
Sari merasa kesepian di sekolah. Sudah tiga hari ini sahabatnya tidak masuk karena ibunya sedang dirawat di rumah sakit.
Pada jam istirahat, Sari menghabiskan waktunya di dalam ruangan guru. Biasanya pada jam begini ia bersama Rani selalu ke kantin dan di sana keduanya akan berbagi cerita.
Sari mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan mencoba menghubungi sahabatnya.
"Halo!" sapanya dengan riang karena Rani langsung mengangkat teleponnya.
"Halo juga!" jawab Rani dari sambungan telepon.
"Bagaimana kabar ibumu?"
"Kata dokter, mungkin besok sudah diperbolehkan pulang dan perawatannya akan dilanjutkan di rumah,"
"Syukurlah kalau begitu. Semoga lekas sembuh!"
"Amin, terima kasih!"
"Sama-sama,"
Sari lalu mengakhiri pembicaraannya di telepon.
***
Wajah Sari sangat muram sejak ia pulang dari sekolah swasta tempat ia mengajar. Jam mengajar nya dikurangi sehingga sisa enam jam per minggu karena ada guru baru yang datang ke sekolah tersebut dan berstatus sebagai seorang PNS.
Wendy bertanya-tanya dalam hati, "Mungkinkah apa yang pernah ia lakukan bersama Tante Lin sudah diketahui oleh Sari?" Wendi tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai hal itu terbongkar. Rasa takut menyelimutinya membuat ia merasa ngeri.
"Ada apa, Dek?" tanya Wendi sambil mendekati istrinya yang duduk tanpa semangat.
Dengan sedih Sari menceritakan apa yang sedang dialami di sekolah. Mendengar penuturan dari istrinya membuat hati Wendi jadi lega.
__ADS_1
"Ohh, itu masalahnya, nggak usah sedih deh! Mulai sekarang kamu nggak usah ke sekolah itu lagi, fokus aja di satu sekolah biar kamu punya waktu juga di rumah!"
"Tapi... ," Sari ragu untuk melanjutkan apa yang sedang ia pikirkan, namun Wendy mengerti jalan pikiran istrinya.
"Pasti soal penghasilan yang kamu sedang pikirkan iya kan?"
Sari tak bersuara tapi ia menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya. Bagaimana ia tidak pusing, seper dua dari penghasilannya selama ini akan hilang, lalu dari mana ia harus mendapatkan biaya untuk menutupi segala kebutuhan yang ada.
Mau bertahan di sekolah itu juga rasanya nggak mungkin karena hanya akan buang-buang waktu dan tenaga saja. Jadi benar juga pendapat Wendy agar ia mengundurkan diri.
"Jadi, gimana rencana kamu selanjutnya?" tanya Wendy lagi.
"Saya akan mengundurkan diri aja," sahut Sari setelah beberapa saat terdiam memikirkan secara matang-matang tentang keputusannya.
"Nah, gitu dong!" ucap Wendi dengan senang. Ia merangkul istrinya dengan hangat dan mengecup pucuk kepalanya.
"Terima kasih, Mas!"
Sari diam seribu bahasa. Di satu sisi ia merasa kasihan kepada suaminya namun di sisi lain, hatinya masih terluka. Namun haruskah kehidupan rumah tangganya akan terus seperti ini? Sampai kapan?
Wendy mengambil semua uang yang ia simpan di lemari dan meletakkan di meja dan berharap Sari akan menerimanya. Sebagian dari uang tersebut sudah ia simpan di BANK.
"Tolonglah, Dek... kalau masih cinta sama Mas, ambillah uang ini dan silahkan diatur!" pintah Wendy dengan serius.
"Baiklah, tapi uangnya Mas aja yang simpan. Nanti saya akan minta jika mau belanja," sahut Sari.
Tampak Wendy kecewa mendengar jawaban Sari, namun ia tak mau memaksanya. Akhirnya ia mengambil uang itu kembali dan menyimpan di tempat semula kemudian berlalu tanpa sepata kata.
