Istri Untuk Ayahku

Istri Untuk Ayahku
Ziel Bertemu Dengan Tiara


__ADS_3

Semalam penuh Adit menjaga Tiara walaupun Tiara sempat menolak, untuk dirawat oleh Adit karena menurut Tiara itu sangat tidak sopan sekali.


"Jangan menolak dengan kebaikanku! Jika kamu sakit siapa yang akan membersihkan villa ini?" Tanya Adit kepada Tiara.


"Baiklah tuan kalau memang benar mau nya seperti itu," jawab Tiara.


Sedangkan Adit tersenyum dalam hati. Padahal ini hanya akal-akalan Adi saja. Agar bisa bersama dengan Tiara, Satu Kamar, malam ini.


"terus tuan tidur dimana? masa kita satu kasur," ucap tiara.


"Kalau kamu mau boleh kok aku ikut satu kasur dengan kamu. bukankah kita pernah satu kasur juga bahkan kita tidur dalam keadaan berpelukan saat malam itu," jawab Adit.


Saat mengingat itu muka Tiara menjadi memerah seperti tomat matang. bahkan Tiara tidak dapat melupakan kejadian malam itu. Betapa bodohnya dirinya menyetujui waktu itu namun mengingat kembali keadaan Adit, sehingga tiara tidak merasakan antara malu lagi.


"Kenapa kamu diam Tiara? Apakah kamu merasa malu? Jangan malu Tiara! bahkan aku selalu teringat saat malam itu. Terima kasih sudah mau menjagaku malam itu. Andai saja malam itu tidak ada kamu maka aku tidak tahu bagaimana keadaanku saat ini," tanya Adit, lagi.


Mungkin dengan mengucapkan seperti ini Tiara dapat mengerti apa yang saat ini ada di dalam pikiran dan hati Adit.


Berbeda dengan Adit. Tiara tidak ingin berharap lebih karena dirinya dan Adit sangat berbeda.


berbeda dalam segi materi dan keadaan. Tiara bukanlah siapa-siapa tiara hanya seorang asisten rumah tangga yang mencari nafkah untuk membantu Ibu nya yang sudah tua.


Sedangkan Adit orang terhormat bahkan Adit dikenal berbagai kalangan bisnis. sebab itu Tiara tidak ingin berharap lebih atau bahkan sekedar suka.


"Aku hanya ingin menolong Tuan saat itu, karena aku tidak tega melihat keadaan Tuan seperti itu. tapi maaf Tuan, jika aku lancang tidur di kasur mu saat malam itu," jawab Tiara.


"Tidak apa-apa, bukankah malam itu aku yang meminta? Bukan dirimu yang memulainya terlebih dahulu," ucap Adit, kepada Tiara.


Tidak ingin pembahasan semakin menjauh, tiara mengalihkan pembahasannya kali ini.


"Oh iya Tuan, bagaimana hasil Sayembara waktu itu? Siapa yang Tuan pilih. Apakah Nona Laura?" Tanya Tiara, kepada Adit.


"Tidak ada yang Saya pilih, Saya tidak munyukai mereka semua," jawab Adit.


"Kenapa Tuan," ucap Tiara, yang semakin merasa penasaran.


"Mereka hanya memikirkan apa yang harus mereka lakukan, dan mereka juga hanya peduli kepadaku saja tidak untuk Ziel. Yang aku cari itu perempuan yang sayang kepada Ziel, menganggap Ziel sebagai Anaknya sendiri bukan sebagai Ibu sambung," jawab Adit.


"Maaf Tuan, kalau saya lancang apakah tidak ada salah satu diantara mereka semua yang Tuan inginkan? Tidak mungkin jika tidak ada tuan.


"Kenyataannya memang benar seperti itu, aku hanya terpaksa menyetujui sayembara itu diadakan. Aku tidak ingin Ibu dan juga Ziel merasa kecewa. Namun pada akhirnya, aku memang benar-benar mengecewakan mereka.


"Kasihan sekali Den Ziel, Tuan. Dia pernah bercerita kepada saya, bahwa dia sangat menginginkan Ibu sambung. Dia merasa iri saat melihat teman-temannya yang memiliki keluarga lengkap.


