Istri Untuk Ayahku

Istri Untuk Ayahku
Tiara Setuju


__ADS_3

Tiara merasa Kepalanya sudah lumayan berkurang sakit.


Saat Tiara ingin bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang. Tiba-tiba pintu kamar Tiara terlebar, dan muncullah sosok anak kecil yang sangat Tiara rindukan.


’’Bibi Tiara,’’ panggil Ziel yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Tiara, dan langsung memeluk erat tubuh Tiara.


’’Hai sayang, kapan datang? Nenekmu mana?’’ ucap Tiara kepada Ziel.


’’Nenek ada di luar bibi, kami baru saja sampai di sini,’’ jawab Ziel kepada Tiara.


Di ruang tamu, saat ini adit bersama dengan ibunya duduk bersantai ditemani secangkir kopi dan secangkir lagi teh hangat. Adit bertanya kepada Ibunya apa alasan Tiara, pindah kerja ke Villa ini.


Jawaban Arini, membuat Adit sedikit terkejut. Karena diam-diam ibunya selalu memperhatikan gerak-gerik tatapan Adit kepada Tiara. Walaupun saat itu Adit hanya menganggap Tiara, sebagai asisten rumah tangganya saja. Tidak menganggap lebih bahkan memiliki perasaan yang sangat dalam.


’’Jadi selama ini Ayu menyukaiku? Kenapa Ibu tidak mengatakan itu semua? Bahwa selama ini Ayu selalu mengancam Tiara dan seakan-akan aku mudah ditaklukkannya,’’ ucap Adit kepada ibunya.


’’Ibu sering memergoki saat Ayu memarahi Tiara, namun Ibu tidak ingin dikatakan pilih kasih antara mereka. Sebab itu tanpa alasan ibu pindahkan saja Tiara ke Villa ini tanpa sepengetahuan Ayu,’’ jawab Arini kepada Adit.


’’Memangnya Ibu mengatakan apa kepada semua orang yang ada di rumah,’’ tanya Adit kepada ibunya.


’’ Ibu, mengatakan bahwa Ibu Tiara sedang sakit, dan saat itu pun Tiara yang baru saja keluar dari kamar kamu terkejut saat ibu sudah berada di depan kamar kamu. Awalnya Tiara meminta maaf kepada ibu bahwa itu semua tidak seperti yang Ibu lihat. Tidak ingin mempermasalahkan, saat itu juga Ibu mengatakan bahwa ibunya sedang sakit,’’ jawab Arini yang menjelaskan semuanya kepada Adit.


’’Kenapa Tiara saat itu tidak berpamitan kepadaku?’’ tanya Adit kepada Arini.


’’Ibu hanya memberi perhitungan saja kepada Tiara, berani sekali dia masuk ke dalam kamar seorang duda. Apakah dia tidak takut jika dia dalam keadaan bahaya dan satu kamar dengan seorang laki-laki, yang sudah lama tidak merasakan yang namanya surga dunia,’’ canda Arini kepada adit.


Tiba-tiba dari arah belakang datanglah Tiara bersama dengan Ziel. Tiara yang saat itu terlihat lebih segar karena sudah membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Adit sempat terpaku melihat kecantikan Tiara, yang jarang sekali Adit lihat dengan nampak.


’’Papah- Papah, Bibi Tiara sudah sehat dan Bibi Tiara juga tidak sakit lagi,’’ Celoteh Ziel kepada Ayah nya.


’’Benarkah? Mungkin saja Bibi Tiara nya berbohong, karena kamu gangguin dan kamu ajak bermain,’’ ucap Adit kepada Ziel.


’’Ziel tidak berbohong papah, Bibi Tiara memang benar sudah sembuh, itu karena Ziel, sudah memberikan obat agar Bibi Tiara cepat sembuh,’’ ucap Ziel yang merasa itu semua karena dirinya Tiara jadi sembuh dari sakit.


’’ Ayo sini dulu sama nenek! Apa Ziel senang sudah bertemu dengan Bibi Tiara,’’ tanya hari ini kepada cucunya itu.


’’Senang nenek, kita di sini saja ya tidak pulang ke kota,’’ pinta Ziel kepada Neneknya.


’’Kenapa cucu nenek ini tidak mau pulang ke kota? Di kota lebih seru daripada di sini, di kota juga banyak permainannya, di sini tidak ada,’’ ucap Arini yang menjahili cucu semata wayangnya itu.


