
Hari ini Rani berangkat ke sekolah dengan wajah yang ceria. Senyum tak lepas dari bibirnya yang mungil. Pengalaman semalam membuat hatinya berbunga-bunga.
Pagi tadi Dimas membangunkan dengan cara yang sangat romantis. Ada rasa bahagia yang menyusup ke relung hatinya menambah semangat untuk melakukan aktifitas hari ini.
"Cie, cie..., ada yang keramas pagi-pagi," goda Sari yang mendapati Rani sudah datang lebih awal dan sedang senyum-senyum di ruang guru.
"Ahhh, kamu tahu aja," ujar Rani dengan wajah berseri-seri.
Keduanya mengobrol sambil menunggu dimulainya jam pelajaran. Sari juga menyampaikan tentang rencana untuk pergi rekreasi minggu depan dan sekaligus mengajak Rani untuk ikut serta bersama dengan keluarganya.
Dengan senang hati, Rani menerima tawaran sahabatnya. Secara kebetulan, saat-saat ini ia sangat membutuhkan waktu untuk refresing setelah melewati berbagai pergumulan yang menimpa rumah tangganya, termasuk kesibukan mengurus ibunya yang sakit.
"Jadi, kapan kita berangkat?" tanya Rani dengan semangat.
"Hari sabtu yang akan datang dan rencana kita akan menginap di sana selama tiga hari," jawab Sari.
"Sepertinya saya sudah tidak sabar untuk menunggu lagi sampai hari sabtu," ujar Rani sambil tertawa.
"Sama dong, malah saya sudah mengemas pakaian saking tidak sabar ingin segera bersenang- senang di tempat wisata yang baru beberapa bulan ini dibuka untuk masyarakat umum," tutur Sari sambil membayangkan suasana tempat wisata yang akan dituju. Ia belum sempat ke sana sehingga wajarlah jika rasa penasarannya membuat ia tidak sabar. Informasi tentang tempat wisata tersebut hanya didengar dari beberapa rekan kerja suaminya yang pernah datang ke rumah dan bercerita tentang pengalaman mereka saat mengadakan liburan di sana.
"Ting, ting, ting!" suara bel tanda kegiatan belajar- mengajar segera dimulai. Sari dan Rani bangkit dari duduknya dan mengambil segala peralatan yang akan digunakan untuk mengajar lalu menuju ke kelas.
***
Hari ini Sari pulang dari sekolah lebih awal karena jadwal untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yang ia ajarkan sudah selesai dan tidak ada lagi untuk jam terakhir.
__ADS_1
Tiba di rumah ia ikut membantu Bi Ela menyiapkan makan siang untuk seisi keluarganya. Tak lupa ia menggoreng tempe dan tahu, makanan kesukaan anak-anaknya. Meskipun ada daging atau ikan tapi akhir-akhir ini ketiga anaknya lebih doyan makan tempe goreng dan tahu sambal.
Sari adalah seorang ibu yang sangat memperhatikan kebutuhan perut seisi keluarganya dengan makanan yang sehat sehingga penggunaan penyedap rasa pun hanya seadanya. Ia lebih suka mengolah makanan yang segar dibanding dengan makanan instan yang banyak mengandung pengawet dan tentunya sangat berbahaya untuk kesehatan.
Sari dan Bi Ela tidak merasa capek dan bosan bekerja di dapur karena keduanya bekerja sambil bercerita. Bi Ela banyak menceritakan pengalaman-pengalamannya yang lucu membuat suara tawa sekali-kali terdengar. Sari sudah menganggap Bi Ela sebagai sahabatnya, bahkan tak jarang mereka sering berbagi pengalaman tentang ilmu untuk mempertahankan rumah tangga agar tetap akur.
"Apa Bibi juga pernah bertengkar dengan sang suami?" tanya Sari sambil mengatur makanan di meja makan.
"Iya, bahkan dulu kami pernah hampir bercerai," sahut Bi Ela dengan mimik wajah sedih karena mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan.
"Apa sebabnya Bibi hampir bercerai?" tanya Sari lagi karena penasaran.