"Tapi aku tidak bisa memaksakan diri ku juga! semua peserta Sayembara itu tidak ada yang benar-benar menginginkan berumah tangga kepadaku," jawab Adit.

__ADS_1


"Maksud Tuan apa? Apakah mereka hanya menginginkan Harta yang Tuan miliki? Maaf Tuan, jika Saya terlalu lancang. Saya tak seharusnya bertanya seperti ini," ucap Tiara.


"Tidak apa-apa, ternyata kamu orangnya Cerewet juga ya, tapi saya suka. Iya, benar sekali apa yang kamu pikirkan. Mereka semua hanya menginginkan Harta yang saya miliki, tidak untuk tujuan pertama. Yaitu, menyayangi dan menjadi Ibu sambung Ziel," jawab Adit.


"Yang sabar Tuan, saya doakan semoga Tuan mendapatkan yang lebih baik dan menerima Tuan apa adanya dengan benar-benar sayang kepada Den Ziel," ucap Tiara, tulus dari hati nya.


"Iya semoga saja apa yang telah kamu ucapkan tadi, akan menjadi doa yang cepat terkabul," jawab Adit.


"Sama-sama Tuan, saya bisa apa selain mendoakan yang terbaik untuk keluarga Tuan," kata Tiara.


"Sudah malam sebaiknya kamu cepat tidur! Semoga besok pagi sakitmu akan segera sembuh," ucap Adit.


"Terima kasih Tuan sudah mau menemani saya malam ini. Oh iya Tuan tidur dimana? dari tadi duduk saja," tanya Tiara, kepada Adit.


"Tidur saja! Saya bisa tidur di mana saja nanti yang penting kamu bisa tidur dengan nyenyak malam ini," jawab Adit, yang meminta Tiara, untuk secepatnya Tidur.


Setelah Adit mengatakan itu. Tiara mulai memejamkan matanya rasa lelah hari ini terbayar saat Adit menemani tidurnya malam ini. Walaupun mereka tidak tidur dalam keadaan satu ranjang lagi. Namun tanpa sadar mereka berdua sama-sama menikmati keadaan seperti ini.


'Semoga suatu saat nanti aku tidak hanya ingin menemani tidurmu saat kita sama-sama sakit, namun kita tidur dalam keadaan sadar dan satu ranjang,' batin Adit.


Setelah beberapa menit akhirnya Tiara,tertidur pulas. Panas tubuh Tiara pun kian menurun.


 Adit tersenyum saat melihat tidur nyenyak Tiara. Biasanya Adit melihat Tiara dari kejauhan. namun malam ini untuk kedua kalinya Adit melihat dengan jelas wajah polos Tiara.


"Kamu sangat cantik Tiara. kenapa tiba-tiba aku merasa nyaman saat bersama dirimu? entah ini perasaan apa. Namun sebelumnya aku tidak pernah merasakan seperti ini walaupun saat itu aku juga pernah berhubungan dengan Istriku. namun perasaan ini sangat berbeda."


"Walaupun usianya masih terbilang sangat muda, dan sangat jauh. Berbeda dengan usiaku. Namun sifat ke Ibu dan dirinya mampu membuat perasaan ini menjadi mencair."


 "Tuhan, jika memang aku harus mencintai sembuhkanlah perasaan ini dengan hati yang tulus. Agar tidak ada kata terpaksa lagi untuk memilih yang terbaik untuk diriku dan juga anakku."


"Tuhan jika memang dia adalah jodohku nanti. letakkanlah diriku di dalam hatinya, dan letakkan lah pula dirinya di hatiku. buatlah dia menerima diriku apa adanya. Jadikanlah dia wanita yang benar-benar menerimaku lahir dan batinnya. Semoga mimpi yang pernah hadir di dalam tidurku, menjadi kenyataan." guman Adit, yang berbicara sendiri, di depan Tiara, yang sudah terlelap Tidur.


Setelah Adit, Berdoa dalam hatinya. Adit mulai memberikan dirinya di lantai yang beralas karpet berbulu-bulu itu. Rasa lelah seharian ini yang terjadi membuat Adit dengan cepat terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya Adit, terbangun lebih dahulu daripada Tiara. Rupanya efek sakit malam tadi membuat Tiara, menjadi susah bangun pagi.