"Disini ada Bibi Tiara, kalo di kota tidak ada Nenek," jawab Ziel, kepada Arini.


Adit dan juga Ibu nya, memandang kearah Tiara, yang saat ini tertunduk karena merasa malu dilihat oleh kedua majikannya itu. Namun tiba-tiba, ucapan Ziel, membuat Arini, maupun Adit menjadi terkejut. Saat Ziel berucap.


"Bibi, apakah Bibi tahu? Papah, aku tidak jadi menikahi Nenek Lampir itu. Mereka semua jahat Bibi, mereka mau Papah saja, bukan Ziel yang mereka suka," celoteh Ziel kepada Tiara. Sedangkan Tiara, merasa tidak enak hati, karena takut jika Adit, maupun Arini, akan menduga kalau Tiara, yang mengajari. Padahal bukan sama sekali.

__ADS_1


"Bibi, kan sudah pernah bilang sama Ziel. Kalau mereka punya nama; Tidak boleh memanggil mereka dengan sebutan Nenek Lampir," nasehat Tiara, yang membuat Adit, semakin kagum dengan sikap Tiara, yang tutur katanya sangat lembut saat berbicara kepada Ziel.


"Iya Bibi, Ziel minta maaf," jawab Ziel, dan mengacungkan 2 jari nya, yang kecil mungil itu. Namun itu hanyalah janji seorang bocah kecil, karena nanti nya akan lupa lagi.


Adit dan Tiara, tertawa melihat sikap Ziel, yang banyak bicara kalau bersama dengan Tiara. Namun tawa mereka terhenti lagi menjadi diam dan membisu, setelah mendengar dengan jelas perkataan Ziel, kali ini.


"Bibi, Bibi, mau tidak jadi Mamah Ziel? biar Bibi, bisa menemani Ziel setiap hari,’’ pinta  Ziel kepada Tiara.


Sedangkan Tiara merasa tidak enak kepada adik dan juga Arini, sebab ucapan Ziel terlihat sangat serius sekali.


’’Ziel,’’ tegur Adit kepada anak nya itu. Walaupun sebenarnya Adit juga sedikit merasa senang, namun ini bukan saatnya untuk mengatakan kepada Tiara.


’’kamu serius? Jangan bercanda nenek tidak suka,’’ tanya Arini dengan benar, karena sebelumnya Ziel, tidak pernah meminta secara langsung namun dengan Tiara Kali ini Ziel mengucapkannya dengan terang-terangan.’’


’’Ziel, tidak bercanda nenek! Ziel, mau Bibi Tiara menjadi mamah Ziel, dan juga sayang kepada papah,’’ jawab Ziel dengan tulus.


Arini melihat ke arah Adit, ingin memastikan jawaban apa yang diberikan oleh Adit. Sebab kali ini hari ini tidak ingin ada kata penolakan lagi keluar dari mulut Adit.


Sedangkan Adit merasa sangat bingung dengan keadaan saat ini Namun kali ini adit tidak ingin membuat ibu dan juga anaknya merasa kecewa lagi.


’’Akan aku pikirkan Ibu, mungkin Tiara juga syok dengan permintaan Ziel kali ini, berikan kami berdua waktu untuk membicarakan masalah ini,’’pinta Adit kepada ibunya.


’’Baiklah, bicarakan dengan benar!’’ ucap Arini kepada Adit, dan membawa Zaiel menjauh, untuk memberikan waktu, agar Adit dan Tiara bisa membicarakan masalah ini dari hati-kehati.


Setelah kepergian Arini dan juga Ziel, kini di ruangan itu hanya ada Adit dan juga Tiara. Adit memandang wajah Tiara, yang mungkin merasa masih bingung hingga mereka berdua merasa sama-sama canggung. Hingga beberapa menit mau Adit ataupun Tiara, tidak ada yang saling berbicara hanya ada kebisuan di antara mereka berdua.


’’Maaf Tiara, mungkin permintaan Ziel, terkesan sangat cepat. Namun kali ini aku tidak ingin mengecewakan perasaan Ibu dan juga Ziel. Jika aku yang saat ini meminta dirimu sebagai Mamah nya Ziel, apakah kamu mau mengabulkan permintaannya itu,’’ ucap Adit yang meminta jawabannya kepada Tiara.


