
Ibu Widy dan Sari tidak langsung pulang ke rumah setelah pulang dari salon. Ibu Widy mengajak anak mantunya ini singgah di sebuah rumah makan. Ketika mereka masuk ke dalam rumah makan tersebut, ada beberapa pasang mata yang mengagumi kecantikan yang dimiliki Sari.
"Anak ibu cantik bangat!" ucap seorang paruh baya yang duduk bersebelahan dengan tempat duduk mereka.
"Terima kasih, Bu!" jawab Ibu Widy dengan senang.
Sari tersenyum malu dan menunduk karena ia menjadi pusat perhatian di rumah makan tersebut. Ibu Widy segera memesan makanan kepada pelayan.
"Tuh, kamu lihat kan? Baru saja sekali ke salon sudah banyak orang-orang yang takjub dengan kecantikanmu, apalagi jika ke depannya sudah rutin," kata Ibu Widy sambil menunggu pesananannya datang.
"Terima kasih, Ma!" ucap Sari dengan tulus.
"Kamu jangan pelit untuk perawatan karena Ibu tahu, sekarang suamimu sudah punya banyak uang. Kemarin ia baru saja menerima hasil penjualan panen di sawah. Biasanya kalau seorang laki-laki yang sudah berduit akan sangat gampang tergoda dengan perempuan lain, karena itu Ibu ingatkan sama kamu agar tetap tampil cantik di hadapan suamimu!" nasihat Ibu Widy.
"Terima kasih, Bu atas perhatiannya!" sahut Sari.
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan sudah tersaji di hadapannya. Keduanya menikmati makanan tersebut dalam diam.
Sari memperhatikan para pengunjung yang baru saja masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sepasang kekasih yang baru saja tiba di tempat itu. Caca datang bersama seorang laki-laki. Namun yang membuat Sari heran karena pria itu bukanlah Fredi tapi sepertinya pria itu tidak asing juga bagi Sari. Ia berusaha mengingat-ingat siapa pria tersebut.
Sari segera menghabiskan makanan di piringnya dan buru-buru mengenakan masker karena ia tidak mau jika Caca melihatnya. Ia juga mengenakan kaca matanya yang sedari tadi ia pasang di kepalanya sebagai penggati bando.
Ibu Widy heran melihat sikap mantunya yang menurutnya sangat aneh.
"Ada apa sih?"
"Saya melihat mantan kekasihnya Wendi, Bu,"
"Mana orangnya?"
__ADS_1
"Tuh, di sana!"
Ibu Widy menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Sari dan ia melihat seorang perempuan seksi yang sebaya dengan Sari sedang bermesraan dengan pasangannya.
"Ibu kenal?"
"Nggak, Wendy nggak pernah cerita kalau dulu ia punya pacar. Yang Ibu tahu, kamulah cinta pertamanya anak saya!"
"Oh, ya!"
"Makanya Ibu sarankan, kamu harus pintar-pintar merawat diri karena kalau saya perhatikan perempuan yang kamu bilang sebagai mantan kekasih suamimu itu sepertinya masuk golongan pelakor karena tampak dari cara dia berpakaian. Atau jangan-jangan pria yang bersamanya sekarang itu adalah suami orang," kata Ibu Widy setengah berbisik.
Sari kembali berusaha untuk mengingat di mana ia pernah melihat laki-laki yang sedang bersama dengan Caca itu tapi ia tidak berhasil sehingga membuat kepalanya sedikit pening. Ditambah lagi dengan saran dari ibu mertua untuk rutin ke salon. Mau pakai uang dari mana? Mau minta sama Wendy, ia juga sudab trauma jika bicara soal uang, walaupun sekarang suaminya sudah punya penghasilan tambahan.
Sekarang Sari baru tahu bahwa uang yang suaminya gunakan kemarin untuk makan di luar adalah hasil dari sawah. Selama ini Wendi tidak pernah menyampaikan bahwa ia menggarap sawah milik orang tuanya.
Caca tidak mengenali Sari karena model rambutnya yang berubah dan ia juga mengenakan masker serta kaca mata. Lagian juga Caca terlalu sibuk bermanja-manja kepada pria yang sedang bersamanya.
"Saya mau makan bakso aja!" kata Wira.
"Terserah kalian mau pesan apa," ucap Pak Dani dengan lembut. Ia sangat bahagia melihat wajah cucu-cucunya yang polos dan ceria.
Wendi turut senang menyaksikan anak-anaknya. Ia berharap suatu saat nanti Sari sudah berubah kembali. Ia sangat merindukan keceriaan istrinya seperti dulu lagi.
Setelah selesai menikmati makanannya, mereka langsung pulang ke rumah. Tidak berselang lama, Ibu Widy dan Sari juga telah tiba. Dengan wajah lelah, Ibu Widy menghempaskan tubuhnya di sofa.
Sari yang baru muncul di pintu merasa kikuk karena semua orang yang ada di ruangan itu menatapnya dengan rasa heran.
"Mama, ini benar Mama kan?" tanya Tiara mendekati mamanya dan merabah rambutnya.
__ADS_1
"Mama sangat cantik!" kata Wira yang turut memuji perubahan mamanya.
Wendi juga bengong melihat Sari. Ia sampai berdiri mematung di tempatnya. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam hati ia sangat mengakui kecantikan yang dimiliki oleh istrinya.
"Terima kasih, Bu! Sari sudah diajak ke salon," ucap Wendy.
"Sama-sama, Nak. Kalau kamu mau istrimu tetap cantik, kamu harus memberikan modal setiap bulan karena cantik itu mahal!" saran Ibu Widy.
"Siap, Bu!" sahut Wendi mantap.
Mungkin karena kelelahan Ibu Widy mengantuk sehingga malam itu mereka menginap di rumah anaknya.
Setelah semua anak-anak juga masuk ke kamar untuk beristirahat, Wendy dan Sari juga segera menuju kamarnya untuk merebahkan diri. Kegiatan hari ini membuat raga merasa lelah namun jiwa mereka merasakan kepuasan tersendiri.
Satu hal juga yang sangat berkesan di hati Sari adalah hubungannya dengan ibu mertua yang sepertinya akan membawa dampak yang positif dalam kehidupannya. Semoga ini adalah awal yang baik bahwa ibu mertua akan menjadi orang tua, teman, dan sekaligus menjadi sahabat.
Wendy juga memikirkan hal yang sama. Ia senang karena Ibunya sudah bisa akrab dengan istrinya. Ia pun melirik ke arah Sari yang berada di sampingnya.
"Kok, menghayal?" tanya Wendy.
"Mmm, nggak, sedang lelah aja," sahut Sari.
Wendy memeluknya dengan hangat dan tak lama kemudian keduanya sudah terlelap dalam buaian mimpi yang indah.
Suara ayam yang berkokok membangunkan Sari di pagi yang masih buta. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan langsung berkutat dengan pekerjaan di dapur. Ia harus menyiapkan sarapan untuk seisi keluarga, apalagi pagi ini ada mertua yang akan ikut sarapan bersama dengan mereka. Tasya dan Tiara juga sudah bangun keduanya segera melaksanakan rutinitas yang sudah dipercayakan oleh orang tuanya kepada mereka.
Setelah itu keduanya membantu sang mama untuk mengatur makanan yang sudah matang. Kurang lebih empat puluh menit, semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Ibu Widy yang baru bangun. Semalam tidurnya sangat nyenyak bahkan sebenarnya ia masih enggan untuk melepaskan selimut tapi bau harum masakan dari dapur terus menggodanya sehingga ia pun segera bangun.
__ADS_1
"Pagi juga Oma!" jawab mereka kompak.