Sebelumnya Tiara, dalam keadaan apapun selalu bangun pagi-pagi sekali. 


Namun saat ini mungkin tubuhnya masih terasa sangat lemas, Adit memahami akan keadaan itu.


Adit berjalan pelan-pelan menuju pintu kamar Tiara. Setelah Adit keluar dari kamar tersebut Adit berpapasan dengan Bi Darmi, Asisten penjaga Villa.


"Pagi Tuan, maaf malam tadi saya tidak menunggu kedatangan Tuan," Sapa Bi Darmi.


"Tidak apa-apa Bi, oh iya Bi, hari ini Tiara, tidak bekerja dulu. sebab malam tadi dia sakit demam tinggi," ucap Adit.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa Tuan, saya mengerti sekali mungkin Neng Tiara sedang kecapean," jawab Bi Darmi.


Setelah berbicara kepada Bi Darmi, Adit segera pergi dan memasuki kamar miliknya yang ada di villa itu. Dengan cepat Adit, berjalan menuju pintu kamar mandi.


 Adit mencoba berendam di bak mandi untuk merilekskan pikiran-pikiran yang terjadi belakangan ini.


Namun lagi enaknya berendam tiba-tiba handphone milik Adit berbunyi pertanda ada seseorang yang sedang menghubungi Adit.


"Mengganggu saja. lagi enak-enaknya mandi kenapa tiba-tiba ada yang mengganggu? siapa sih sepagi ini sudah mengganggu?" kesal Adit.


Saat Adit mengangkat sambungan telepon tiba-tiba ada suara anak kecil yang bersuara "papah… papah… jemput Ziel, papah! Ban mobil Nenek sedang bocor," ucap Ziel, kepada Adit.


"Tunggu disana sebentar! Papah akan segera menjemput kalian.


"Kenapa tiba-tiba Ziel dan Ibu, datang ke Villa. Mengganggu saja," kesal Adit.


Setelah bersiap-siap Adit segera berangkat menggunakan Mobil nya untuk menjemput anak dan ibunya. tidak terlalu jauh jarak dimana Mobil sang Ibu sedang mengalami Bocor Ban.


Mobil Adit, berhenti tepat di samping Mobil sang Ibu, yang mengalami keBocoran itu.


"Papah….," teriak Ziel, merasa sangat senang bisa bertemu dengan Papah nya.


"Bagaimana bisa Ibu hanya mengendarai Mobil berdua dengan Ziel saja? Ini bisa membuat bahaya Ibu," omel Adit, kepada Ibu nya." Yang menurut Adit sangat berbahaya.


"Jangan mengomel disini! Apakah kamu mau Ibu dan Ziel, mati kepanasan," ucap Arini, kepada Adit.   


"Baiklah Ibu, ayo kita cepat pulang."


Saat di perjalanan Ibu Adit bercerita bahwa semalaman penuh Ziel menangis. saat mengetahui bahwa Tiara sedang sakit Demam Tinggi. Sebab karena itu pagi-pagi sekali Arini bersama dengan Ziel berangkat ke kota xxx, untuk menemui Tiara.


Saat mendengar yang dikatakan oleh ibu nya bahwa Ziel sangat sedih mendengar Tiara sedang sakit. Disaat itu pula hati Adit merasa yakin jika perasaannya kali ini tidak mungkin salah.


Setelah beberapa menit akhirnya, Adit, Arini, dan juga Ziel sampai di Villa tersebut.


"Selamat pagi Ibu," sapa Bi Darmi serta suami nya.


"Pagi juga Bi."


"Silahkan masuk Nyonya!" ucap Bi Darmi.


 Setelah Arini masuk, Ziel langsung meminta untuk segera bertemu dengan Tiara.


"Hati-hati Sayang!"  ucap Adit, kepada Ziel yang saat itu sedang berlari-lari.


Setelah pintu terbuka, dan di saat itu pula Tiara terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Bibi TIARA….."


__ADS_2