Wendy mengambil kunci motor yang tergantung di di dinding dan keluar dengan tergesa. Tidak lama kemudian terdengar suara motor yang kencang hingga memekakkan telinga.
Sari tahu bahwa suaminya pergi karena kesal namun berbicara soal uang memang sangat sensitif sehingga ia tidak mau menerima dengan begitu saja tawaran dari Wendy. Apalagi saat ini ia sudah kehilangan sebagian pekerjaan. Itu artinya penghasilan juga akan berkurang. Sementara selama ini gaji Wendy kadang hanya bisa menutupi kebutuhan dapur sampai minggu ketiga. Mengenai penghasilan tambahan yang sudah ada, Sari tidak mau terlalu berharap karena hasilnya itu tidak akan diterima setiap bulannya.
__ADS_1
Serbah salah. Itulah yang dirasakan oleh Sari saat ini. Ia bingung harus berbuat apa. Ia ingat pesan dari mertuanya agar melayani suaminya dengan baik agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sari berdoa dalam hati, minta petunjuk kepada Tuhan agar semuanya akan baik-baik saja. Setelah berdoa dan merasa agak tenang sedikit ia beranjak dari tempatnya untuk melakukan pekerjaan di dapur.
"Ma, malam ini kita mau makan dengan lauk apa?" tanya Tasya ketika melihat ibunya menuju dapur.
"Keluarkan itu daging dari frizeer!" sahut Sari memberi perintah kepada Tasya.
Dengan patuh Tasya melaksanakan perintah mamanya. Ia mengambil daging ayam yang sudah membeku dari kulkas lalu merendamnya dalam air.
"Kamu tahu, tadi Ayah ke mana?" tanya Sari kepada Tasya.
"Nggak, Ma, tadi Ayah sangat buru-buru pergi," jawab Tasya dengan polos.
Sari melanjutkan pekerjaan dengan pikiran yang berkecamuk.
Hingga malam hari Wendy tak kunjung juga pulang ke rumah. Entah mengapa perasaan Sari sangat tidak enak. Tidak seperti yang lalu-lalu, ketika suaminya keluar rumah, ia tidak terlalu khawatir.
Sebentar-sebentar Sari menoleh ke arah jalanan dan berharap suaminya akan segera muncul namun hingga tengah malam Wendy belum juga menampakkan batang hidungnya, akhirnya Sari tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Ia tertidur di sofa.
Kira-kira pukul 03.00 dini hari, Sari kaget mendengar pintu digedor-gedor dengan kasar. Dengan cepat ia bangun untuk membuka pintu dan di balik pintu tersebut Wendy berdiri dengan semproyongan, bau minuman keras tercium dari mulutnya. Rupanya ia sedang mabuk berat.
Dengan tubuh terhuyung-huyung ia berjalan masuk ke rumah. Sari berusaha untuk membantu menuntunnya jalan tapi malah tubuhnya yang terhuyung karena dorongan kasar dari suaminya.
Sari hampir terjembab ke lantai tapi ia masih sempat berpegangan di sofa sehingga tidak terjatuh.
Wendy menjatuhkan tubuhnya di lantai ketika tiba di ruang tengah. Kebetulan di situ ada karpet yang terbuka dan biasanya digunakan saat sedang santai sambil nonton TV.
Dengan perasaan sedikit ragu Sari mendekati dan ternyata Wendy langsung tertidur. Mungkin pengaruh dari minuman keras yang membuatnya cepat terlelap. Sari mengambil selimut di kamar dan menutupi tubuh suaminya kemudian ia pun masuk ke kamar untuk melanjutkan tidurnya yang sudah terganggu namun sudah satu jam ia membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur tetapi ia sudah sulit untuk tertidur kembali.
Pikirannya sedang kacau mengingat apa yang baru saja ia saksikan. Wemdy sudah berani berbuat kasar kepadanya.
__ADS_1