegirangan ketika diberi tahu oleh ayahnya untuk pergi makan malam di luar.


Mendengar hal itu, Sari menghentikan kegiatannya di dapur dan menyimpan kembali ikan yang sudah ia bersihkan ke dalam kulkas.


Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Dengan mengendarai motor, mereka menuju ke salah satu restoran mewah di kota itu.


Rumah makan yang mereka tuju cukup mewah. Anak-anak langsung memeriksa daftar menu yang ada di meja dan mulai memilih makananan kesukaan untuk dipesan.


Sari hanya mengikut dengan pesanan suaminya. Wendi memesan nasi putih dengan lauk udang.


Sudah hampir setengah jam mereka menunggu makanan yang dipesan, tiba-tiba mata Sari menangkap sepasang manusia yang baru masuk ke restoran tempat mereka. Sosok perempuan yang cukup dikenal, yang tak lain adalah Caca. Ia datang bersama dengan seorang laki-laki sebayanya.


Wendi tidak melihat kedatangan mereka karena ia duduk membelakangi pintu masuk.


"Pa, Ma, itukan Tante Caca!" kata Tiara sambil menunjuk ke arah Caca.


Wendi berbalik dan melihat Caca bergandengan tangan dengan seorang laki-laki. Bagi Wendi, pria yang ditemani oleh Caca tidak asing lagi baginya. Ia teman semasa SMA.

__ADS_1


"Halo Wen, apa kabar?" sapa Fredi dengan ramah. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Kabar baik," sahut Wendi sedikit gugup kareana melihat Caca yang memamerkan kemesraannya bersama Fredi, seolah ingin menunjukkan kepada dirinya bahwa dia bisa jalan dengan pria lain.


Untuk mengurangi rasa gugup, Wendi memperkenalkan istri dan anak-anaknya kepada Fredi.


"Waahhhh, kamu sungguh beruntung sobat, punya istri yang cantik dan anak-anak yang menggemaskan!" puji Fredi sambil menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan keluarga Wendi.


Caca melirik ke arah Sari dengan tatapan yang kurang bersahabat. Ia kesal mendengar pujian yang dillontarkan oleh Fredi. Apalagi setelah melihat reaksi Wendi ketika mendapat pujian dari kawan lamanya.


"Terima kasih kawan, kalau soal kecantikan itu nomor dua, yang paling utama adalah kesetiaan," ucap Wendi sengaja menyinggung tentang kesetiaan agar Caca tersinggung.


"Benar juga, semoga kalian bahagia selamanya dan jadi pasangan yang setia!" kata Fredi sambil menepuk-nepuk pundak Wendi.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan keluarga Wendi sedangkan Fredi dan Caca baru mau memesan makanan.


Wendi menduga-duga bahwa antara Caca dan Fredi ada hubungan yang sangat dekat. Terbukti dari cara mereka yang sangat mesra meski berada di tempat umum. "Semoga saja tidak ada pihak yang dirugikan!" gumannya dalam hati.


Ia curiga, Fredi dan Caca sedang selingkuh dan pihak yang dimaksudkan akan dirugikan adalah istri Fredi.


Setelah tamat dulu di SMA, Wendi tidak pernah lagi bertemu dengan Fredi bahkan ia tidak pernah tahu bahwa temannya ini belum menikah.


Perasaan Sari jadi kurang enak sehingga makanan di hadapannya belum juga disentuh. Ia menyibukkan diri untuk mengurus Wira padahal anaknya ini sudah bisa makan sendiri.


Wendi segera mencairkan suasana. Ia mengambil makanan itu dan menyuap istrinya dengan harapan Caca akan melihat kemesraan ini dan dia akan berhenti untuk mengejar-ngejarnya.


Benar juga, hati Caca jadi panas menyaksikan hal itu. Buru-buru ia membuang muka namun ekor matanya masih bisa menangkap perlakuan Wendi yang sangat sayang kepada istrinya.


Fredi mengerti melihat Caca yang sedang gelisah. Ia pun tersenyum karena mengingat kisah mereka di masa SMA.

__ADS_1


"Cemburu ya!" goda Fredi sambil mencubit pipi Caca dengan gemas.


"Siapa yang cemburu? Biasa aja," sahutnya dengan kesal.


__ADS_2