Bibi Ela pun duduk di kursi karena semua pekerjaan di dapur sudah selesai. Ia mulai menceritakan perjalanan hidup rumah tangganya yang penuh dengan suka dan duka, namun lebih banyak dukanya dibanding dengan suka. Suami Bi Ela adalah sosok pria yang rasa cemburunya sangat berlebihan. Ruang gerak Bi Ela sangat terbatas karena gerak sedikit atau salah ngomong, maka akan mengundang rasa curiga dan kemarahan suaminya bahkan tak jarang berakhir dengan pertengkaran.
Bi Ela pergi ke rumah orang tuanya dan membawa serta anak-anaknya walaupun waktu itu anak-anaknya sudah bersekolah.
"Trus, berapa lama Bibi tinggal bersama orang tua?" tanya Sari.
"Hampir satu bulan," jawab Bi Ela dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, gara-gara saya, Bibi jadi sedih!"
"Ngggak, kok, Bibi hanya terbawa perasaan,"
Bi Ela pun kembali melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Selama ditinggal sang istri dan anak, suami Bi Ela baru menyadari segala kasalahannya karena apa yang ia tuduhkan kepada istrinya ternyata tidak benar. Waktu itu ia menuduh istrinya berselingkuh dengan kakak ipar, saudaranya sendiri karena menganggap Bi Ela terlalu akrab dengan saudaranya itu pada hal mereka hanya ngomong seperti biasa, namanya juga kakak ipar sedang berkunjung ke rumah, tentunya harus disambut ramah oleh tuan rumah.
Dengan membuang segala rasa gengsi, Pak Geri, suami Bi Ela memberanikan diri untuk menjemput istri dan anaknya. Awalnya Bi Ela menolak, namun setelah melihat kesungguhan suaminya untuk mau berubah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang pernah dilakukan, bahkan suaminya berlutut di depannya sambil menangis dan memohon ampun membuat hati Bi Ela luluh juga.
"Hari itu juga kami kembali ke rumah dan memulai hidup baru," tutur Bi Ela mengakhiri ceritanya.
Sari merenung setelah mendengar penuturan dari Bi Ela. Kini ia sadar bahwa setiap perjalanan rumah tangga seseorang pasti akan mengalami pergumulan, namun semuanya tidak harus berakhir dengan perceraian. Kuncinya adalah harus punya kesabaran dan saling memahami seorang dengan yang lain.
Suara anak-anak sudah ribut di luar. Mereka sudah pulang dari sekolah. Sari beranjak dari duduknya lalu menyambut anak-anaknya di depan pintu.
"Ehhh, wajah kamu kok cemberut? Sudah lapar yah?" tanya Sari kepada anak bungsunya.
"Tuh, Kakak Tiara kasar sekali, Bu! Dia nyenggol sampai-sampai saya hampir jatuh, untung ada Kakak Tasya yang menolongku," keluh Wira dengan wajah memelas. Ia sangat berharap agar ibunya memarahi dan menghukum Tiara, namun Tiara sudah menghilang dari hadapan mereka.
"Yah, sudahlah... nanti ibu beri peringatan agar Kakakmu itu nggak suka iseng dan ganggu kamu lagi." Sari membelai rambut Wira dengan lembut dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
"Haadee... segitu aja, marah," goda Tiara yang sudah berganti pakaian.
"Tiara, nggak baik loh, selalu ganggu Adek!" ucap Sari sambil memberi kode kepada Tiara agar berhenti menggoda adiknya.
Tasya hanya cuek dengan pertengkaran adiknya karena hal ini sudah sering terjadi bahkan tak jarang kalau tidak ada ibu di rumah, Tiara dan Wira akan saling mengejar-ngejar.
Tak lama kemudian Wendi, ayah mereka sudah pulang juga dari kantor. Wira masih sempat melaporkan kelakuan kakaknya kepada sang ayah yang langsung ditanggapi dengan memberi nasihat kepada Tiara.
Kini saatnya untuk makan siang. Mereka makan dengan lahap dan tak lupa Wendi memuji masakan istrinya.
__ADS_1