’’Apakah aku pantas Tuan? Aku bisa menjadi ibu buat Ziel, tapi apakah aku bisa menjadi Istri yang selalu berbakti kepada Suami? apalagi di antara kita banyak sekali perbedaan yang akan nantinya membuat Tuan merasa malu untuk bersanding kepada diriku ini,’’ ucap Tiara yang berkata dari hatinya yang paling dalam. Sebab Tiara tidak ingin pernikahan ini gagal, karena bagi Tiara pernikahan itu hanya sekali seumur hidupnya.


’’Apa yang membuatmu jadi berpikir seperti itu? Perbedaan apa yang kamu maksud di antara kita berdua? Bukankah kekayaan tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan cinta yang benar-benar tulus dan saling melengkapi satu sama lain,’’ ucap Adit yang berbicara dengan kata-kata dari hatinya paling dalam.


Sebab selama ini Adit tidak pernah, Serius ini kepada seorang perempuan. Adit selalu menahan dirinya agar tidak tertarik kepada yang namanya perempuan. Demi cintanya yang tulus kepada mendiang Istrinya yang sudah tiada. Adit rela Menduda dan menahan segala hasrat yang kian datang saat Adit menginginkannya.


Demi cintanya pula kepada mendiang Istrinya, Adit tidak pernah menyentuh sama sekali yang namanya perempuan. Namun pada malam itu sekuat tenaga Adit sangat membutuhkan pelukan dari Tiara. Hingga saat itu perasaan yang entah dari mana datang secara tiba-tiba.


Adit yang dulunya dingin serta kaku kepada perempuan. namun dapat luluh dengan seorang asisten rumah tangga yang bernama Tiara.


’’Tuan, kita tidak saling mengenal terlalu jauh! Sedangkan yang lebih dari diriku ini selalu Tuan tolak. Dimana letak kesempurnaan diriku ini Tuan? Hingga aku pantas mendapatkan dirimu yang sempurna ini. Bahkan selama ini bermimpi pun rasanya aku tidak pantas apalagi berharap untuk dimiliki oleh Tuan,’’ jawab Tiara.


’’Kamu adalah pilihan dari Anakku, selama ini Ziel tidak pernah meminta setulus ini kepada diriku. Banyak wanita, salah satunya peserta sayembara kemarin, aku tolak di depan Ziel, namun Ziel tidak memintaku dan memaksaku untuk memilih salah satu diantara mereka. Namun saat ini aku melihat dengan nyata Dia meminta diriku untuk menjadikanmu Ibu serta, Ibu untuk anak-anakku nanti.


Saat mendengar Adit berucap seperti itu, apalagi ada sebutan ibu untuk anak-anakku nanti. Hati dan jiwa Tiara terasa bergetar seketika, inilah yang selama ini Tiara, inginkan dari sosok laki-laki yang dikagumi banyak kaum wanita.


’’Tuan benarkah ucapan Anda? Apakah saat nanti Tuan sanggup mengatakan bahwa aku ini adalah Istrimu, di depan banyaknya rekan bisnis dan teman-teman Tuan,’’ punya Tiara kepada Adit.


’’Aku tidak akan pernah malu hanya karena masalah derajat! Bukankah dulunya Istriku juga seorang gadis kampung yang berubah drastis saat dirinya menikah denganku. Jadi buat apa aku akan malu menikahi gadis kampung untuk kedua kalinya. Yang aku inginkan dia benar-benar tulus menyayangi Anakku serta diriku, Dan menganggap ibuku juga sama seperti menganggap Ibumu.’’

__ADS_1


’’Jika memang seperti itu datanglah kepada Ibuku, katakanlah kepada Ibuku bahwa Tuan benar-benar menerimaku apa adanya dan menjagaku layaknya Tuan benar-benar mencintaiku.’’


Dwarrrrrrrrrr….. Bagaikan disambar petir di siang bolong, Tiara mengatakan kata-kata yang selama ini masih Adit ragukan. Apakah cinta itu ada. atau sudah mati dibawa oleh istrinya ke dalam kubur.


Perasaan nyaman itu memang sudah tumbuh di dalam hati Adit, hingga saat mereka berjauhan Adit memang benar-benar sangat merindukan sosok Tiara. Namun pertanyaan kali ini Apakah benar Adit mencintai Tiara, atau hanya saat ini hanya sekedar rasa nyaman dan rasa ingin memiliki.


