
Sari merasa tidak enak hati melihat ketiga anaknya dengan barang belanjaan yang cukup banyak.
"Mama kok cemberut? Nih semua, suaminya Tante Lin yang mau bayar. Tadi dia ngomong sama kita. Iya ngggak?" kata Tiara dengan polosnya.
"Iya, Ma. Malah tadi Om bilang, kalian boleh milih sesukamu," sahut Wira dengan semangat. Ia sangat senang karena impianx selama ini, ingin memiliki mainan ekzavator remot sudah tercapai.
"Nggak apa-apa kok, Om Bakri itu memang seperti itu. Apalagi kami ini sudah menganggap keluarga Pak Dani dan Ibu Widy sebagai saudara. Jadi secara otomatis, anak dan cucu-cucunya juga sudah termasuk di dalamnya.
"Terima kasih Jeng!" ucap Ibu Widy dengan senang .
Mereka lalu menuju ke meja kasir. Cukup lama mereka berada di sana karena ada banyak barang belanjaan yang harus di hitung. Setelah semua barang selesai dikemas, Tante Lin menyodorkan kartu ATM-nya.
Mereka keluar dari Mall dan di luar Pak Dani bersama Pak Bakri sudah menunggu.
Titan sudah tertidur pulas dalam gendongan Wendy. Mungkin ia merasa sangat nyaman sampai tertidur pulas. Hati Wendy bergetar ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Ayahnya yang penuh arti. Ia sangat gugup dan hatinya dag, dig, dug tak karuan.
"Makasih Nak Wen, Tante sudah merepotkan kamu," ucap Tante Lin dan segera mengambil Titan dari gendongan Wendy.
"Sama-sama Tante," sahut Wendy sekali gus mengusir rasa gugup yang sedang memyelimuti wajahnya. Masih untung karena baik Pak Bakri maupun Sari tak menaruh curiga sedikit pun.
Kedua mobil mewah yang beriringan itu belum memutar haluan ke rumah melainkan terus ke arah yang berlawanan menuju sebuah rumah makan ternama yang ada di kota tersebut.
Wendy hanya mengikuti mobil milik Pak Bakri yang ada di depannya. Pak Bakri masih ingin menikmati makanan yang ada di kota ini karena rencana besok siang akan kembali lagi ke Kalimantan. Istrinya sangat mendukung keinginan suaminya karena ia ingin memberi kesempatan kepada Titan untuk berlama-lama dekat dengan papa kandungnya. Tante Lin tahu bahwa Wendy juga mengharapkan hal tersebut.
"Ayo Wira, pilih menu yang kamu suka, mainnya sebentar jika sudah tiba di rumah!" kata Ibu Widy kepada cucunya ketika sudah berada di restoran karena ia melihat Wira sudah tidak sabaran untuk membongkar mainannya.
__ADS_1
"Baik Oma," ucap Wira lalu meletakkan kantong yang berisi mainannya di bawa kolong meja.
Cukup lama juga mereka menunggu makanan yang dipesan baru pelayan muncul membuat anak-anak bersorak kegirangan.
Setelah selesai menikmati makanan di restoran itu, mereka langsung pulang ke rumah untuk istirahat karena kegiatan mereka cukup menguras tenaga.
Pak Bakri dan Tante Lin akan langsung ke penginapan setelah pamit kepada keluarga Pak Dani sekaligus pamit untuk kembali ke Kalimantan besok pagi.
"Hati-hati di jalan, sampai jumpa di lain waktu!" ujar Ibu Widy.
"Iya Jeng," sahut Tante Lin.
"Oh, ya, hampir lupa, terima kasih untuk semuanya!" kata Ibu Widy lagi. Yang lain pun ikut mengucapkan terima kasih karena hari ini mereka dapat traktiran yang nilainya tidak sedikit.
Tante Lin senang melihat adegan tersebut. Ia tersenyum dan membujuk Titan untuk lepas dari gendongan Wendy. Mereka lalu masuk ke mobil karena suaminya sudah menunggu di belakang setir. Lambaian tangan mengiringi perpisahan mereka.
