Istri Untuk Ayahku

Istri Untuk Ayahku
Mulai Dekat


__ADS_3

Malam harinya. Setelah selesai makan malam. Arini mengajak Adit, untuk ke ruangan santai. Sedangkan Ziel, sudah di minta Adit untuk segera ke kamar bersama dengan Tiara.


Setelah sampai di ruangan santai tersebut. Arini menatap lekat wajah Adit, sehingga Adit merasa bingung dengan tatapan Ibu nya tersebut.


"Ada apa Ibu menatapku seperti itu? Apakah aku ada salah kepada Ibu?" Tanya Adit kepada Ibu nya.


"Apa keputusan mu besok? Apakah ada salah satu di antara mereka yang mengikuti Sayembara tersebut akan kamu pilih?" Ucap Arini, kepada anaknya tersebut.


"Entahlah Ibu, apakah aku harus menikah lagi? Jujur saja Ibu, aku tidak ada kepikiran untuk menikah lagi. Sayembara ini pun aku setujui hanya untuk Ibu dan juga Ziel.


"Pikirkan dirimu juga Adit! Jika tidak ada Ibu lagi, siapa yang akan merawat kamu dan juga Ziel? Apakah kamu pikir Asisten rumah tangga bisa melakukan kewajibannya di luar pekerjaan mereka? Apakah mereka bisa melayani semua keperluan kamu, jika Ibu tidak ada nanti?" Jelas Arini, yang mulai tersulut emosi.


Sedangkan Adit hanya bisa terdiam, saat sang Ibu tercinta mulai berbicara masalah masa depan dirinya. Padahal Adit tak butuh seseorang yang merawat dirinya. Adit juga tidak butuh seseorang di masa depannya nanti. Adit sudah cukup memiliki Ibu dan juga anak, untuk menemani dirinya dimasa tua nanti.


Namun Adit tidak memikirkan bagaimana dirinya mampu berjuang, tanpa seseorang yang mendukung di saat dirinya terpuruk bahkan terluka nanti.

__ADS_1


"Ibu tidak mau tahu, besok juga kamu harus memberi pilihan! Ingat Adit, kebahagiaan Ziel ada di tanganmu. Urusan hati, bisa tumbuh seiringnya waktu. Jika kamu belajar mencintai perempuan itu. Ucap Arini, yang meninggalkan ruangan tersebut.


"Akhhhhh, kenapa Ibu terkesannya sangat memaksa. Kenapa Ibu tidak mengerti sekali sih, jika mereka semua tidak ada yang benar." Kesal Adit, yang mulat prustasi dengan perintah sang Ibu.


Saat Adit berjalan ingin menuju kamarnya, tiba-tiba Adit melihat kearah pintu kamar Ziel yang masih sedikit terbuka.


Adit mencoba menengok kearah dimana saat itu Ziel yang tertidur diatas lengan Tiara, dan mereka berdua saling berpelukan.


Hal itu membuat Adit merasa senang, melihat antara Asisten rumah tangga nya itu bersama dengan anak nya.


"Tuan, Tuan kenapa berdiri di sana?" Ucap Tiara, kepada Adit.


Adit yang dari tadi ingin masuk ke dalam kamar nya, mengurungkan niatnya karena kamar tersebut bersampingan dengan kamar milik Ziel, yang saat itu Tiara memanggil dirinya.


Adit masuk kedalam kamar tersebut, dan duduk di atas ranjang milik Ziel yang lumayan cukup untuk Dua orang.

__ADS_1


Saat ini jarak antara Adit dengan Tiara cukup dekat, sehingga Adit dengan jelas melihat wajah cantik Tiara, yang biasanya selalu mengikat rambutnya. Namun saat ini rambut Tiara terurai indah. Sehingga Adit dengan leluasa memandang keindahan yang ada di depan matanya ini.


Tiara yang dipandang pun merasa menjadi salah tingkah. Sebab sebelumnya dirinya tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki lain. Apalagi saat ini mereka hanya bertiga di dalam satu ruangan yang tertutup rapat.


Sedangkan Adit juga merasakan hal yang sangat berbeda. Tidak pernah seperti ini sebelumnya berdekatan dengan perempuan. Namun hati dan perasaan Adit tetap kepada Almarhum Istrinya.


Namun saat ini, ada sedikit getaran aneh didalam tubuh Adit.


"Maaf aku mengganggu tidur mu, aku tidak senghaja tadi lewat, dan pintu kamar masih terbuka." Jawab Adit kepada Tiara.


Sebelumnya Adit sangat kaku dan dingin. Namun malam ini entah kenapa sikap dingin itu tiba-tiba mencair saat berhadapan dan saling pandang.


"Saya yang minta maaf Tuan, sudah tertidur di kamar Den Ziel. Maaf Tuan." Ucap Tiara yang tertunduk dan tidak berani memandang wajah Adit saat ini.


"Tidak apa-apa, saya mengerti. Dan saya lihat Ziel juga senang saat bersama dengan kamu. Entah aku bingung, apakah diantara wanita Sayembara itu, bisa bersikap sama seperti kamu atau tidak kepada Ziel." Jelas Adit, yang berterus terang tentang kegelisahannya kepada Tiara.

__ADS_1


Sebab Adit tidak dapat berterus terang kepada Ibunya. Karena Arini hanya mementingkan kebahagiaan Ziel, tapi tidak dengan perasaan Adit.


__ADS_2