Namun kali ini Adit tidak ingin membuat ibu dan juga anaknya merasa kecewa. Adit akan mengalahkan egonya dan belajar untuk mencintai Tiara dengan sungguh-sungguh.


’’Baiklah besok kita akan pergi ke kampung ibumu. Dan aku akan meminta restu kepada Ibumu untuk menjadikan dirimu sebagai Istri serta Ibu sambung Untuk Anakku,’’ ucap Adit kepada Tiara dengan sungguh-sungguh.


’’Terima kasih Tuhan untuk pengertiannya,’’ jawab Tiara.


’’Aku yang seharusnya berterima kasih kepada dirimu, sebab kamu sangat baik kepada Anakku dan aku dapat melihat itu dengan nyata tidak hanya sekedar pura-pura,’’ ucap Adit, dengan tersenyum yang selama ini belum pernah Tiara lihat sebelumnya.


Namun tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat Ziel datang menghampiri mereka berdua.


’’Papah, Papah, apakah Bibi Tiara, mau jadi Mamah nya Ziel?’’ Tanya Ziel kepada Ayah nya.


’’Coba tanya dulu kepada Bibi Tiara, Apakah mau jadi mamahnya Ziel? Takutnya dari tadi Bibi Tiara menolak untuk menikah dengan papah,’’ ucap Adit yang mencoba untuk mengerjai anak nya itu.


’’Tuan jangan bercanda seperti itu kepada anaknya! Coba lihat Tuan mukanya sudah terlihat sangat sedih,’’ ucap Tiara kepada Adit, yang menasehati agar jangan selalu mengusili Ziel.


’’Katanya mau menjadi mamanya Ziel! Terus kenapa masih memanggil ku dengan sebutan Tuan? Ingat aku ini calon suamimu bukan majikanmu lagi,’’ Jawab Adit yang memperingati kembali Tiara.


’’Terus aku harus memanggil Tuan apa? aku merasa tidak sopan kepadamu tuan,’’ ucap Tiara kepada Adit.


’’Panggil saja aku Mas! terdengarnya itu lebih sopan daripada Tuan,’’ bisik Adit, di Telinga Tiara, yang membuat Tiara merasa panas dingin. Karena ini pertama kalinya Tiara merasakan hembusan nafas Adit yang sangat dekat dalam keadaan sama-sama sadar.


’’Papah, Bibi, kenapa kalian jadi mendiamkan aku?’’ protes Ziel kepada Ayah nya.


’’Iya Bibi Tiara mau jadi mamah nya Ziel,tapi Ziel  harus janji tidak boleh nakal kepada Bibi Tiara,’’ ucap Adit yang menasehati anaknya itu.


’’Aku janji Bibi, tidak akan menjadi anak nakal, karena aku ingin memiliki Mamah seperti teman-teman aku,’’ jawab Ziel dengan meneteskan air matanya di pipi mulus itu.


’’Jangan menangis sayang! Bibi tidak akan memukulmu walaupun Ziel salah,’’ ucap Tiara yang langsung memeluk erat tubuh mungil Ziel.


Hal itu membuat perasaan Adit, terharu. Karena melihat kedekatan Tiara dan Ziel, layaknya seperti seorang Ibu dan Anak, bukan Ibu sambung dan Anak tiri.


Dari kejauhan Arini yang melihat kedekatan mereka berTiga. Berdoa didalam hati nya, semoga keluarga kecil anak nya, menjadi keluarga yang bahagia, sampai ajal memisahkan.


***


Di Lain tempat, seorang perempuan yang sangat marah dan berteriak-teriak, karena dalam Sayembara itu, dirinya ditolak, bahkan tidak dilirik sama sekali.


'Kamu akan menyesal Adit! hidupmu tidak akan pernah merasakan yang namanya ketenangan, jika berani-beraninya menolak diri ku. Dan kamu akan merasakan sakit yang bertubi-tubi,' batin Laura, yang sangat marah, karena dirinya dinyatakan ditolak.


Walaupun awalnya Sayembara itu, hanya niat untuk membantu menyelamatkan perusahaan kedua orang tua nya, namun diam-diam Laura juga memiliki perasaan kepada Adit. Namun sikapnya tidak menunjukan menyukai Ziel. Karena Laura hanya menyukai Adit tidak berlaku kepada Ziel.

__ADS_1


                                                                                                                                                                                                                                                                                    


__ADS_2