
"Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, katakan saja padaku! Aku ini suamimu, sudah seharusnya apa yang kamu rasakan berbagilah padaku," ucap Adit kepada Tiara.
Sedangkan Tiara, merasa sangat bersalah karena merahasiakan ini semua kepada Adit. Namun jika Tiara mengatakan, takutnya Adit akan menolong Tina. Karena saat ini Tina sedang berada di kota.
"Maafkan aku Mas, aku tidak mengatakannya kepada Mas. Aku tadi melihat kak Tina, sedang berada di kota ini," jawab Tiara yang menundukan kepalanya.
Adit sedikit merasa terkejut, karena Tiara merahasiakan itu semua kepada dirinya. "Apa yang dia sembunyikan? Kenapa Tiara, jadi bersikap tidak peduli?" Batin Adit.
"Kalo kamu melihat kakakmu, kenapa tidak disapa? Kenapa kamu memilih untuk pergi dan menghindar?" Tanya Adit, kepada Tiara, yang saat ini masih di dalam pelukannya tanpa sehelai benang.
"Maaf Mas, aku sudah merasa lelah dengan keadaan. dari dulu aku tidak pernah merasa bahagia, sebab kak Tina selalu merebut apa yang menjadi milikku. Aku tidak pernah melawan karena dia adalah kakak satu-satunya bagi diriku. namun saat ini aku merasa takut jika apa yang aku punya itu akan direbut kembali oleh Kak Tina," jawab Tiara kepada Adit.
"Apa yang kamu punya saat ini? Kenapa kamu merasa takut itu terjadi? Bukankah semua yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan. Sebab itu kita tidak perlu merasa takut karena kita memiliki Tuhan, yang selalu ada saat kita merasa kesusahan," jelas Adit yang membuat Tiara sedikit merasa tenang.
"Terima kasih mas sudah mau mengerti aku, entah kenapa firasat ku merasa tidak baik saat melihat kak Tina berada di kota ini," jawab Tiara.
"Itu perasaanmu saja. mungkin rasa takutmu melebihi nalurimu yang terdalam," jawab Adit.
__ADS_1
Keesokan harinya Adit, mulai masuk ke kantor lagi. Sebelum itu Adit merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan.
Dari bangun pagi Tiara, sudah menyiapkan air hangat untuk dirinya mandi, tidak hanya itu saja Tiara juga menyiapkan kemeja, serta keperluan kantor. Semuanya selesai, Adit dibuat merasa bahagia saat menuju meja makan. Tiara sudah berada di sana dengan menu makanan yang terhidang sangat lezat.
"Terima kasih sayang, untuk hari ini. Jaga diri baik-baik nanti aku akan pulang cepat," ucap Adit kepada Tiara.
"Iya Mas, aku tunggu kedatangannya," jawab Tiara.
Setelah itu Adit melajukan mobilnya untuk segera menuju ke kantor. sudah seminggu ini Adit tidak melihat keadaan kantor hanya melalui kabar dari Evan.
"Evan bagaimana semuanya? Apakah aman-aman saja," tanya Adit kepada Evan.
"Semuanya aman bos, tidak ada yang harus dikhawatirkan," jawab Evan.
"Baiklah terima kasih untuk beberapa hari ini," ucap Adit.
"Itu sudah menjadi kewajiban saya bos," jawab Evan.
__ADS_1
Setelah itu Adit, mulai bekerja dan menyelesaikan pekerjaan yang beberapa hari sudah Adit tinggalkan. Udah jam makan siang Adit mulai berhenti untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun tidak lama setelah itu handphone Adit berbunyi pertanda ada seseorang yang di seberang sana menghubungi Adit.
"Assalamualaikum Bu, ada apa?" Tanya Adit kepada ibunya.
"Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu Dit? Apakah semuanya baik-baik saja," tanya Arini kepada Adit
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja ibu, bagaimana kabar ibu dan juga Ziel? Aku sudah sangat merindukan Ziel. akhir pekan Aku akan pergi kesana untuk menemui Ziel dan juga Ibu," jawab Adit.
"Kabar Ibu dan juga Ziel, sangat baik.
Bagaimana dengan Tiara? Apakah pernikahan kalian baik-baik saja, tanpa ada keterpaksaan," tanya Arini yang ingin mengetahui hubungan anaknya yang sebenarnya.
"Ibu tenang saja, semuanya baik-baik saja. aku juga sudah menerima keberadaan Tiara. Perlahan namun pasti, aku sudah sedikit melupakan almarhum istriku," jawab Adit.
"Ibu sangat senang mendengarnya, ini adalah kabar bahagia, ingat secepatnya kasih Ibu cucu," pinta Arini.
"Iya Ibu secepatnya akan aku usahakan," jawab Adit.
__ADS_1