Wendy, Sari, dan anak-anaknya juga meneruskan perjalanan untuk pulang ke rumahnya.
"Tante Lin sama Om Bakri baik bangat ya," ujar Tiara ketika mereka sudah tiba di rumah. Ia membongkar barang-barang yang sudah dibeli dan sebentar-sebentar ia berlari ke kamar untuk mencoba baju barunya dan keluar lagi untuk memamerkan kepada kedua orang tuanya dan saudaranya.
"Namanya juga orang kaya, wajar dong," sahut Tasya.
"Iya, nih perhiasan emas satu set juga dibelikan Tante Lin buat Mama," kata Sari. Ia menyodorkan kalung tersebut kepada Wendy untuk dipasangankan pada lehernya. Sementara gelang dan cincin serta anting-antingnya, dia yang pasang sendiri.
Sari berjalan ke arah cermin dan melihat dirinya yang sudah berubah karena adanya perhiasan emas yang lengkap melekat pada tubuhnya. Wendy ikut melihat istrinya dan tersenyum karena Sari tampak cantik dengan perhiasan tersebut.
__ADS_1
Wendy semakin mendekat dan berdecak kagum lalu membantu istrinya untuk membuka kalung yang bergantung di leher yang mulus dan menggoda itu. Wendy tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia mencium leher istrinya dengan lembut membuat Sari bergelinjang manja.
"Ihh, jorok, Mama belum mandi nih, tadi keringatan bangat," kata Sari karena ia merasa sangat geli.
"Gimana kalau kita mandi bareng, baru...," Wendy tidak meneruskan perkatannya tapi ia tersenyum dengan tatapan penuh arti.
Wendy menarik tangan istrinya dan keduanya masuk ke kamar mandi. Bunyi air dari kran memenuhi seluruh ruangan kamar mandi. Aktifitas keduanya pun tak terdengar ke luar. Waktu sudah berlalu sekitar empat puluh menit tapi keduanya belum selesai juga mandi. Rupanya mereka melakukan pemanasan dan suara ******* dari mulut terkalahkan oleh suara air dari kran.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tampaklah Sari berada dalam gendongan suaminya dengan rambut yang masih basah. Permainan belum selesai. Wendy mendudukkan istrinya di kursi dan mengambil alat pengering untuk mengeringkan rambut istrinya sambil sesekali tangannya usil dan menyentil bagian-bagian tubuh milik istrinya yang sensitif.
Rasa lelah yang tadi dirasakan usai berbelanja kini hilang seketika tergantikan oleh rasa yang tidak bisa dijabarkan. Rasa itu seolah sudah meletup-letup dalam kalbu dan ingin segera mendapat kehangatan yang luar biasa.
Kini rambut Sari sudah kering dan Wendy malah masih manahan tubuh yang sudah membuatnya mabuk berkali-kali itu tetap pada posisi duduk. Sari pun pasrah dan menikmati setiap perlakuan suaminya. Namun tanpa sadar tangannya juga tak mau tinggal diam membuat Wendy mengeluarkan suara erangan halus. Setelah puas dengan posisi tersebut, ia pun kembali menggendong istrinya yang masih tanpa busana dan membaringkan di atas kasur empuk yang baru dibeli minggu lalu.
Sepertinya Wendy tak pernah bosan dengan tubuh molek milik istrinya ini. Ia masih terus memanjakan dirinya dengan berbagai gaya yang membuat Sari menggeliat seperti cacing kepanasan. Wendy semakin gencar karena ia tahu bahwa istrinya sangat menikmati permainan kali ini.
"Saya sudah tidak tahan lagi Mas," ucap Sari setengah berbisik.
"Sabar sayang, biarlah malam ini menjadi malam yang panjang buat kita." sahut Wendy sambil mengelus-elus kepala istrinya dengan lembut.
"Tapi Mas... "
"Oke sayang,"
Dengan semangat Wendy menuntaskan permainan malam itu dan tampaklah senyum kepuasan pada wajah keduanya.
__ADS_1